in

LoveLove

NCAV cara nawar sadis ala Benjamin Graham

NCAV Benjamin Graham
NCAV Benjamin Graham

NCAV (Net Current Asset Value) adalah salah satu perhitungan yang sering digunakan oleh Benjamin Graham. Bahkan saking pentingnya, didalam salah satu babnya, Benjamin Graham memberikan statement keras untuk tidak membeli lagi perusahaan yang terlihat atraktif yang tidak bisa diperoleh kurang dari 0.75 NCAV. Yang akhirnya dikenal publik dengan istilah Benjamin Graham Two-Thirds NCAV.

Tetapi di bab berikutnya, Benjamin Graham memberikan keringanan bagi investor agresif untuk kriteria NCAV ini maksimum 1.2.

Jadi jika anda adalah investor defensif sebaiknya membeli saham maksimum 0.75 NCAV dan jika anda adalah investor agresif sebaiknya membeli saham maksimum 1.2 NCAV.

Logika dibalik metode perhitungan NCAV Benjamin Graham

Sebelum bahas logika dibaliknya, mari kita bahas rumus perhitungan NCAV terlebih dahulu

NCAV = (Current asset – total liabilities – preferred stock) / total share outstanding

Benjamin Graham menyadari bahwa non-current assets adalah sesuatu yang seringkali bias (bahasa sopan yang bisa saya gunakan). Misalkan terkandung nilai goodwill yang besar dimana bisa jadi mengulang cerita konyol Lucent (salah satu perusahaan di bursa US) yang membeli chromatic network dengan nilai 4.8 Miliar USD dengan nilai goodwill 4.3 Miliar USD. Yang artinya perusahaan membayar sebuah perusahaan seharga 500 juta USD dengan harga 4.8 Miliar USD. Menggunakan angka total assets ataupun non-current assets sering kali akan membuat kita jatuh ke tindakan konyol cendrung dermawan yang dilakukan oleh emiten.

Tentu saja current asset juga secara definisi adalah aset yang gampang dicairkan dalam waktu kurang dari satu tahun. Sebuah aset yang bersifat liquid. Tapi nanti saya akan bahas ini lebih lanjut di bagian akhir.

Lalu apa itu preferred stock (saham preferen)? Ini adalah jenis saham berbeda dengan common stock (saham biasa) yang biasa kita jual belikan di market. Perbedaannya adalah sebagai berikut:

  • Saham preferen mirip dengan obligasi sehingga disebut kombinasi saham-obligasi. Pemilik saham preferen bisa mendapatkan dividend dengan imbal hasil tetap dan akan dibayarkan terlebih dahulu sebelum membayarkan dividen untuk pemilik saham biasa (yang belum tentu mendapatkan dividen).
  • Saham biasa memiliki hak voting, jadi kalau kalian ikut e-RUPS biasanya kan kalian diminta isi kuesioner setuju atau tidak setuju. Panduan e-RUPS bisa dibaca di link https://www.investorsaham.id/cara-mengikuti-e-rups-studi-kasus-mpmx/. Sedangkan pemilik saham preferen tidak memiliki hak voting
  • Saham biasa lebih mudah diperjualbelikan, sedangkan saham preferen lebih sulit diperjualbelikan. Saya agak sulit menemukan contoh emiten yang memiliki saham preferen. Satu-satunya yang bisa saya temukan adalah MAMI. Jika anda mau beli saham biasa anda bisa beli saham dengan kode MAMI. Jika anda mau beli saham preferennya maka anda bisa beli dengan kode MAMIP.
  • Jika terjadi proses likuidasi perusahaan, maka pemilik saham preferen akan mendapatkan likuidasi asset lebih cepat daripada pemilik saham biasa. Jika perusahaan bangkrut maka aset perusahaan akan dilikuidasi dan dibayarkan dengan urutan sebagai berikut:
    • Hutang Bank
    • Pemilik obligasi
    • Pemilik saham preferen
    • Pemilik saham biasa (kalau itupun masih ada sisa aset tersisa untuk dibayarkan)

Perhitungan NCAV sebenarnya untuk mengantisipasi jika terjadi skenario likuidasi perusahaan seperti yang saya jelaskan diatas. Itu kenapa NCAV tidak sama dengan working capital yang hanya menghitung current liabilities (hutang jatuh tempo dalam 1 tahun) tetapi menghitung total liabilities (karena hutang bank dan hutang obligasi biasanya lebih dari 1 tahun dan masuk dalam kelompok ini).

Kenapa perlu dikurangi juga dengan saldo saham preferen? karena saldo pemilik saham preferen termasuk di kelompok equity (modal perusahaan). Sehingga hanya mengurangkan current liabilities artinya belum menghitung nilai likuidasi untuk pemilik saham preferen. Kita sebagai pemilik saham biasa (common stock) harus memastikan downside kita, jika perusahaan bangkrut ya setidaknya seberapa besar pengembalian yang masih bisa kita dapatkan dari likuidasi asetnya dengan estimasi sepesimis mungkin. Inilah logika dibalik perhitungan NCAV milik Benjamin Graham.

Hal ini artinya semakin kecil perbandingan P/NCAV maka semakin menarik. Tapi kalau P/NCAV negatif maka artinya itu adalah hal yang buruk karena current asset yang dimiliki perusahaan tidak cukup untuk membayarkan total hutang. Lah kalo P/NCAV negatif mank pasti karena NCAV nya negatif? Sepanjang perjalanan saya investasi saya belum pernah melihat kasus P(Price / harga saham) negatif. Saya agak pesimis harga saham bisa ada kasus negatif di kemudian hari, walaupun tahun 2020 mengajarkan kepada kita bahwa harga oil bisa dijual dengan harga minus (yang beli justru dibayar). Tapi kalau oil kan ada bayar biaya untuk storage dan itu mahal, jadi pada tahun 2020 lalu daripada ga punya storage untuk tampung lagi dah kamu ambil aja barang saya ga sah bayar malah saya kasih kamu uang. Sebuah hal unik yang benar – benar kejadian. Tapi untuk saham saya ragu akan ada harga negatif.

Lalu bagaimana mencari saldo saham preferen? Sampai saat ini pun saya masih kesulitan untuk menemukan contoh angkanya didalam laporan keuangan. Beruntungnya di Indonesia kayanya hampir tidak ada perusahaan yang memiliki saham preferen. Saya cuma menemukan MAMI untuk kasus ini.

By the way saya sebut MAMI bukan atas rekomendasi ya. Ini benar semata karena ketika saya riset saham preferen saya hanya ketemu MAMI emiten di Indonesia yang memiliki saham preferen. Kalau kalian ada temukan saham lain yang ada saham preferen dan tau cara ceknya silahkan tulis di kolom komentar ya.

Screening Saham dengan P/NCAV

Beruntung di stockbit ada kriteria screening P/NCAV, jadi buat kalian yang malas hitung P/NCAV bisa menggunakan kriteria screening di stockbit.

Apa itu P/NCAV? ini mirip halnya dengan PBV (Price to book value). Jadi perbandingan market cap dengan NCAV. Misalkan market cap 100 Miliar dan NCAV 200 Miliar maka P/NCAV bernilai 0.5 (100 miliar / 200 miliar).

Semakin kecil P/NCAV semakin baik ASALKAN tidak minus. Karena kalau minus maka berarti NCAV bernilai negatif. NCAV bernilai negatif ini berarti kemampuan perusahaan membayar hutang jika terjadi likuidasi tidaklah baik.

Screening NCAV - Stockbit
Screening dengan parameter NCAV – Stockbit

Maka untuk kondisi hari ini 26 Juni 2021 akan didapatkan 21 emiten terjaring untuk kriteria P/NCAV <= 0.75 dan akan didapatkan 41 emiten dengan kriteria P/NCAV <=1.2

Hasil Screening P/NCAV <=0.75 (26 June 2021)
Hasil Screening P/NCAV <=0.75 (26 June 2021)
ambahan emiten P/NCAV <=1.2 (26 June 2021)
Tambahan emiten P/NCAV <=1.2 (26 June 2021)

Hal penting yang perlu diperhatikan dalam penggunaan NCAV

NCAV adalah metode perhitungan untuk kita mencari harga beli yang baik dengan mempertimbangkan kemampuan perusahaan ketika terjadi likuidasi. Baiklah orang akan banyak yang komplain seperti halnya ketika saya bahas EV to EBIT. Beli perusahaan kok mikir berapa asetnya jika bangkrut. Kalau value investor kan harusnya beli perusahaan yang prospeknya bagus masa takut bangkrut.

Kalau bisa ketemu perusahaan bagus kinerja, prospek dan juga sangat murah kenapa harus ditolak?

Tetapi perlu diingat P/NCAV bukanlah faktor untuk memilih mana perusahaan yang dibeli. Jika anda sudah ketemu perusahaan yang mau anda beli, maka P/NCAV ini dapat dijadikan panduan berapa harga beli minimum. Jangan kebolak balik ya, karena kalau anda lihat dari daftar emiten diatas anda bisa ketemu emiten yang ngeri – ngeri sedap kalau anda langsung main beli saja.

Hal berikutnya yang perlu kita perhatikan, perhatikan kualitas current assets emiten ini. Tanpa bermaksud membuka luka lama teman – teman yang nyangkut di TELE. Mungkin beberapa pembaca tulisan lama saya masih ingat ketika Februari 2020 pada link https://my.stockbit.com/post/3491521 saya ada “mengkritisi” keanehan besarnya saldo piutang dan persediaan TELE yang diluar akal sehat saya. Hal yang membuat saya cukup banyak dikritik setelahnya karena memberikan statement yang seperti orang gak paham bisnis itu. Untungnya setahun berselang kecurigaan saya persis terjadi benar.

Jadi jika anda menemukan sesuatu angka yang kurang masuk akal sehat anda pada kelompok current assets maka saran saya sebaiknya berhati – hati dan mungkin lebih baik anda mencari peluang di emiten lain dibandingkan anda tidak nyaman seperti yang saya pernah jelaskan pada salah satu tulisan stockbit saya di link https://my.stockbit.com/post/6581324 yang berjudul menarik tapi mengkhawatirkan.

Hari ini ada yang mengajukan pertanyaan kepada saya di stockbit yang menanyakan insight saya terhadap suatu emiten. Saya menanggapi emiten ini memiliki keanehan pada saldo kas yang justru merupakan daya tarik emiten ini. Anda bisa lihat penjelasan saya pada link https://my.stockbit.com/post/6608757

Dalam analisa laporan keuangan, please jangan mengikuti nasihat yang menurut saya sesat yang hanya mengajarkan untuk melihat angka-angka pada ratio keuangan saja. Para serigala pasar modal memanfaatkan hal tersebut dengan financial engineering. Analisa laporan keuangan yang menyeluruh (membaca detail laporan keuangan) sebelum anda menekan tombol buy adalah sesuatu yang wajib anda lakukan untuk menyelamatkan anda dari jurang kerugian.

Apakah kita harus beli saham nunggu P/NCAV dibawah batas atas seperti yang dijelaskan oleh Benjamin Graham? Mungkin cocok kalau untuk pemain dana besar yang sekali beli langsung full muatan. Kalau pemain ritel biasa aja kaya saya yang rutin beli dari sisihkan pendapatan sayangnya sulit kalau harus seperti itu. Karena kalau beli saham perusahaan bagus DAN murah akan suatu saat diapresiasi oleh market. Hal ini membuat saya tidak bisa full muatan jika tidak berani beli lebih mahal. Hingga saat ini saya masih membeli semua saham yang saya tulis di hidden gem series saya walaupun sudah naik dan tidak sesuai lagi dengan konsep P/NCAV ini.

Materi ini sebagai tambahan knowledge untuk kalian dan bisa juga dijadikan pertimbangan untuk parameter screening kalian ketika mencari saham baru nantinya.

Follow me on:

What do you think?

Written by Thowilz

Saya adalah seorang value investor yang memiliki passion untuk mengajarkan teknik value investing kepada investor lainnya. Anda dapat membaca tulisan saya di stockbit (@thowilz), instagram, dan social media investorsaham.id lainnya.

Comments

Leave a Reply

7 Pings & Trackbacks

  1. Pingback:

  2. Pingback:

  3. Pingback:

  4. Pingback:

  5. Pingback:

  6. Pingback:

  7. Pingback:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

0