Value Investing – Teknik Mencari Saham Bagus dan Murah

Daftar isi

Apa itu Value investing ?

Value investing adalah sebuah teknik investasi dimana membeli saham dibawah nilai intrinsik. Nilai intrinsik ini adalah harga wajar suatu perusahaan. Membeli dibawah nilai intrinsik berarti mencegah membeli perusahaan secara mahal. Sebagai value investor kita perlu mengetahui bagaimana melakukan screening saham, menghitung harga wajar saham, margin of safety dan juga money management.

Value investing ini dipopulerkan oleh Benjamin Graham. Benjamin Graham membuat buku Security Analysis dan The Intelligent Investor. Buku ini menjadi inspirasi yang mengubah Warren Buffet dari seorang trader menjadi value investor.

Seperti yang kita tahu, Warren Buffet adalah seorang investor paling sukses yang pernah ada di muka bumi. Warren Buffet mencapai puncak kesuksesan setelah mengambil jalan sebagai seorang value investor.

Value Investing VS Growth Investing VS Contrarian Investing

Value investing sendiri saat ini terbagi menjadi beberapa aliran:

  • Value investing : teknik membeli saham yang dijual dibawah nilai intrinsik / harga wajar.

Price is what you pay, value is what you get

Warren Buffet
  • Growth investing : teknik membeli saham perusahaan yang profitnya terus bertumbuh setiap tahun. Growth Investor tidak masalah membeli saham diatas harga wajar. Mereka percaya bahwa perusahaan yang memiliki kinerja yang bagus pasti meningkatkan capital gain dan dividen saham tersebut.

It’s far better to buy a wonderful company at a fair price than a fair company at a wonderful price

Warren Buffet
  • Contrarian investing : teknik membeli saham dimana mengambil posisi yang berbeda dengan persepsi pasar. Seorang contrarian akan membeli ketika market terlalu pesimis dan menjual saham itu. Seorang contrarian akan menjual ketika market terlalu optimis dan membeli saham itu. contrarian investor bisa melihat apakah market bertindak tidak rasional dan mengambil peluang dari hal tersebut. Seorang contrarian investor adalah orang yang sudah berpengalaman. Mereka sudah bisa membedakan apa itu market risk dan company risk.

Be fearful when others are greedy, and greedy when others are fearful

Warren Buffet

Bagi saya pribadi value investing / growth investing / contrarian investing adalah value investing. Saya menggabungkan ketiga teknik tersebut didalam investasi saham saya.

Sehingga saya merangkum value investing menjadi satu kalimat. Value investing adalah hanya membeli saham perusahaan yang memiliki kinerja bagus dan dijual murah.

Bagaimana Membeli Saham ala Value Investing ?

Dua kriteria paling penting yang harus dituruti oleh value investor adalah:

  • Hanya membeli saham perusahaan yang memiliki kinerja bagus.
  • Hanya membeli saham perusahaan yang dijual murah (dibawah nilai intrinsik / harga wajar).

Langkah – langkah membeli saham ala value investing:

Langkah 1 – Melakukan Screening Saham Ala Value Investing

Screening saham adalah langkah penting untuk menghemat waktu kita sebagai investor. Saat ini IHSG memiliki lebih dari 600 perusahaan terdaftar. Dan dari ratusan perusahaan tersebut hanya sedikit yang memiliki kinerja bagus dan sedang dijual murah. Sehingga seorang value investor perlu melakukan screening saham untuk mendapatkan calon perusahaan yang mungkin menemukan kriteria tersebut.

- Advertisement -

Saya pribadi menggunakan screener dari aplikasi stockbit. Sceener stockbit adalah yang terbaik sejauh ini yang saya temukan untuk melakukan screening saham di IHSG. Screener ini berisikan data yang paling lengkap dibandingkan aplikasi screener saham lainnya.

Screening Saham untuk menemukan perusahaan yang dijual di harga wajar

Dalam melakukan filter suatu saham kita perlu mempertimbangkan beberapa hal, yaitu:

  • Analisa valuasi harga saham untuk melihat apakah perusahaan lagi dijual dengan harga mahal atau murah
  • Analisa profitabilitas untuk melihat seberapa bagus perusahaan untuk menghasilkan keuntungan.
  • Analisa likuiditas untuk melihat apakah perusahaan memiliki cukup aset untuk melunasi hutang perusahaan.
  • Analisa cashflow untuk melihat seberapa baik arus kas perusahaan
  • Analisa dividen untuk melihat seberapa baik return yang dihasilkan dari dividen perusahan tersebut.

Screening Saham – Analisa Valuasi Harga Saham

Analisa valuasi harga saham berguna untuk secara sekilas melihat apakah harga saham saat ini murah atau mahal.

Banyak investor yang memiliki salah pengertian antara harga saham mahal dan murah. Banyak investor pemula yang berpikir harga saham yang dijual 100 rupiah lebih murah dibandingkan harga saham yang dijual 1000 rupiah.

  • Price to Earning Ratio (PER) adalah rasio untuk menghitung valuasi perusahaan dengan membandingkan harga saham perusahaan dengan laba bersih perusahaan per lembar. Biasanya kriteria yang digunakan untuk screening adalah PER <= 10. Hal ini berarti jika kita membeli perusahaan dengan harga saat ini senilai 10X laba bersih perusahaan per tahun.
  • Price to Book Value (PBV) adalah rasio untuk menghitung valuasi perusahaan dengan membandingkan harga saham perusahaan dibandingkan dengan ekuitas (total nilai aset perusahaan yang sudah dikurangi dengan total hutang perusahaan). Biasanya kriteria yang digunakan untuk screening adalah PBV <=1. Hal ini berarti jika kita membeli perusahaan dengan harga saat ini masih dibawah total nilai ekuitas perusahaan.

Hal penting yang perlu diingat PER dan PBV minus artinya tidak bagus. Karena artinya laba bersih perusahaan ataupun ekuitas perusahaan tersebut memiliki nilai negatif. Nilai negatif di PER berarti perusahaan tersebut dalam kondisi mengalami kerugian. Nilai negatif di PBV berarti perusahaan tersebut dalam kondisi ekuitas negatif. Nilai ekuitas negatif artinya total hutang lebih besar dibandingkan total aset perusahaan. Hal ini umumnya terjadi karena perusahaan terus menerus mengalami kerugian sehingga dia harus menggunakan hutang untuk membiayai operasional perusahaan.

Baca juga : Menggunakan PER dan PBV – Screening Saham Murah.

Screening Saham Analisa Profitabilitas

Analisa profitabilitas berguna untuk melihat seberapa baik perusahaan tersebut dalam menghasilkan keuntungan.

Perusahaan yang baik tentu adalah perusahaan yang bisa menghasilkan keuntungan. Semakin tinggi keuntungan yang bisa dihasilkan oleh perusahaan tentu semakin baik.

adsense

Didalam laporan keuangan kita bisa melihat tiga jenis laba:

  • Laba kotor (gross profit) adalah laba perusahaan yang didapatkan dari penjualan produk dan jasa perusahaan tersebut. Misalkan kita membuka sebuah kedai kopi. Satu gelas kopi kita jual dengan harga 30 ribu rupiah, harga modal 1 gelas kopi seharga 10 ribu rupiah maka perusahaan memiliki laba kotor (gross profit) senilai 200%.
  • Laba usaha (operating profit) adalah laba perusahaan setelah dikurangi biaya lain – lain yang menunjang kegiatan operational perusahaan seperti depresiasi aset, biaya listrik, gaji, dan lain – lain.
  • Laba bersih (net profit) adalah laba perusahaan setelah dikurangi dengan semua biaya termasuk pajak dan biaya bunga pinjaman.

Kita dapat membandingkan tiga hal ini dalam membandingkan beberapa perusahaan didalam sektor yang sama. Hal ini berguna untuk melihat perusahaan mana yang memiliki keunggulan kompetitif.

Contoh kasus analisa profitabilitas:

UNVR (Unilever) memiliki penjualan sekitar 42 triliun rupiah dalam satu tahun dengan gross profit diatas 50%. MYOR (Mayora) memiliki penjualan sekitar 24 triliun rupiah dalam satu tahun dengan gross profit sekitar 25%. Maka dengan jelas kita bisa melihat bahwa UNVR memiliki keunggulan kompetitif dibanding MYOR. Dengan gross profit 2 kali lipat dari MYOR, UNVR tetap dapat menghasilkan penjualan 2 kali lipat dari penjualan MYOR.

UNVR (Unilever) memiliki laba bersih sekitar 16% per tahun. MYOR (Mayora) memiliki laba bersih sekitar 7% membuat konfirmasi bahwa UNVR memiliki operasi bisnis yang lebih efisien dibandingkan MYOR.

Inilah yang membuat kenapa pasar berani menghargai UNVR begitu tinggi (market cap diatas 240 triliun rupiah) sedangkan MYOR dihargai dengan market cap diatas 36 triliun rupiah.

Hal ini yang juga akan menjadi daya tarik dari SIDO (Sido Muncul) dimana memiliki gross profit 53% dengan net profit di kisaran 19%. Perusahaan ini masih dihargai market dengan market cap hampir 17 triliun rupiah saat ini. SIDO adalah salah satu contoh perusahaan yang masuk kedalam watchlist saya walaupun tidak lagi dijual murah oleh pasar.

Kriteria screening saham untuk analisa profitabilitas

Untuk screening biasanya saya menggunakan kriteria net profit harus diatas suku bunga deposito saat ini. Jadi misalkan suku bunga deposito adalah 6%, maka saya akan gunakan net profit minimal 8% sebagai kriteria screening saya. Deposito adalah investasi paling aman yang bisa dilakukan oleh seorang investor. Sehingga sebaiknya kita berinvestasi kepada perusahaan yang bisa menghasilkan laba bersih diatas deposito.

Untuk gross profit saya biasanya 2 kali lipat dari target net profit saya. Sehingga saya menggunakan target minimal 16% sebagai kriteria screening gross profit saya.

Valuue investing adalah sebuah teknik untuk mencari saham perusahaan bagus yang dijual dengan harga murah.

Baca juga : Ratio profitabilitas – Melihat Economic Moat.

Screening Saham – Analisa Likuiditas

Analisa likuiditas berguna untuk melihat apakah ada resiko perusahaan mengalami kesulitan keuangan atau tidak. Sehingga dalam melakukan analisa likuiditas kita akan membandingkan antara aset perusahaan dengan hutang perusahaan.

Biasanya dalam melakukan analisa likuiditas kita melihat tiga ratio dibawah ini:

  • Ratio lancar (Current Ratio) : membandingkan antara aset lancar dengan hutang lancar perusahaan. Aset lancar adalah aset yang bersifat mudah dicairkan menjadi uang cash dalam waktu kurang dari 1 tahun. Contoh: cash, piutang usaha, persediaan. Hutang lancar adalah hutang yang jatuh tempo dalam waktu kurang dari 1 tahun.
  • Ratio cepat (Quick Ratio) : mirip dengan current ratio tetapi tidak memperhitungkan niilai persediaan (inventory). Perusahaan bisa menjadi sesuatu yang tidak cair jika produknya tidak laku di pasar.
  • Debt to Equity Ratio (DER) : membanndingkan antara total hutang dengan total ekuitas perusaahan.
- Advertisement -

Saya biasanya menggunakan kriteria current ratio dan quick ratio diatas 2. Yang artinya total aset lancar saat ini memiliki total 2 kali hutang yang harus dilunasi dalam jangka waktu satu tahun.

Untuk Debt to Equity Ratio (DER) saya biasanya menggunakan kriteria kurang dari 1. Yang artinya total hutang dibawah total ekuitas perusahaan. Sehingga dalam jangka panjang perusahaan ini mengalami aman dari situasi kesulitan keuangan.

Screening Saham – Analisa Cashflow

Banyak investor sering tidak melakukan analisa cashflow perusahaan. Bagi saya pribadi analisa cashflow perusahaan sangat penting. Jika hanya boleh memilih satu jenis laporan untuk dilakukan analisa, maka saya akan memilih analisa cashflow.

Cashflow adalah urat nadi perusahaan. Jika perusahaan memiliki cashflow yang jelek maka perusahaan ini seperti terkena stroke.

Laporan arus kas (cashflow statement) terdiri dari 3 kategori :

  • Arus kas dari aktifitas operasi (CFO – Cash Flow from Operation). Kategori ini melihat perbandingan uang masuk dan keluar dari kegiatan operastional perusahaan
  • Arus kas dari aktifitas investasi. Kategori ini melihat perbandingan uang masuk dan keluar dari pembelian dan penjualan aset perusahaan termasuk divestasi anak usaha.
  • Arus kas dari aktifitas pendanaan. Kategori ini melihat perbandingan uang masuk dan keluar dari pinjaman hutang bank, pengeluaran hutang bank, ataupun dividen.

Analisa cashflow paling penting adalah melihat cash flow from operation harus bernilai positif. Analisa laporan keuangan memiliki banyak jebakan dan analisa arus kas sering kali menolong kita untuk melihat jebakan tersebut.

Contoh kasus analisa cashflow:

Sebagai contoh, untuk mendapatkan profit maka cukup meningkatkan penjualan. Ketika terjadi penjualan maka akan terbentuk jurnal akun sales dan COGS. Sehingga ketika terjadi penjualan maka profit perusahaan akan terbentuk.

Yang menjadi masalah perusahaan tersebut bisa saja memiliki profit tapi juga memiliki cashflow operation negatif. Sehingga akan jadi pertanyaan kenapa perusahaan tersebut tidak bisa melakukan penagihan piutang ke customernya.

Ketika piutang usaha tidak bisa ditagihkan maka perusahaan tidak memiliki saldo kas. Sedangkan biaya operasional harus tetap berjalan. Sehingga sebagai jalan keluar, maka biasanya perusahaan akan mengajukan pinjaman hutang. Pinjaman hutang berarti tambahan biaya bunga. Tambahan biaya bunga berarti akan mengurangi laba perusahaan.

Baca juga : Analisa Cash Flow – Penting.

Screening Saham – Analisa Dividen

Selain capital gain salah satu keuntungan yang bisa didapatkan oleh seorang investor adalah dividen.

Dividen adalah pembagian keuntungan perusahaan kepada para pemegang sahamnya. Perusahaan yang baik biasanya mau membagikan dividen.

Saya pribadi tidak menjadikan dividen sebagai patokan wajib untuk memilih saham. Saya tetap lebih mengincar capital gain yang lebih besar. Tapi jika bisa mendapatkan dividen besar dan capital gain besar tentu akan lebih baik.

Selalu melihat dividen beberapa tahun terakhir. Bisa jadi tahun lalu dividen besar tapi tahun berikutnya dividen menjadi kecil. Hal ini biasa terjadi karena perusahaan menjual aset ataupun melakukan divestasi anak perusahaan. Aktifitas penjualan aset ataupun divestasi anak perusahaan membuat laba bersih perusahaan meningkat. Tapi ini hanya bersifat sementara dan tidak bisa didapatkan secara konsisten untuk tahun berikutnya.

Sehingga penting sekali untuk melihat rata – rata dividen yield minimal 3 tahun terakhir. saya pribadi menggunakan rata – rata dividen yield 10 tahun terakhir untuk mendapatkan gambaran lebih nyata berapa besaran dividen yield yang bisa saya dapatkan.

Selalu berhati – hati jika anda masuk ke saham hanya mengincar dividen yang akan dibagikan. Karena sering kali hal ini akan membuat anda kecewa.

Baca juga : Self Made Dividen – Teknik Rahasia Menambah Return Dividen.

Setelah melakukan screening maka kita akan mendapatkan daftar saham yang memenuhi kriteria screening kita.

Langkah 2 – Menghitung Nilai Intrinsik / Harga Wajar Saham dan Margin of Safety

Teknik value investing mewajibkan investor untuk membeli saham yang dijual dibawah nilai intrinsik / harga wajar saham. Anda bisa saja mengalami kerugian dari investasi saham perusahaan bagus jika anda beli di harga kemahalan. Anda bisa saja mengalami keuntungan yang bagus dari investasi saham perusahaan jelek jika anda beli di harga sangat murah.

Pertanyaan paling banyak ditanyakan adalah bagaimana menghitung nilai intrinsik / harga wajar suatu saham ?

Ada berbagai metode untuk menghitung nilai intrinsik / harga wajar suatu saham. Setiap investor juga memiliki preferensi masing – masing terkait metode mana yang mereka gunakan.

Berbagai metode untuk menghitung nilai intrinsik / harga wajar suatu saham:

Menghitung Nilai Intrinsik ala Benjamin Graham

Di tahun 1962, dalam bukunya berjudul “security analysis”. Benjamin Graham menggunakan rumus valuasi sebagai berikut:
V(Nilai wajar) = EPS x (8,5 + 2G)
8,5 adalah PER rata-rata untuk perusahaan yang tidak tumbuh labanya dan G adalah EPS Growth dari 10 tahun terakhir.
Nilai wajar = 141,84 x (8,5 + 2×15)
Nilai wajar = 5460

Tapi jika dilihat, teknik valuasi itu dirasa sangat agresif. Sehingga akhirnya Benjamin Graham melakukan revisi rumus untuk valuasi saham menjadi:

V = EPS x (8,5 + 2G) x ( 4,4/AAA)
*8,5 adalah PER rata-rata untuk perusahaan yang tidak tumbuh labanya
*4,4 adalah risk rate free, atau return dari investasi yang kecil resikonya seperti deposito. Untuk indonesia rata2 deposito adalah 6,5%
*AAA adalah bunga obligasi jangka panjang

Penambahan elemen bunga deposito dan obligasi digunakan untuk mengurangi besaran nilai wajar dikarenakan rumus lama. (semakin besar bunga deposito dan obligasi yang digunakan akan semakin kecil nilai wajarnya). Dan kembali lagi, semakin kecil nilai wajar maka semakin aman kita berinvestasi.

Setelah disesuaikan dengan rate di indonesia, maka rumusan valuasi Benjamin Graham ini diubah menjadi :

V = EPS x (8,5 + 2G) x (6,5/AAA)

- Advertisement -

V = 141,84 x (8,5 + (2×15)) x (6,5/11,625)
V = 3053

Baca Juga : Menghitung Nilai Wajar Saham ala Benjamin Graham

Menghitung Nilai Intrinsik ala Warren Buffet

Jika kita menggunakan rumus dari Benjamin Graham umumnya kita tidak akan bisa mendapatkan saham big caps seperti BCA, BRI, Unilever, Sampoerna. Karena perusahaan – perusahaan tersebut memiliki Price to Earning Ratio (PER) yang tinggi. Yang artinya Earning per Share (EPS) mereka tidak terlalu tinggi.

Sedangkan Earning per Share (EPS) merupakan variabel kunci dalam perhitungan nilai intrinsik / harga wajar di formula Benjamin Graham. Warren Buffet melakukan analisa lebih menyeluruh. Sehingga bisa melihat potensi perusahaan lebih jelas. Ini kenapa beberapa perusahaan big caps masih bisa memenuhi nilai intrinsik atau harga wajar menurut perhitungan Warren Buffet.

8 langkah menghitung nilai intrinsik / harga wajar ala Warren Buffet (studi kasus HMSP dengan data laporan keuangan 2019):

Langkah 1 – Menghitung initial rate of return

Rumus initial rate of return = EPS / Harga saham

Jika hasilnya diatas suku bunga bank sentral (BI rate) maka boleh dilanjutkan ke langkah berikutnya. BI Rate per hari ini di kisaran 5%.

Tujuan dari initial rate of return adalah mencari perusahaan yang memiliki persentase laba bersih lebih besar dibandingkan BI rate. Persentase laba bersih ini bukan persentase net income. Persentase yang dimaksud adalah persentase laba bersih dibandingkan dengan uang yang kita bayarkan untuk investasi saham kita.

Contoh Perhitungan ( NB: Data ini saya buat di stockbit per tanggal 8 Januari 2020)

  • EPS : 116
  • Harga Saham : 2.220
  • Initial Rate of Return : 116/2.220
  • Initial Rate of Return : 5.23% (karena diatas BI Rate maka kita bisa ke langkah berikutnya)

Langkah 2 – Hitung rata – rata persentase ROE after payout 5 tahun terakhir

Kita perlu mencari 2 hal terlebih dahulu:

  • Average ROE (return on Equity) 5 tahun terakhir, contoh : 44%
  • Average Dividen Payout Ratio (DPR) 5 tahun terakhir, contoh : 99%

Setelah mendapatkan kedua hal tersebut maka kita menggunakan rumus:

Rumus Average ROE after Payout = Average ROE * (1-Average Dividen Payout Ratio)

Average ROE after Payout : 44% * (1-99%)

Average after Payout : 0.46%

Langkah 3 – Hitung proyeksi equity/share 5 tahun kedepan

Rumus Proyeksi Equity per Share = PV(1+i)^(n-1)

  • Total equity tahun terakhir : 35,358,000,000,000 rupiah
  • Total lembar saham beredar : 116,320,000,000
  • Equity per share : 303,97 (Total equity / Total share outstanding)
  • Future Equity per share after 5 years = 303.97*(1+0.46%)^5)
  • Future Equity per share after 5 years = 311,06

Langkah 4 – Konversikan proyeksi equity/share menjadi future EPS

Rumus Future EPS : Future Equity per share x Percent average ROE after payout

Future EPS : 311,06 x 0.46%

Future EPS : 137,22

Langkah 5 – Hitung future stock price

Future stock price : Future EPS * Rata-rata PER 5 tahun (NB: Jika PER saat ini lebih rendah maka gunakan PER saat ini)

Average PER 5 tahun terakhir : 36.93

PER saat ini : 19.6

Future stock price : 137.22 x 19.6

Future stock price : 2.690

Langkah 6 – Hitung future stock price + dividen

Current EPS : 116

Future EPS after 5 year : 137,22

Growth EPS : 9.54% (Silahkan gunakan file excel terlampir untuk mendapatkan formula perhitungan via excel)

Future EPS 5 year : SUM (current EPS * (1+growth EPS)^5)

  • Future EPS tahun 1 : 127,06
  • Future EPS tahun 2 : 139,19
  • Future EPS tahun 3 : 152,47
  • Future EPS tahun 4 : 167,02
  • Future EPS tahun 5 : 182,96
  • Total EPS 5 years = 768,71

Dividen Payout Ratio : 99%

Total Proyeksi Dividen 5 year : 768,71 * 99%

Total Proyeksi Dividen 5 year : 760,66

Future stock price : 2.690

Future stock price plus dividen : 2.690 + 760.66

Future stock price plus dividen : 3450.66

Langkah 7 – Hitung expected rate of return menggunakan average ROE

Syarat expected rate of return menurut Warren Buffet:

  • Expected rate return ROE >15% (Pilih – Best case)
  • Expected rate raturn ROE <15% dan >=12% (Pilih)
  • Expected rate return ROE <12% (Buang)

Future stock price plus dividen : 3450.66

Current Price : 2.220

Expected rate return ROE : 9.22% (Gunakan excel terlampir untuk dibantu perhitungan ini)

Sehingga jika HMSP dengan current price 2.220 seharusnya kita tidak membeli saham ini karena masih dianggap mahal.

Langkah 8 – Menghitung Nilai Wajar

Di langkah nomor 7 sebenarnya kita sudah melihat bahwa jika HMSP diharga 2.220 masih dianggap mahal. Tapi karena perusahaan ini memiliki kinerja yang bagus maka kita ingin daftarkan kedalam watchlist kita.

Lalu berapakah nilai wajar yang pantas untuk saham ini? maka kembali kepada expected ROE minimum yang harus dipenuhi. Expected ROE minimum yang harus dipenuhi adalah 12% atau best case nya adalah 15%.

Sehingga untuk mendapatkan expected ROE minimum 12% maka nilai wajar saham tersebut di angka 1.960 (gunakan excel terlampir untuk mendapatkan cara perhitungannya).

Download : Excel File Perhitungan Nilai Intrinsik ala Warren Buffet

Metode lain untuk perhitungan nilai intrinsik

Sebelumnya saya sudah menjelaskan secara overview metode perhitungan nilai intrinsik / harga wajar dari 2 value investor paling terkenal.

Selain dua metode ini banyak cara lain yang digunakan untuk perhitungan nilai intrinsik / harga wajar. Yang kalau saya bahas satu persatu tidak akan ada habisnya.

2 metode lain yang paling populer adalah:

  • Discounted Cash Flow, silahkan klik ini untuk contoh perhitungannya.
  • EVA, silahkan klik ini untuk contoh perhitungannya.

Margin of Safety (Marjin Pengaman)

Market sering sekali bersifat tidak rasional sehingga apapun metode perhitungan nilai intrinsik / harga wajar suatu saham tersebut tidak bisa dijamin akurasinya. Untuk itu perlu yang disebut dengan marjin pengaman (margin of safety).

Margin of safety (MoS) diperkenalkan pertama kali oleh Benjamin Graham. Sebaiknya kita sebagai investor hanya melakukan investasi saham yang memiliki selisih harga sekian persen dengan nilai intrinsik / harga wajar saham.

Misalkan nilai intrinsik / harga wajar saham tersebut bernilai 3.000 per lembar saham. Margin of Safety (MoS) yang kita gunakan adalah 25% maka kita boleh membeli saham tersebut maksimal di harga 2.250 per lembar saham.

Sebenarnya untuk menghitung Margin of Safety (MoS) memiliki rumus untuk menentukan. Tapi saya sendiri tidak menggunakan rumus tersebut. Saya sendiri selalu menggunakan Margin of safety 50%. Artinya jika saham tersebut memiliki nilai intrinsik 3.000 per lembar saham, maka harga maksimum pembelian saya adalah 1.500 per lembar saham.

Apakah itu terlalu sadis? Pada maret 2020 sangat mudah sekali anda menemukan saham – saham dengan kriteria yang memenuhi kriteria saya. Sehebat apapun anda menghitung harga wajar tetap saja anda bisa melakukan kesalahan. Apalagi market yang sering bertindak tidak rasional. Margin of Safety membantu mengurangi resiko anda membeli kemahalan. Yang berarti meminimalisasi resiko kerugian dan meningkatkan peluang profit dari investasi saham kita.

Langkah 3 – Menentukan waktu yang tepat untuk investasi saham

Banyak pengajar saham jika ditanya kapan waktu yang tepat masuk kedalam investasi saham ? Mereka menjawab sekarang.

Sayangnya saya tidak bisa menjawab seperti itu. Saya tahu bagaimana market bisa begitu kejam dan tidak rasional.

Banyak sekali investor yang membeli perusahaan yang memiliki kinerja bagus tapi mengalami kerugian besar. Banyak juga investor yang membeli perusahaan yang jelek tapi mengalami keuntungan besar.

Sungguh dilematis yang aneh bukan. Tapi itulah yang menjadi kenyataan di investasi saham. Memilih perusahaan bagus saja tidaklah cukup. Waktu yang tepat adalah segalanya didalam investasi saham.

Perihal waktu yang tepat ini adalah bidang keahlian dari seorang contrarian investing. Jadi mari kita belajar bagaimana menentukan timing yang tepat untuk investasi saham:

Down by the half rules

Konsep berpikir seorang penganut contrarian investing adalah beli ketika market begitu pesimis dan jual ketika market begitu optimis.

Salah satu yang menjadi ciri market begitu pesimis adalah harga saham yang terus menurun.

Down by The Half Rule ala Contrarian Investing

Kita sebagai investor harus bisa membedakan dua tipe resiko di investasi saham, yaitu:

  • Market risk : Penurunan harga saham karena market bersikap tidak rasional, sebagai contoh tekanan jual yang begitu tinggi karena virus corona
  • Company risk : Penurunan harga saham karena perusahaan mengalami permasalahan di kinerja bisnisnya.

Jika penurunan harga saham karena market risk maka sebenarnya adalah peluang yang bagus untuk kita. Karena penurunan itu bersifat sementara saja.

Contoh kasus market risk:

Gambar diatas saya ambil dari salah satu perusahaan tambang dengan kode ITMG. Hari ini harga sahamnya di 6.675 per lembar saham ketika saya lagi menulis ini.

Menurut perhitungan saya, di bulan april ITMG akan membagi dividen sebesar 590. Dan hebatnya lagi ITMG selalu rutin membagi dividen 2x dalam setahun. Dimana bulan november ITMG akan membagi dividen interim dari keuntungan di tahun berjalan.

Marilah kita berasumsi dengan penurunan kinerja perusahaan imbas virus corona dan harga batu bara yang terus tertekan, dividen interim di bulan november hanya sekitar 710. Artinya saya akan mendapatkan total dividen sebesar 1.300 di tahun 2020.

Dividen 1.300 ini berarti dividen yield sebesar 19.5% dari harga saat ini. Artinya jika kinerja batu bara terus jelek seperti ini maka dalam 5 tahun kita bisa mendapatkan balik modal hanya dari dividen nya saja.

Apalagi harga batu bara sudah mencapai titik terendahnya, dan akan susah untuk lebih rendah lagi. Dimana saat ini gold-coal ratio sudah di angka 23X dan gold-coal ratio tertinggi dari 2008 hingga sekarang ada di 24X.

Baca juga : Gold Coal Ratio – Alat Ukur Mahal Murah Harga Batu Bara

Ini adalah contoh dari market risk dan ini adalah peluang emas yang tidak setiap tahun terjadi.

Tapi jika harga saham turun diikuti dengan berbagai masalah yang jelas terjadi seperti MYRX. Dimana ownernya ditangkap, aset disita, dan tidak bisa membayar kewajiban kepada para nasabah maka ini jelas adalah company risk.

Maka carilah perusahaan yang harga sahamnya sudah turun lebih dari 50% dan penurunan ini karena market risk dan bukan company risk.

Membandingkan historis data PER dan PBV

Price to Earning Ratio (PER) dibawah 10 dan Price to Book Value (PBV) dibawah 1 adalah kriteria saham murah.

Tapi jika sepanjang sejarah PER perusahaan itu ada di 10 dan saat ini PER perusahaan ini ada di 9 – 10 maka perusaahan ini tidak sedang dijual murah.

Historis data PER PBV ala Contrarian Investing

Jika kita lihat data diatas HMSP memiliki Price to Book Value (PER) sebesar 4.72. Jika mengacu pada PBV dibawah 1 adalah murah, maka perusahaan ini masih dianggap mahal. Jika kita melihat bahwa dalam 5 tahun terakhir PBV HMSP rata – rata di 10. Maka PBV 4.72 ini menjadi terlihat murah

Begitu juga Price to Earning Ratio (PER) sebesar 10.72. Ini sangat murah karena PER HMSP berada di rata – rata 30.

Jadi dalam melihat PER dan PBV jangan terpaku dengan patokan PER dibawah 10 dan PBV dibawah 1. Tapi kita harus tahu berapa nilai wajar PER dan PBV perusahaan yang kita mau investasikan ini berdasarkan historical data.

Saya pribadi suka mencari saham dengan PER dan PBV yang terdiskon 50% dari rata – rata PER dan PBV menurut historis data.

Menunggu adanya insider yang melakukan pembelian

Yang termasuk insider adalah:

  • Pemegang saham pengendali : Sekuritas, badan usaha, investor tunggal yang memiliki kepemilikan saham diatas 5%
  • Direksi perusahaan : Perusahaan memiliki jaringan direksi, setiap kali direksi melakukan pembelian saham akan dilaporkan walaupun kepemilikan masih dibawah 5%.

Ini adalah parameter paling penting. Ketika ada insider yang melakukan pembelian dalam jumlah besar maka saham itu akan memiliki potensi kenaikan yang bagus. Ketika insider melakukan penjualan dalam jumlah besar maka saham itu memiliki potensi penurunan harga saham.

Insider information ala contrarian investing

Secara logika insider ini memiliki keterbukaan informasi dibandingkan kita investor retail. Dan semua investor selalu bertujuan mencari keuntungan. Jika mereka membeli dalam jumlah besar artinya mereka mendapatkan sebuah informasi bagus yang membuat mereka yakin perusahaan mereka akan naik.

Ketika mereka menjual dalam jumlah besar artinya mereka mendapatkan sebuah informasi yang membuat mereka memiliki kekhawatiran harga saham akan mengalami penurunan.

Sayangnya sebagai investor retail seperti kita, kita tidak bisa mengetahui keterbukaan informasi tersebut.

Ada baiknya kita menunggu konfirmasi sampai ada insider yang melakukan pembelian dalam jumlah besar untuk menjadi konfirmasi bahwa ini adalah keputusan tepat untuk kita melakukan investasi di saham tersebut.

Langkah 4 – Money management – menentukan berapa banyak saham yang dibeli

Jika kita memiliki jumlah uang 100 juta untuk investasi saham dan anda menemukan saham yang bagus dan murah. Apakah artinya kita langsung investasikan semua uang kita kedalam saham tersebut atau tidak?

Hal ini yang sering menjadi pertanyaan para value investor. Sayangnya investasi saham sering kali tidak sesuai dengan yang kita inginkan. Harga saham bukannya naik tapi malah terus turun setelah kita beli. Harga saham bisa terus naik justru ketika kita ragu untuk membeli saham tersebut.

Maka untuk mengatasi pergumulan tersebut, kita sebagai value investor perlu mempertimbangkan 3 hal ini

Diversifikasi saham dalam Money Management

Ada yang bilang jangan tempatkan semua telor didalam 1 keranjang. Tapi ada juga yang bilang diversifikasi hanya untuk investor yang tidak mengerti apa yang dibelinya.

Jadi apakah kita sebagai value investor perlu melakukan diversifikasi? Menurut saya tetap perlu.

Tapi orang banyak salah menerti tentang diversifikasi. Banyak yang beranggapan membeli beberapa saham berbeda itu sama dengan diversifikasi.

Diversifikasi artinya membagi resiko. Jadi jika anda membeli 4 saham perusahaan tambang artinya anda tidak melakukan diversifikasi. Jika anda membeli 4 saham bank artinya anda tidak melakukan diversifikasi. Karena tingkat resiko yang dihadapi sama besarnya.

Contoh diversifikasi saham:

  • Saham yang memberikan dividen besar dan saham yang memberikan konsisten bertumbuh. Contoh: Perusahaan tambang memberikan dividen besar tapi harga saham fluktuatif. Bank memberikan dividen kecil tapi harga saham konsisten terus bertumbuh secara jangka panjang.
  • Saham Big Caps dan Second Liner / Small Caps. Contoh: Saham big caps seperti BCA atau BRI pergerakan harga saham tidak terlalu fluktuatif. Sehingga potensi profit dari saham big caps juga tidak terlalu besar. Tetapi jika pasar pulih maka saham ini yang akan naik paling cepat. Saham second liner / small caps adalah saham yang fluktuatif sehingga potensi penurunan dan kenaikan harga saham juga tinggi.
  • Saham dan Emas. Contoh: ketika ekonomi baik maka saham akan menghasilkan return yang baik, ketika ekonomi buruk maka emas akan menghasilkan return yang baik. Tapi untuk investasi emas nanti saya akan bahas lebih lanjut.

Umumnya seorang investor sudah menentukan porsi pembagian besaran modal didalam diversifikasi saham kita. Contoh misalkan saya membagi diversifikasi saya menjadi saham dividen besar dan saham konsisten bertumbuh. Dengan total modal investasi 100 juta, maka:

  • 40% untuk porsi saham dividen besar yang artinya total investasi 40 juta di kategori saham ini
  • 60% untuk porsi saham dividen besar yang artinya total investasi 60 juta di kategori saham ini
  • Untuk kategori saham besar saya mau berinvestasi di 2 saham, maka saya memiliki anggaran 20 juta di satu saham tersebut

Teknik 1-2-3-5 untuk Average Down di Investasi Saham

Angka 1-2-3-5 jika ditotalkan berjumlah 11.

Artinya jika modal 1 saham anda targetnya adalah 20 jt. Maka :

  • Pembelian pertama adalah 1.8jt (20jt/11)
  • Pembelian kedua adalah 3.6jt (1.8jtx2)
  • Pembelian ketiga adalah 5.4jt (1.8jtx3)
  • Pembelian keempat adalah 10jt (1.8jtx5 bulatkan dengan sisa modal)

Nb: sebenarnya tidak ada sisa modal jika dari awal tidak ada pembulatan kebawah

Kapan jarak pembelian pertama dan kedua dilakukan umumnya setelah mengalami target penurunan untuk average down kita sebagai contoh tiap penurunan 10% dari harga beli kita.

  • Pembelian pertama di harga 1000
  • Pembelian kedua di harga 900 (-10%)
  • Pembelian ketiga di harga 810 (-10%)
  • Pembelian keempat di harga 730 (-10%)

Atau kalau mau lebih aman lagi penurunan 10% dari angka pembelian awal

  • Pembelian perrama di harga 1000
  • Pembelian kedua di harga 900
  • Pembelian ketiga di harga 800
  • Pembelian keempat di harga 700

Tinggal sesuaikan mana yang lebih cocok untuk anda.

Dengan cara seperti ini, jika suatu saat saham kita mengalami penurunan hingga 30% dari harga beli awal maka kita bisa tetap mendapatkan harga rata2 yang bagus.

Jika turun lebih dari itu, itu namanya nasib dan itu sangat mungkin terjadi. Tetapi setidaknya kita sudah semaksimal mungkin mendapatkan harga average down terbaik.

Target minimum profit untuk investasi saham yang harga terus naik

Dalam membeli saham maka kita harus menentukan target kita akan exit dari saham tersebut. Target exit tersebut bisa berupa harga ataupun kondisi.

Misalkan saya membeli saham perusahaan A dengan target buy di harga 1.000. Dan saya memiliki target untuk jual di harga 3.000 (200% profit).

Andaikata saya memiliki rencana holding period 5 tahun dan ingin mendapatkan return 30% per tahun, maka investasi saya minimal harus 150% return.

Jika target jual saya adalah di harga 3.000 artinya harga rata2 pembelian saya tidak boleh diatas 1.200.

Jadi aturan pertama untuk average up adalah anda boleh average up jika membuat harga rata2 pembelian kita masih bisa memenuhi target profit dari sistem investasi yang sudah kita buat.

Dan saya sarankan untuk tidak gegabah menggunakan banyak peluru anda dalam melakukan average up, karena kita tidak pernah tahu kapan saham yang anda incar memberikan promo bagus.

Langkah 5 – Realisasi Profit

Tujuan investasi saham tentu adalah mendapatkan profit atau keuntungan. Lalu kapan kita perlu perlu melakukan realisasi profit?

Kondisi 1 – Sudah memenuhi target profit

Diatas kita sudah belajar bagaimana menghitung nilai wajar suatu saham. Nilai wajar ini adalah target profit minimum yang akan kita realisasikan. Ada baiknya jika sudah mencapai nilai intrinsik / harga wajar maka kita melepaskan sebagian saham kita untuk realisasi profit kita.

Ketika saham perusahaan kita mencapai nilai intrinsik / harga wajar maka biasanya market menjadi optimis di saham kita. Maka kita akan muncul perasaan rakus untuk mendapatkan profit lebih besar lagi.

Tapi apakah benar kita akan mendapatkan profit lebih besar lagi atau justru harga akan berbalik turun. Tidak ada yang bisa mengetahui hal itu. Untuk itu jika sudah mencapai target minimum profit ada baiknya kita menjalankan trailing stop untuk menjaga keuntungan saham kita.

Kondisi 2 – Perubahan kinerja perusahaan menjadi negatif

Perusahaan yang anda beli tadinya memiliki profit bagus berbalik menjadi rugi. Menemukan kasus gagal bayar hutang. Jual saham anda jika ada informasi negatif lainnya yang menunjukan ada masalah serius di perusahaan yang anda beli.

Tapi ingat berita negatif ini haruslah company risk dan bukan market risk. Karena ini cuma masalah waktu sampai perusahaan anda mengalami penurunan harga saham yang besar.

Lebih baik anda realisasi profit selagi anda masih menikmati keuntungan dan realisasi kerugian sebelum kerugian bertambah besar.

Kondisi 3 – Menemukan saham baik yang lebih menarik

Jika di portofolio saham anda saat ini anda memiliki saham yang masih berpotensi naik 20% dan anda menemukan saham yang memiliki potensi naik 100%. Tentu akan menjadi keputusan bijaksana untuk anda memindahkan sebagian dana anda dari saham pertama ke saham kedua. Dry Powder tidak selalu uang kas menganggur di saldo bank anda. Tapi juga termasuk saham yang sudah anda beli.

Kelebihan dan Kekurangan Value Investing

Kelebihan value investing

Berinvestasi menggunakan teknik value investing memiliki beberapa kelebihan yaitu:

  1. Mengetahui dengan baik kondisi perusahaan yang dibeli. Dalam value investing kita diwajibkan untuk melakukan analisa fundamental secara mendalam terhadap persuhaan yang akan dibeli. Dengan melakukan analisa fundamental maka kita mengetahui dengan baik kondisi perusahaan tersebut. Ketika saya masih menjadi trader saya merinding ketika melihat analisa fundamental dari perusahaan yang saya beli.
  2. Mengetahui harga wajar suatu perusahaan. Dalam value investing kita wajib menghitung nilai intrinsik / harga wajar perusahaan. Membeli dibawah harga wajar dengan margin of safety adalah sesuatu yang lebih logis dibandingkan dengan hanya melihat garis support ataupun resistance dari data historis saham.
  3. Memiliki banyak waktu luang. Value investor harus meluangkan banyak waktu ketika di awal perjalanan untuk melakukan analisa fundamental perusahaan. Tapi setelah mendapatkan perusahaan yang mau diincar, maka tugas berikutnya cuma buy dan memonitor tidak ada masalah besar di laporan keuangan yang diterbitkan selanjutnya (tiap 3 bulan). Sedangkan menjadi trader, kita diwajibkan melakukan analisa setiap harinya.
  4. Holding period lebih panjang berarti lebih aman. Market sering bersifat tidak rasional. Dan kita tidak pernah tahu kapan dan berapa lama market bersifat tidak rasional. Tapi secara jangka panjang, maka market biasanya sudah berpikir lebih logis dan menghargai saham sesuai nilai wajarnya.

Kelemahan value investing

Berinvestasi menggunakan teknik value investing memiliki beberapa kelemahan:

  1. Terbiasa melihat floating loss besar. Ketika market tidak rasional sering kali harga saham perusahaan bagus dihargai sangat rendah. Gunakan teknik 1-2-3-5 sebagai solusi permasalahan ini. Dan tidak pernah ada yang salah jika anda memutuskan mau menggunakan trailing stop.
  2. Average return tahunan tidak besar. Saya tidak memasang target tinggi untuk investasi saham saya. Target capital gain saya hanya 100% untuk holding period maksimal 5 tahun. Yang berarti average return 20% / tahun. Bandingkan dengan trader yang bercita – cita mendapatkan return 5% dalam seminggu atau 30-50% dalam 1 tahun. Tidak perlu merasa iri dengan hal itu. Sebagai value investor mendapatkan return 20% untuk modal 10 juta dengan modal 10 miliar menggunakan cara yang sama. Tapi kalau anda seorang trader, anda akan mengetahui bagaimana berbeda jauh memainkan modal kecil dengan modal besar. Average return tidak besar dari modal besar jauh lebih baik daripada average return besar dari modal kecil.

Kesimpulan

Sebagai seorang value investor yang menggunakan teknik value investing kita hanya membeli saham perusahaan bagus dan dijual murah.

Saat ini kita para value investor sudah dimanjakan oleh berbagai software yang memudahkan kita untuk melakukan screening saham sesuai dengan kriteria yang kita terapkan.

Kita perlu mengetahui bagaimana cara menghitung harga wajar / nilai intrinsik suatu saham. Selalu gunakan margin of safety untuk mengurangi resiko dan meningkatn profit investasi kita.

Penting bagi seorang value investor untuk mengetahui timing yang tepat untuk masuk dan keluar dari investasi saham kita. Dan selalu ingat jangan terburu – buru menghabiskan dry powder kita sebagai investor.

Jika anda tidak ingin membuang banyak waktu dalam monitor pasar saham tapi mendapatkan return yang lumayan besar secara konsisten dari modal investasi besar maka value investing adalah teknik yang tepat untuk anda.

- Advertisement -

Follow Us:

Support us:

Latest articles

Kisah Inspiratif – Menggenggam Masalah

Bayu adalah seorang anak berusia 7 tahun. Dia sedang masuk ke ruang keluarga tempat dimana ayah dan ibunya sedang bersantai. Ketika sang ibu melihat...

Belajar Investasi Saham Dari Kenneth L Fisher

Kenneth Fisher adalah orang yang mempopulerkan tentang price to  sales ratio. Kebanyakan investor berpatokan pada price to earning ratio yang membandingkan harga saham dengan...

Belajar Kategori Saham Peter Lynch Dari Kisah Hidup Mike Tyson & Memilih Cerita Yang Tepat Untuk Kategori Saham

Seperti yang banyak orang tahu, Peter Lynch membagi saham menjadi enak kategori. Sudah banyak yang membahas tentang ini. Jadi saya mencoba menjelaskan dengan cara...

Belajar Lebih Dalam Tentang Saham Cyclical

Banyak orang yang memandang saham cyclical tidak cocok menjadi instrumen investasi karena ini merupakan investasi yang berisiko. Saya setuju sekali bahwa investasi di saham cyclical...

Related articles