in

LoveLove

Yuk Belajar Diversifikasi Saham

Diversifikasi Saham
Diversifikasi Saham

Banyak orang yang sudah mulai berinvestasi saham tetapi masih bingung tentang diversifikasi saham. Beberapa hari lalu saya membuat tulisan tentang diet portofolio, dimana saya mulai mencoba menurunkan jumlah saham didalam portofolio saya dari 25 saham sekarang tinggal 16 saham. Target saya di tahun depan saya hanya memiliki 10-12 saham saja didalam portofolio.

Diet portofolio yang saya jelaskan di Instagram saya bukan berarti menurunkan total dana yang saya investasikan didalam pasar modal. Tetapi lebih memfokuskan dana dari saham yang saya rasa kurang menarik kepada pilihan saham yang saya rasa lebih menarik. Sehingga dana lebih terkonsentrasi pada beberapa saham yang saya lebih percaya diri memberikan return yang lebih baik. Untuk lebih jelasnya anda bisa langsung ke postingan instagram saya tersebut.

Usually a very long list of securities is not a sign of the brilliant investor, but of one is unsure of himself.”

Philip Fisher

Seperti saran daripada investor hebat yang terbukti sukses seperti Peter Lynch, Warren Buffet, Charlie Munger, Philip Fisher dan banyak investor legend lainnya menyarankan sebaiknya investor ritel dengan dana yang tidak besar janganlah melakukan diversifikasi saham yang terlalu luas.

Alasan tidak melakukan investasi saham terlalu luas?

Alasan pertama kenapa investor kecil seperti saya tidak boleh melakukan diversifikasi saham terlalu luas karena ini berarti anda mengijinkan penurunan kualitas pemilihan saham anda. Anda seharusnya cukup memilih beberapa pilihan terbaik dibandingkan memilih beberapa pilihan cukup baik.

Alasannya simple, Jika anda memiliki 50 saham dengan screening saham cukup baik dan anda tidak paham detail bisnis dari perusahaan yang anda beli, maka benar anda bisa mendapatkan beberapa pilihan saham yang meraih keuntungan cepat tapi satu sisi juga memperbesar pilihan saham anda yang nyangkut.

Jauh lebih mudah memilih 5 – 10 saham terbaik yang anda yakini akan meraih keuntungan besar dibandingkan memilih 50 saham yang akan memberi keuntungan besar. Semakin sedikit pilihan saham anda, semakin ketat seleksi yang anda bisa lakukan untuk memilih yang terbaik dari semua pilihan yang anda.

Alasan kedua pilihan saham yang bagus hanya akan memberikan return biasa saja karena anda membuang dana anda terlalu banyak kepada saham yang kurang bagus.

Chart of Portofolio Return – Mirae Sekuritas

Pada tahun ini, saya mulai melakukan konsentrasi dana saya hanya kepada beberapa saham yang saya yakini memiliki prospek bagus. Ketika dry powder benar – benar sudah mengering maka saya melakukan pengalihan dana dari pilihan saham saya yang kurang menarik ke saham yang saya rasa menarik. Pada per kondisi return hari ini +/- 40% dari total modal.

Saya rasa hal itu yang menjadikan return portofolio saya memiliki return diatas market saat ini. Return yang baik ini saya rasa di tahun ini hanya disumbangkan oleh beberapa saham yang memberikan return YTD yang baik secara nominal rupiah ataupun persentase, seperti:

  • SMDR return YTD +120.07%
  • ADES return YTD +107%
  • ABMM return YTD + 71.05%
  • PSSI return +67.82%
  • MPMX return YTD + 42.71%
  • ITMG return YTD + 23.65%
  • PTRO return YTD +21.76%
  • PBID return YTD +20.91%

Pada satu sisi juga ada beberapa saham yang sebenarnya memiliki penurunan yang juga tidak kalah jelek secara YTD:

  • ELSA return YTD -21.59%
  • Saham turnaround return 3 bulan lalu (awal beli) -14%

Sedangkan saham – saham lain kurang lebih pada range -10% sampai +10% return saat ini.

Beruntung saya memfokuskan dana saya di tahun ini pada beberapa saham yang tepat yang memang memberikan return paling baik walaupun tidak yang terbaik. Sehingga walaupun ada beberapa cut loss di tahun ini yang cukup besar karena saya harus mengakui kesalahan analisa saya membuat return investasi saya tidak jelek di tahun ini.

Tingkat risiko dan Peluang Profit

Pertanyaan berikutnya yang selalu akan ditanyakan adalah berapa idealnya jumlah saham yang harusnya ada didalam portofolio kita? untuk menjawab itu maka kita harus paham apa fungsi dari diversifikasi terlebih dahulu.

Diversifikasi berguna untuk mengatur risiko didalam investasi kita. Karena tentu saja kita bisa salah melakukan analisa ataupun market belum kembali rasional.

Sehingga dalam menentukan berapa jumlah saham kita didalam portofolio maka kita harus mengetahui bagaimana karakteristik risiko dan peluang profit saham yang kita mau beli.

1. Risiko kecil dengan peluang profit yang besar

Saham fast growth adalah saham dengan karakteristik ini. Mari saya ambil satu contoh pada saham yang saya pernah bahas pada tulisan terkait keuntungan investasi jangka panjang, yaitu BBRI pada tahun 2008.

Baca juga : Belajar meningkatkan return saham dari game clash of clans

BBRI pada tahun itu adalah sebuah perusahaan yang termasuk fast growth, pada tahun 2008 bisa menghasilkan laba 5.9T, pada tahun 2009 menghasilkan return 7.3T (+23%), pada tahun 2010 menghasilkan return 11.4T (+56%), pada tahun 2011 menghasilkan return 15T (+31%). Jelas BBRI adalah perusahaan fast growth yang sangat bagus pada masa itu.

Tapi itu bukan berarti anda tidak bisa mengalami floating loss yang menyeramkan jika masuk pada waktu yang salah. Jika anda beli BBRI pada januari 2008 maka anda akan mendapatkan BBRI pada harga 625. Setelah itu saham fast growh ini mengalami penurunan harga hingga harga 336 atau penurunan sebesar -46% hanya dalam waktu beberapa bulan saja.

Ketika market dalam kondisi tidak rasional seperti pada tahun 2008, perusahan sebaik apapun akan kena hukuman. Tetapi perusahaan yang konsisten menghasilkan laba dan bisa terus meningkatkan laba hanya akan masalah waktu untuk diapresiasi market. Siapa yang tidak suka perusahaan yang rajin dan terus meningkatkan laba perusahaan?

Jika kita lihat BBRI hari ini ada di harga 3.700 (saya bulatkan kebawah) yang artinya +492% dari harga pembelian pucuk anda di tahun tersebut. Terakhir kali BBRI membagikan dividen sebesar 98 rupiah atau 15.6% dari harga pembelian pucuk anda pada tahun 2008.

Itu kenapa berinvestasi pada perusahaan fast growth yang baik memiliki tingkat risiko dan peluang profit yang bagus dalam jangka panjang. Jika anda rasa ini kebetulan, maka silahkan anda cek bagaimana BBCA, SIDO, ULTJ dan perusahaan fast growth bagus lainnya. Anda akan menemukan nasib yang kurang lebih sama dengan BBRI dalam jangka panjang.

Untuk perusahaan fast growth sebaiknya batasi maksimal 20% dari total modal anda untuk satu saham. Artinya jika anda hanya mau berinvestasi pada saham fast growth anda hanya kemungkinan memiliki minimal 5 saham saja didalam portofolio anda.

2. Risiko kecil dengan peluang profit yang biasa saja

Jika anda membeli perusahaan asset play yang baik seperti halnya ketika saya membeli MMLP dimana saat saya beli pertama kali di harga 180 sebelum akhirnya diberikan kesempatan untuk average down di 136-150. Maka saya dihadapkan pada posisi :

Market cap 1.2T, Cash 176M, Aset Property 6T, total liabilities 1.3T dan perusahaan bisa menghasilkan laba tahunan diatas 200M saat saya membeli emiten ini. Saya rasa ketika orang mengetahui bahwa dari nilai aset real yang terlalu murah seperti ini dibandingkan market cap maka akan hanya masalah waktu untuk market sadar dan apresiasi. Tetapi besar dari apresiasi market kepada saham seperti ini hanya akan sebesar harga wajar berdasarkan nilai asset play nya saja. Itu kenapa saham asset play jarang yang bisa memberikan return diatas 5x dari total modal. Saya pribadi return 2-3x dari total modal saya sudah cukup puas dari investasi di saham dengan karakter ini.

Yang memang agak tricky adalah saham sektor cyclical terutama sektor komoditas. Sebuah sektor yang sulit untuk memiliki growth konsisten dari volume penjualan dan growth hanya tergantung dari kenaikan harga jual produknya. Akan menjadi sebuah hal yang memiliki risiko aman ketika anda bisa mendapatkan saham cyclical di harga yang sangat murah yang biasanya disebabkan karena harga komoditas yang sangat jatuh saat itu.

Seperti halnya ada harga yang terlalu mahal sehingga tidak bisa naik lagi, pada sisi lain ada harga yang terlalu murah sehingga tidak bisa turun lagi. Jika sudah tidak bisa turun lagi dan barang itu masih akan dibutuhkan maka biasanya hanya ada satu story. Customer menumpuk barang tersebut dalam jumlah banyak karena harga murah, peningkatan permintaan karena aksi pengumpulan harga murah akan meningkatkan demand, demand meningkatkan harga komoditas tersebut.

Pada tahun 2020 kemarin bahkan anda bisa mendapatkan ITMG di harga 5900-8000. Jika kondisi harga batu bara dalam kondisi baik maka akan menjadi normal jika emiten ini bisa memberikan dividend sekitar 3.000 pertahun. Pada kondisi harga batu bara sejelek tahun 2020 pun perusahaan masih bisa menghasilkan profit.

Tetapi sayangnya untuk saham cyclical ini, harga jual komoditas tidak akan selalu dipucuk, akan ada saatnya kerakusan perusahaan untuk meningkatkan kapasitas produksi karena bagusnya harga jual akan membuat supply lebih banyak daripada demand yang berujung kepada penurunan harga jual komoditas tersebut.

Itu kenapa investasi pada saham cyclical akan memberikan anda return yang menyenangkan tapi tidak bisa terlalu besar seperti halnya fast growth. Interval waktu untuk compounding laba perusahaan adalah faktor pembeda untuk kedua klasifikasi saham ini.

Apalagi ketika harga jual jatuh maka -90% dari ATH biasanya bukanlah kemungkinan tapi seringkali jadi kepastian pada saham-saham cyclical. Ini kenapa market akan sering berhati-hati sehingga ada batas profit yang akhirnya bisa dicapai pada klasifikasi ini.

Peluang profit yang terbatas dan anda harus exit dalam interval waktu tidak lama membuat anda sebaiknya hanya menempatkan alokasi dana 10% dari total modal anda pada satu saham untuk kedua klasifikasi tersebut.

3. Resiko besar dengan peluang profit sangat besar

Saham turnaround adalah saham yang masuk pada kategori ini, sebuah perusahaan yang sebelumnya berkinerja jelek bertransformasi menjadi perusahaan bagus. Sayangnya bukan hal mudah untuk menemukan saham turnaround yang bagus. Yang ini berarti sulit juga untuk membuat market sadar bahwa perusahaan ini berhasil turnaround sehingga diminati dan diapresiasi oleh market.

Membeli emiten turnaround pada fase awal adalah sebuah pilihan yang sangat berisiko dan memberikan return sangat besar.Seringkali anda butuh waktu sangat lama hingga market akhirnya menyadari keberhasilan emiten ini untuk turnaround.

Selama apa waktu yang dibutuhkan? sebuah perusahaan yang berhasil turnaround di tahun 2009 yang mengubah kerugian -32M dari tahun 2008 dan berhasil menghasilkan profit 16M di tahun 2009 saat itu dihargai market cap dibawah 500M hingga baru pada tahun 2020 perusahaan ini baru mulai dilirik oleh market ketika sudah berhasil meningkatkan laba hingga 84M dan terus meningkat hingga sekarang.

Jika anda berinvestasi pada saham masih dalam fase konfirmasi turnaround akan berhasil atau tidak sebaiknya batasi jumlah investment anda maksimal 5% pada satu saham. Takutnya anda nyangkut kelamaan dan jadi phobia pada saham tersebut. Yang akhirnya anda akan keluar ketika untung dikit dan ditinggal kabur ketika naik kencang karena ketakutan anda nyangkut kelamaan di saham turnaround.

Untuk saham turnaround saya rasa selalu lebih baik terlambat daripada kecepatan. Coba lihat lagi diatas saya ada tulis saham turnaround yang saya confident akan berhasil harus mengalami floating loss lumayan dalam waktu singkat. Tidak mudah untuk berinvestasi pada saham turnaround yang masih didalam fase awal. Tapi jika berhasil, maka anda benar-benar mendapatkan jackpot luar biasa nikmat nantinya (jika anda mengerti yang anda beli).

4. Saham Risiko Besar Untuk Uji Nyali

Tidak lengkap rasanya didalam dunia investasi ini jika bermain terlalu aman, seringkali sambil menunggu saham kita multibagger kita tergoda untuk menguji adrenaline kita. Unsur spekulasi selalu ada didalam diri manusia.

Sulit untuk membatasi manusia untuk tidak 100% berspekulasi sama sekali. Tetapi tugas kita sebagai investor punya akal sehat jika mau berspekulasi maka batasi dengan jumlah uang yang ANDA RELA HILANG.

Uang yang anda rela hilang bukan secara persentase loss tetapi secara nilai rupiah dengan asumsi loss semuanya. Itulah batas maksimal anda berinvestasi pada satu saham spekulasi.

Jika anda masih bisa tidur nyenyak jika kehilangan maksimal 3 juta maka itulah batas dana spekulasi anda. Jika anda hanya bisa tidur nyenyak maksimal 300 ribu maka itulah batas dana spekulasi anda. Jika anda tidak rela kehilangan uang 1 rupiah pun maka JANGAN SPEKULASI.

Menghitung jumlah saham didalam portofolio kita

Setelah saya jelaskan tingkat risiko dan peluang profit, maka kita akan mendapatkan rangkuman sebagai berikut:

  • Saham fast growth maksimal 20% dari total dana untuk satu saham
  • Saham asset play ataupun cyclical maksimal 10% dari total dana untuk satu saham
  • Saham turnaround maksimal 5% dari total dana untuk satu saham
  • Saham spekulasi maksimal duit yang anda ikhlas hilang 100%.

Angka persentase didalam tiap klasifikasi ini tentu bisa anda ubah sesuai preferensi anda, tetapi yang risiko lebih kecil dan profit lebih baik sebaiknya diberikan alokasi dana yang lebih besar.

Jadi dari 100% dana anda bisa anda atur dengan beberapa kombinasi sebagai berikut:

  • 5 saham fast growth (20% per saham)
  • 3 saham fast growth (total 60% dana) + 3 saham cyclical (total 30% dana) + 1 saham asset play (total 10% dana)
  • 3 saham fast growth (total 60% dana) + 2 saham cyclical (total 20% dana) + 1 saham asset play (total 10% dana) + 2 saham turnaround (total 10% dana)

Anda bisa buat kombinasi seperti yang anda lebih suka, contoh kombinasi diatas hanyalah contoh gambaran saja dari saya.

Sektor yang sama atau berbeda?

Selain klasifikasi saham yang berbeda dalam mengatur diversifikasi saham, ada baiknya juga anda melakukan diversifikasi berdasarkan sektor yang berbeda.

Jika anda melakukan diversifikasi saham pada 10 emiten bank dengan klasifikasi yang sama maka itu bukanlah diversifikasi. Karena ketika ada kebijakan pemerintah yang memberatkan sektor perbankan semua emiten anda akan terkena dampaknya. Anda tidak melakukan pembagian risiko yang merupakan tujuan yang ingin dicapai dalam melakukan diversifikasi saham.

Tetapi anda boleh melakukan diversifikasi saham pada sektor yang sama dengan klasifikasi atau karakter usaha yang berbeda. Sebagai contoh jika pada tahun 2020 anda membeli ITMG dan HRUM yang sama – sama emiten batu bara ini bisa dianggap diversifikasi karena HRUM saat itu merupakan klasifikasi asset play yang bukan merupakan karakter dari ITMG.

Contoh lain diversifikasi didalam sektor sejenis, misalkan saya berinvestasi pada 2 emiten kapal dimana ada PSSI dan SMDR. PSSI merupakan perusahaan kapal yang mayoritas pendapatan dari pengangkutan komoditas sedangkan SMDR lebih kearah pengangkutan yang menggunakan kontainer.

Kesimpulan

Diversifikasi saham berfungsi untuk membatasi risiko anda dalam berinvestasi saham karena anda selalu bisa salah. Itu kenapa sebagai investor saham kita harus melakukan analisa menyeluruh agar peluang kita untuk salah lebih jarang.

Jika anda sudah merasa melakukan analisa menyeluruh tapi lebih sering melakukan kesalahan maka mungkin ada yang salah dengan cara anda lakukan analisa. Akan lebih baik jika anda berinvestasi pada reksadana saja dibandingkan anda terus menambah kesalahan yang berarti mengurangi uang anda. Setidaknya reksadana membuat uang anda serasa dimainkan oleh profesional yang walaupun sebenarnya anda cuma berinvestasi pada indeks saja.

Aturan terpenting dalam berinvestasi adalah semaksimal mungkin anda tidak kehilangan uang anda. Itu kenapa kita selalu disarankan untuk meletakkan uang kita lebih banyak pada investasi yang memiliki tingkat risiko lebih kecil.

Investasi dengan tingkat risiko lebih kecil bukan berarti tidak bisa memberikan return yang besar.

Berinvestasi pada satu saham membuat anda memiliki kepastian uang anda hanya bisa hilang 100% dari total modal yang anda investasikan pada satu saham tetapi anda bisa menghasilkan return jauh dari angka tersebut.

Meminimalisasi risiko untuk lebih sedikit kehilangan uang dan menghasilkan profit yang memuaskan adalah tujuan yang mau dicapai dari diversifikasi saham.

Diversifikasi saham yang terlalu besar hanya membuat anda menjadi manja. Membuat anda membiarkan anda membeli beberapa pilihan yang cukup menarik dan bukan yang paling menarik. Paragraf ini adalah sebuah intropeksi yang saya tujukan untuk diri saya juga. Karena dengan saya memiliki 25 saham dengan dana investasi yang tidak besar adalah sebuah praktek dari hal yang dikritik oleh paragraf ini.

Jika anda adalah orang yang memiliki diversifikasi saham yang luas, coba jawab pertanyaan ini.

Berapa banyak saham didalam portofolio anda yang memberikan dampak besar kepada pertumbuhan return anda?

Berapa banyak saham didalam portofolio anda yang memberikan pemberat untuk pertumbuhan return anda?

Kemungkinan besar yang menjadi pemberat jumlah nya lebih banyak dibandingkan yang memberikan imbal hasil signifikan didalam portofolio lebar anda. Setidaknya itu yang terjadi didalam portofolio saya kemarin – kemarin.

Tapi kenapa ada saja investor besar yang memiliki puluhan saham? itu ada beberapa perbedaan. Jika dia adalah fund manager maka dia dibatasi hanya boleh memiliki maksimal sekian besar kepemilkan di satu saham saja.

Jika dia investor individu mungkin dia tidak nyaman muncul di daftar kepemilikan diatas 5%. Saya rasa justru tipe investor ini yang paling banyak terjadi. Ketika dia sudah memiliki 4.9% kepemilikan di satu saham biasanya dia tidak mau muncul di publik sehingga mulai mencari investment di emiten lain.

Saya so far masih belum mencapai taraf itu sehingga saya pastilah termasuk dalam investor kecil yang seharusnya bisa melakukan konsentrasi dana kedalam beberapa pilihan terbaik yang ada didalam investasi saya.

Follow me on:

What do you think?

Written by Thowilz

Saya adalah seorang value investor yang memiliki passion untuk mengajarkan teknik value investing kepada investor lainnya. Anda dapat membaca tulisan saya di stockbit (@thowilz), instagram, dan social media investorsaham.id lainnya.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

0