Tips Terbaik Investasi – Baru Beli Sudah Untung

adsense

“Tips investasi terbaik tersebut dirangkum dalam satu kalimat sederhana yaitu “Baru beli sudah untung”

Sang pembicara mengajarkan bahwa banyak orang yang sulit membedakan antara investasi dengan spekulasi. Jika membeli dan berharap harga akan naik di masa mendatang maka ini sebenarnya adalah spekulasi. Tetapi jika anda sudah tahu keuntungan yang pasti anda dapatkan ketika anda baru membeli sebuah produk investasi maka ini barulah berinvestasi yang benar.

Karena dia hobi berinvestasi didalam property fisik maka dia memberikan berbagai kisah sukses dia. Bagaimana dia mendapatkan sebuah ruko seharga 1 Miliar padahal harga ruko sejenis di sekelilingnya sudah 2 miliar. Kita akan bertanya – tanya orang bego mana yang menjual ruko seharga 2 miliar seharga 1 miliar?

Ternyata sang penjual adalah orang yang hobi membeli property, dulu dia membeli di harga 900 juta dan karena butuh uang dia merasa sudah cukup dengan keuntungan 100 juta. Penjual tersebut tidak tahu bahwa area ruko tersebut sudah ramai dan harganya sudah naik begitu tinggi.

Ini adalah contoh dari konsep baru beli sudah untung. Sebuah konsep yang mudah diterima logika tetapi sulit dipercaya untuk ditemukan. Ini adalah pemikiran skeptis yang jujur juga terjadi kepada saya.

Kisah Laporan Keuangan Yang Membuat Salah Tafsir

Apakah konsep baru beli sudah untung ini bisa digunakan pada saham? Saya pertama kali mencoba membaca buku the intelligent investor pada tahun 2008. Tetapi karena pada tahun itu pengetahuan saya masih sangat terbatas maka saya tidak mengerti isi buku tersebut.

Saya masih sulit memahami apa yang dimaksud dengan konsep saham salah harga. Misalkan saja saya menghitung nilai wajar perusahaan dan menemukan perusahaan yang dijual dibawah nilai wajar tersebut, apakah saya pasti untung? Apakah itu yang dimaksud dengan konsep saham salah harga?

- Advertisement -

Akhirnya saya mencoba melakukan analisa laporan keuangan pertama saya pada tahun 2012. Lalu saya mencoba melakukan analisa laporan keuangan dan juga menghitung nilai wajar. Alhasil saya mengalami kerugian besar. Bisa jadi saya masih terlalu payah saat itu dalam melakukan perhitungan nilai wajar ataupun sulitnya melakukan analisa fundamental saat itu. Tetapi hal tersebut membuat saya skeptis dengan analisa fundamental. Sehingga saya kembali melanjutkan menjadi sebagai seorang trader kembali.

Sampai pada akhirnya saya belajar kembali tentang value investing dan memutuskan untuk mengganti haluan dari seorang trader menjadi value investor. Saat itu barulah saya mengerti betapa menyeramkannya melakukan analisa laporan keuangan. Bagaimana laporan keuangan bisa membuat orang mudah salah tafsir dan terlalu cepat dalam mengambil kesimpulan.

Saya tidak akan menyebutkan kode perusahaan apa yang saya maksud. Perusahaan ini selama 10 tahun terakhir selalu berhasil menghasilkan laba bersih diatas 23%. Perusahaan ini masih bisa meningkatkan angka salesnya. Apakah perusahaan ini terdengar sebagai perusahaan bagus di telinga anda?

Yang unik perusahaan sangat bagus ini 3 tahun terakhir memiliki cashflow operation negatif yang cukup besar. Bahkan lebih besar dari laba yang dihasilkan oleh perusahaan tersebut.

Sesuatu yang cukup ironis jika perusahaan yang konsisten menghasilkan laba bersih setinggi itu bisa memiliki cashflow operation negatif terus menerus dalam jumlah yang besar.

Kisah Laporan Keuangan Yang Membantu Anda Menemukan Harta Karun

Apa yang membedakan harta karun dengan barang yang dijual di pasar? Harta karun menjadi bernilai karena benda itu sulit ditemukan sedangkan barang jualan di pasar harga bisa kita tawar karena mudah ditemukan.

Untuk menemukan harta karun maka biasanya treasure hunter membutuhkan yang namanya peta harta karun. Laporan keuangan dan data historis lainnya adalah peta harta karun yang bisa kita gunakan untuk menemukan harta karun di pasar modal.

Anda bisa menemukan perusahaan yang memiliki growth luar biasa seperti SIDO karena melihat data dari laporan keuangan.

Anda bisa menemukan perusahaan yang punya nilai fixed asset berkali-kali lipat dibandingkan market capitalization perusahaan tersebut seperti halnya MMLP karena melihat data dari laporan keuangan.

Anda bisa menemukan perusahaan yang punya dividen yield jauh diatas suku bunga deposito padahal bisnisnya lagi dalam periode sulit seperti halnya ITMG karena melihat data dari laporan keuangan.

Anda bisa menemukan perusahaan yang punya cash diatas market capitalization dan perusahaan masih bisa memberikan keuntungan setiap tahun dan hutangnya kecil seperti halnya HRUM karena melihat data dari laporan keuangan.

Mencari harta karun di bursa saham tidak sesulit mencari harta karun bajak laut. Karena kita semua bisa akses ke peta harta karun yang kita butuhkan yaitu laporan keuangan. Tetapi seperti halnya peta harta karun ada yang informasinya jelas dan ada yang informasinya “bersayap”. Itulah hal yang menarik dari mencari saham yang bagus.

Kisah Saya Memutuskan Untuk Membeli IPCC

Awal april 2020 ini saya ada mengirimkan satu bab tulisan saya tentang screening saham ke salah satu pembicara yang juga pengajar di salah satu universitas di Jakarta. Pembicara itu ingin menjelaskan screening saham yang digunakan oleh value investor. Lalu dia menghubungi saya dan meminta ijin apakah dia boleh mengambil tulisan saya tentang screening saham kedalam slide presentasi dia atau tidak.

Baca juga : Screening Saham Ala Value Investor

Karena itu tulisan lama saya, sedangkan saya ada beberapa penambahan parameter lain maka saya berikan satu bab tulisan saya yang menjelaskan tentang screening saham. Itu adalah kisah saya ketika menemukan IPCC dan PJAA.

Parameter Screening Saham Value Investor - Thowilz
Parameter Screening Saham Value Investor – Thowilz

Judul bab tersebut sama persis dengan intisari tulisan ini “Baru Beli Sudah Untung.” By the way tulisan ini belum bisa didapatkan dimana – mana karena ketika tulisan ini sudah selesai dibuat IPCC sudah naik tinggi sedangkan saya belum dapatkan penerbitnya.

Baru Beli Sudah Untung
Baru Beli Sudah Untung

Tapi mari saya jelaskan parameter luar biasa kejam yang saya gunakan untuk screening saham yang saya yakin untung.

Parameter Kejam Screening Saham Saya

Ketika saya membeli IPCC, perusahaan ini memenuhi semua kriteria screening yang saya berikan, yaitu:

Analisa Valuasi

  • Perusahaan ini memiliki PER <10
  • Perusahaan ini memiliki PBV <1
  • Perusahaan ini memiliki dividen yield minimal 10% dari market cap saat saya lakukan screening.
  • Perusahaan ini memiliki cash >=50% dari nilai market cap perusahaan.
  • Perusahaan ini memiliki fixed asset >=50% dari nilai market cap perusahaan.
  • Perusahaan ini memiliki EV to EBIT <=10

Analisa Hutang

  • Perusahaan ini memiliki current ratio >1
  • Perusahaan ini memiliki quick ratio >1
  • Perusahaan ini memiliki DER <1

Analisa Cashflow

  • Perusahaan ini memiliki Cashflow Operations positif

Analisa Profitabilitas

  • Perusahaan ini memiliki net profit >10%
  • Perusahaan ini memiliki gross profit >20%
  • Perusahaan ini memiliki ROE >10%

Kenapa Saya Yakin IPCC Pasti Untung Saat Itu

Saya saat itu akhirnya membeli IPCC di harga 292 atau setara dengan market cap senilai 580 miliar rupiah saat itu.

Perusahaan dengan nilai 580 miliar ini memiliki cash senilai 420 miliar dan fixed asset senilai 340 miliar rupiah. Perusahaan ini juga bisa menghasilkan operating cashflow positif senilai 63 miliar rupiah.

- Advertisement -

Perusahaan ini bisa menghasilkan laba bersih 27% di tahun lalu, memiliki current ratio 7x dan DER senilai 0,01 sehingga tingkat risiko hutang sangat kecil. Pada tahun 2019 perusahaan ini membagi dividen 2x dengan nilai dividen 34.87 dan 56.15 atau total dividen senilai 91.02 pada tahun 2019. Tentu saya pribadi tidak berekspektasi di tahun 2020 perusahaan itu memberikan saya dividen sebesar itu lagi.

Jika anda menjadi saya saat mengetahui data-data yang saya jabarkan diatas apakah anda merasa yakin pasti anda mendapatkan keuntungan dari investasi anda jika membeli saham tersebut saat itu? Mungkin 70% pembaca akan menjawab ya yakin dan 30% pembaca akan bilang ini kan bisnis pelabuhan terlalu berisiko disaat pandemic seperti saat ini.

Saya setuju dengan pendapat 30% pembaca tersebut, itu kenapa saya tidak berekspektasi mendapatkan dividen sebesar tahun 2019. Karena itu menjadi hal yang tidak rasional di kondisi pandemic saat ini yang tentu berimbas pada kinerja IPCC.

Tetapi ini cuma masalah waktu untuk kondisi IPCC akan membaik lagi dengan semakin baiknya kondisi perekonomian setelah terpaksa “beradaptasi” apalagi jika akhirnya pandemic ini berakhir. Tapi ditengah buruknya kondisi bisnis, perusahaan ini masih punya ratio hutang yang sangat sehat dan masih memberikan saya penghasilan dividen di tahun sulit ini.

Tidak ada investasi yang tidak memiliki risiko sama sekali. Perusahaan sempat dihargai murah oleh market pasti karena memiliki sebuah alasan. Sama halnya kenapa saya yakin dengan investasi saya walaupun mungkin sempat mengalami floating loss besar karena saya tahu alasan saya membeli perusahaan tersebut. Saya tahu bahwa saya sudah memenuhi kriteria baru beli sudah untung, sehingga jika diberikan lebih murah lagi harga oleh market maka saya tambah untung.

Sebagai investor yang logis saya tidak mengharapkan kenaikan kinerja perusahaan berdasarkan asumsi atau spekulasi. Saya harus memiliki data yang mendukung dan menguatkan keyakinan saya akan analisa saya.

Apa Floating Loss Paling Besar Saya Dalam Value Investing Saat Ini?

Uniknya floating loss paling besar saya adalah saham yang paling melekat pada diri saya yaitu ITMG.

Member stockbit kebanyakan sudah tahu bahwa saya sangat menyukai perusahaan ini. Ironisnya saya membeli pertama kali ITMG di harga diatas 16.000. Sebuah harga yang sangat tinggi jika melihat harga hari ini apalagi harga ketika maret 2020.

Secara average price tentu saya sudah tidak di 16.000 karena saya rajin membeli saham ini sehingga average price sudah jauh menurun. Tetapi tetap saja walaupun jauh menurun, saya masih mengalami floating loss yang terbilang besar di saham ini.

Tetapi saya tidak khawatir karena dengan kondisi jelek seperti ini saja, saya masih mendapatkan dividen pada tahun ini (belum termasuk dengan dividen interim yang kemungkinan bisa didapatkan akhir tahun) sudah diatas suku bunga deposito.

Saya juga meyakini harga batu bara sudah murah saat ini dan tinggal masalah waktu untuk harga batu bara akan naik lagi seperti pembahasan saya di tulisan saya tentang gold coal ratio.

Ketika harga coal rebound dan mencapai puncak siklusnya maka saya yakin saya mendapatkan profit yang bagus dari ITMG kelak. Sembari menunggu itu terjadi, return dividen diatas deposito ini sesuatu yang menurut saya worthed didapatkan dari perusahaan yang kondisi bisnisnya lagi sulit karena tekanan harga komoditasnya.

Value Investing Tidak Selalu Cuma Mengandalkan Laporan Keuangan

Value investor adalah orang yang mengambil peluang dari kesalahan harga yang diberikan oleh market. Banyak yang selalu menganggap value investor hanya terpaku pada investasi saham.

Value investor sendiri berarti investor yang mengambil keputusan berdasarkan value. Ini adalah suatu konsep berpikir. Anda bisa gunakan konsep value investor yang baru beli sudah untung ini didalam investasi apapun.

Mungkin ada orang yang jual jam tangan Hublot original seharga 2 juta rupiah milik peninggalan orang tuanya karena dia tidak tahu bahwa hublot adalah merek eklusif yang sangat mahal. Maka jika anda beli dan jual beberapa kali lipat setelah itu anda juga bisa dianggap sebagai value investor.

Jika ada teman anda yang mau pindah keluar negeri dadakan karena urusan dinas dan menawarkan mobilnya dengan harga miring kepada anda. Lalu anda tahu bahwa anda bisa jual dengan keuntungan 20 juta rupiah karena itulah harga pasaran yang tertera di situs jual beli online saat ini, maka anda juga bisa dianggap sebagai value investor.

Kisah Saya Dengan Oil

Salah satu tulisan saya yang paling banyak mendapatkan kritikan di stockbit adalah ketika saya membahas tentang peluang di oil pada link https://stockbit.com/post/3741934

Padahal sejujurnya keuntungan terbesar dalam satu transaksi saya di tahun ini memang pada transaksi yang memanfaatkan peluang dari tulisan tersebut. Tidak ada yang salah dengan yang memberikan kritik karena setelah itu oil tersebut memang akhirnya bukannya naik tetapi turun bahkan harga minus.

Tetapi itu hanya sebentar dan pada akhirnya benar sudah naik diatas 40 USD saat ini dan saya mendapatkan keuntungan sangat bagus dari transaksi tersebut. Sebagai value investor kita bisa memanfaatkan apapun peluang salah harga di sekeliling kita.

Ketika saya membahas tentang peluang oil ini ada beberapa orang yang memberikan kritikan bahwa saya bukanlah value investor tetapi saya pedagang di dunia saham. Saya pribadi tidak keberatan disebut dengan pedagang. Karena ketika suatu saat saham saya sudah tidak menarik secara value lagi maka memang akan saya jual saham tersebut. Saya pribadi bukan penganut growth investor yang katanya simpan saham seumur hidup. Padahal growth investor seperti Warren Buffet juga ada saatnya dia harus jual saham dia. Jadi saya tidak keberatan jika ada yang sebut saya sebagai pedagang karena memang tujuan saya investasi di dunia saham adalah mendapatkan dan menikmati profit.

Saya tidak masalah jika perusahaan saya tidak memberikan dividen selama bisa memberikan capital gain yang bagus. Tentu saja saya tidak masalah jika perusahaan tersebut bisa memberikan capital gain dan dividen yang bagus sekaligus.

Mengukur Risiko Dengan Peluang

Seperti halnya trader yang harus mengerti tentang risk reward ratio yang sudah saya jelaskan dalam tulisan saya tentang teknik 2R. Sebagai value investor juga harus bisa mengukur apakah risiko yang ditanggung sepadan dengan peluang yang diberikan atau tidak.

Sebagai value investor juga penting untuk memiliki jaminan dari segi risiko, walaupun ini konsep yang paling sering mendapatkan kritikan. Walaupun sesama value investor tetapi tentu pemikiran dan pemahaman setiap orang tidaklah selalu sama. Seperti halnya ketika April 2020 ketika pembahasan EV to EBIT yang kembali saya bahas mendapatkan cukup banyak kritikan sebagai konsep menyesatkan.

Saya ingat ketika itu ada diskusi untuk pembuktian konsep EV to EBIT ini apakah konsep yang make sense atau tidak. Hingga akhirnya sempat muncul perbandingan antara WIIM dan KINO.

Rangkuman data saat postingan itu dibuat antara WIIM dengan KINO adalah:

Summary Data WIIM

  • Market cap 227M
  • Cash 231M
  • Total asset 1.2T
  • Total liabilities 290m
  • Total debts 55M
  • Net income 15M
  • Per 6.44x
  • Roe 3.5%
  • Ev/ebit 1.44

Summary Data KINO

  • Market cap 3.1T
  • Cash 241M
  • Total asset 4.6T
  • Total liabilities 2T
  • Total debt 982M
  • Net income 447M
  • Per 6.42x
  • Roe 19.2%
  • Ev/ebit 10.85

WIIM memiliki EV to EBIT yang sangat rendah saat itu 1.44x dibandingkan KINO yang memiliki EV to EBIT 10.85. Sedangkan KINO memiliki ROE 19.2% jauh lebih tinggi dibandingkan WIIM yang cuma 3.5%. Ketika diharuskan memilih antara 2 saham tersebut ketika April 2020 maka saya memilih WIIM.

Alasannya sederhana karena perusahaan yang saat itu memiliki market capitalization senilai 227 miliar rupiah memiliki cash senilai 231 miliar rupiah. Perusahaan ini punya aset senilai 1.2 triliun rupiah dan masih dapat menghasilkan keuntungan 15 miliar rupiah tahun lalu. Pilihan saya saat itu dipertanyakan karena dianggap sebuah anomali untuk memilih perusahaan yang profitabilitasnya kecil.

Saya bukanlah seorang growth investor yang akan simpan saham seumur hidup, alasannya karena saya belum memiliki dana super jumbo yang membuat saya tidak flexible lagi. Buat saya WIIM memenuhi kriteria baru beli sudah untung berdasarkan data yang saya jabarkan diatas saat itu.

Saat ini WIIM memiliki market cap senilai 748 miliar rupiah (+229%) dan KINO memiliki market cap senilai 4.2 triliun ruipah (+35%) dari pembahasan tersebut.

- Advertisement -

Hampir sebagian besar saham yang saya beli memiliki sebuah jaminan dari tingkat risiko investasi. Jaminan tersebut adalah aset real yang besar (cash dan aset tetap), hutang yang kecil dan bisa menghasilkan keuntungan. Itulah kenapa screening saham saya ada membandingkan cash ataupun aset tetap terhadap market capitalization.

Kalau hutang yang kecil tidak cocok dengan TBLA yang saya juga koleksi. Itu betul sekali dan memang memunculkan pergumulan di saya. Tapi kembali karena perusahaan itu memiliki aset tetap yang sangat seksi maka saya tetap berani.

Baca juga : tutorial value investing

Semoga setelah anda baca tulisan ini, anda bisa memiliki keyakinan bahwa anda bisa mendapatkan transaksi baru beli sudah untung.

NB: Saya tidak memberikan rekomendasi saham apapun untuk dibeli pada tulisan ini karena bisa jadi saham-saham yang sebutkan diatas sudah tidak saya akumulasi beli lagi.

 

- Advertisement -

Follow Us:

Support us:

Latest articles

Teknik Trading Sideways Untuk Menurunkan Average Price Dengan Dana Terbatas

Teknik apapun yang digunakan dalam memilih saham tidak menjamin saham yang kita beli harganya pasti naik. Tidak jarang harga sahamnya terus turun setelah kita...

Cara Menghindari Membeli Saham Gorengan

Ada sebuah pertanyaan yang menurut saya bagus, yaitu bagaimana mengetahui sebuah saham adalah saham gorengan atau bukan. Apakah saham gorengan berarti saham yang memiliki bandar...

Tips Terbaik Investasi – Baru Beli Sudah Untung

"Tips investasi terbaik tersebut dirangkum dalam satu kalimat sederhana yaitu "Baru beli sudah untung" Sang pembicara mengajarkan bahwa banyak orang yang sulit membedakan antara investasi...

Rangkuman Belajar Value Investing Untuk Investor Saham Pemula

Cukup banyak pertanyaan yang masuk tentang bagaimana cara melakukan analisa laporan keuangan. Sebenarnya ini adalah topik paling awal yang saya tulis. Tetapi karena tanpa...

Related articles

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here