5 Langkah Value Investing – Part 3 (Risk Management & Monitoring)

adsense

Untuk mengetahui langkah – langkah yang perlu dilakukan value investing sebelumnya dapat dilihat di tulisan sebelumnya.

Baca juga : 5 Langkah Value Investing – Part 1

Baca juga : 5 Langkah Value Investing – Part 2

Langkah 4 – Money management – menentukan berapa banyak saham yang dibeli

Jika kita memiliki jumlah uang 100 juta untuk investasi saham dan anda menemukan saham yang bagus dan murah. Apakah artinya kita langsung investasikan semua uang kita kedalam saham tersebut atau tidak?

Hal ini yang sering menjadi pertanyaan para value investor. Sayangnya investasi saham sering kali tidak sesuai dengan yang kita inginkan. Harga saham bukannya naik tapi malah terus turun setelah kita beli. Harga saham bisa terus naik justru ketika kita ragu untuk membeli saham tersebut.

Maka untuk mengatasi pergumulan tersebut, kita sebagai value investor perlu mempertimbangkan 3 hal ini

Diversifikasi saham dalam Money Management

Ada yang bilang jangan tempatkan semua telor didalam 1 keranjang. Tapi ada juga yang bilang diversifikasi hanya untuk investor yang tidak mengerti apa yang dibelinya.

Jadi apakah kita sebagai value investor perlu melakukan diversifikasi? Menurut saya tetap perlu.

- Advertisement -

Tapi orang banyak salah menerti tentang diversifikasi. Banyak yang beranggapan membeli beberapa saham berbeda itu sama dengan diversifikasi.

Diversifikasi artinya membagi resiko. Jadi jika anda membeli 4 saham perusahaan tambang artinya anda tidak melakukan diversifikasi. Jika anda membeli 4 saham bank artinya anda tidak melakukan diversifikasi. Karena tingkat resiko yang dihadapi sama besarnya.

Contoh diversifikasi saham:

  • Saham yang memberikan dividen besar dan saham yang memberikan konsisten bertumbuh. Contoh: Perusahaan tambang memberikan dividen besar tapi harga saham fluktuatif. Bank memberikan dividen kecil tapi harga saham konsisten terus bertumbuh secara jangka panjang.
  • Saham Big Caps dan Second Liner / Small Caps. Contoh: Saham big caps seperti BCA atau BRI pergerakan harga saham tidak terlalu fluktuatif. Sehingga potensi profit dari saham big caps juga tidak terlalu besar. Tetapi jika pasar pulih maka saham ini yang akan naik paling cepat. Saham second liner / small caps adalah saham yang fluktuatif sehingga potensi penurunan dan kenaikan harga saham juga tinggi.
  • Saham dan Emas. Contoh: ketika ekonomi baik maka saham akan menghasilkan return yang baik, ketika ekonomi buruk maka emas akan menghasilkan return yang baik. Tapi untuk investasi emas nanti saya akan bahas lebih lanjut.

Umumnya seorang investor sudah menentukan porsi pembagian besaran modal didalam diversifikasi saham kita. Contoh misalkan saya membagi diversifikasi saya menjadi saham dividen besar dan saham konsisten bertumbuh. Dengan total modal investasi 100 juta, maka:

  • 40% untuk porsi saham dividen besar yang artinya total investasi 40 juta di kategori saham ini
  • 60% untuk porsi saham dividen besar yang artinya total investasi 60 juta di kategori saham ini
  • Untuk kategori saham besar saya mau berinvestasi di 2 saham, maka saya memiliki anggaran 20 juta di satu saham tersebut

Teknik 1-2-3-5 untuk Average Down di Investasi Saham

Angka 1-2-3-5 jika ditotalkan berjumlah 11.

Artinya jika modal 1 saham anda targetnya adalah 20 jt. Maka :

  • Pembelian pertama adalah 1.8jt (20jt/11)
  • Pembelian kedua adalah 3.6jt (1.8jtx2)
  • Pembelian ketiga adalah 5.4jt (1.8jtx3)
  • Pembelian keempat adalah 10jt (1.8jtx5 bulatkan dengan sisa modal)

Nb: sebenarnya tidak ada sisa modal jika dari awal tidak ada pembulatan kebawah

Kapan jarak pembelian pertama dan kedua dilakukan umumnya setelah mengalami target penurunan untuk average down kita sebagai contoh tiap penurunan 10% dari harga beli kita.

  • Pembelian pertama di harga 1000
  • Pembelian kedua di harga 900 (-10%)
  • Pembelian ketiga di harga 810 (-10%)
  • Pembelian keempat di harga 730 (-10%)

Atau kalau mau lebih aman lagi penurunan 10% dari angka pembelian awal

  • Pembelian perrama di harga 1000
  • Pembelian kedua di harga 900
  • Pembelian ketiga di harga 800
  • Pembelian keempat di harga 700

Tinggal sesuaikan mana yang lebih cocok untuk anda.

Dengan cara seperti ini, jika suatu saat saham kita mengalami penurunan hingga 30% dari harga beli awal maka kita bisa tetap mendapatkan harga rata2 yang bagus.

Jika turun lebih dari itu, itu namanya nasib dan itu sangat mungkin terjadi. Tetapi setidaknya kita sudah semaksimal mungkin mendapatkan harga average down terbaik.

Target minimum profit untuk investasi saham yang harga terus naik

Dalam membeli saham maka kita harus menentukan target kita akan exit dari saham tersebut. Target exit tersebut bisa berupa harga ataupun kondisi.

Misalkan saya membeli saham perusahaan A dengan target buy di harga 1.000. Dan saya memiliki target untuk jual di harga 3.000 (200% profit).

Andaikata saya memiliki rencana holding period 5 tahun dan ingin mendapatkan return 30% per tahun, maka investasi saya minimal harus 150% return.

Jika target jual saya adalah di harga 3.000 artinya harga rata2 pembelian saya tidak boleh diatas 1.200.

Jadi aturan pertama untuk average up adalah anda boleh average up jika membuat harga rata2 pembelian kita masih bisa memenuhi target profit dari sistem investasi yang sudah kita buat.

Dan saya sarankan untuk tidak gegabah menggunakan banyak peluru anda dalam melakukan average up, karena kita tidak pernah tahu kapan saham yang anda incar memberikan promo bagus.

Langkah 5 – Realisasi Profit ala Value Investing

Tujuan investasi saham tentu adalah mendapatkan profit atau keuntungan. Lalu kapan kita perlu perlu melakukan realisasi profit?

Kondisi 1 – Sudah memenuhi target profit

Diatas kita sudah belajar bagaimana menghitung nilai wajar suatu saham. Nilai wajar ini adalah target profit minimum yang akan kita realisasikan. Ada baiknya jika sudah mencapai nilai intrinsik / harga wajar maka kita melepaskan sebagian saham kita untuk realisasi profit kita.

Ketika saham perusahaan kita mencapai nilai intrinsik / harga wajar maka biasanya market menjadi optimis di saham kita. Maka kita akan muncul perasaan rakus untuk mendapatkan profit lebih besar lagi.

- Advertisement -

Tapi apakah benar kita akan mendapatkan profit lebih besar lagi atau justru harga akan berbalik turun. Tidak ada yang bisa mengetahui hal itu. Untuk itu jika sudah mencapai target minimum profit ada baiknya kita menjalankan trailing stop untuk menjaga keuntungan saham kita.

Kondisi 2 – Perubahan kinerja perusahaan menjadi negatif

Perusahaan yang anda beli tadinya memiliki profit bagus berbalik menjadi rugi. Menemukan kasus gagal bayar hutang. Jual saham anda jika ada informasi negatif lainnya yang menunjukan ada masalah serius di perusahaan yang anda beli.

Tapi ingat berita negatif ini haruslah company risk dan bukan market risk. Karena ini cuma masalah waktu sampai perusahaan anda mengalami penurunan harga saham yang besar.

Lebih baik anda realisasi profit selagi anda masih menikmati keuntungan dan realisasi kerugian sebelum kerugian bertambah besar.

Kondisi 3 – Menemukan saham baik yang lebih menarik

Jika di portofolio saham anda saat ini anda memiliki saham yang masih berpotensi naik 20% dan anda menemukan saham yang memiliki potensi naik 100%. Tentu akan menjadi keputusan bijaksana untuk anda memindahkan sebagian dana anda dari saham pertama ke saham kedua. Dry Powder tidak selalu uang kas menganggur di saldo bank anda. Tapi juga termasuk saham yang sudah anda beli.

Kelebihan dan Kekurangan Value Investing

Kelebihan value investing

Berinvestasi menggunakan teknik value investing memiliki beberapa kelebihan yaitu:

  1. Mengetahui dengan baik kondisi perusahaan yang dibeli. Dalam value investing kita diwajibkan untuk melakukan analisa fundamental secara mendalam terhadap persuhaan yang akan dibeli. Dengan melakukan analisa fundamental maka kita mengetahui dengan baik kondisi perusahaan tersebut. Ketika saya masih menjadi trader saya merinding ketika melihat analisa fundamental dari perusahaan yang saya beli.
  2. Mengetahui harga wajar suatu perusahaan. Dalam value investing kita wajib menghitung nilai intrinsik / harga wajar perusahaan. Membeli dibawah harga wajar dengan margin of safety adalah sesuatu yang lebih logis dibandingkan dengan hanya melihat garis support ataupun resistance dari data historis saham.
  3. Memiliki banyak waktu luang. Dalam melakukan metode value investing, kita harus meluangkan banyak waktu ketika di awal perjalanan untuk melakukan analisa fundamental perusahaan. Tapi setelah mendapatkan perusahaan yang mau diincar, maka tugas berikutnya cuma buy dan memonitor tidak ada masalah besar di laporan keuangan yang diterbitkan selanjutnya (tiap 3 bulan). Sedangkan menjadi trader, kita diwajibkan melakukan analisa setiap harinya.
  4. Holding period lebih panjang berarti lebih aman. Market sering bersifat tidak rasional. Dan kita tidak pernah tahu kapan dan berapa lama market bersifat tidak rasional. Tapi secara jangka panjang, maka market biasanya sudah berpikir lebih logis dan menghargai saham sesuai nilai wajarnya.

Kelemahan value investing

Berinvestasi menggunakan teknik value investing memiliki beberapa kelemahan:

  1. Terbiasa melihat floating loss besar. Ketika market tidak rasional sering kali harga saham perusahaan bagus dihargai sangat rendah. Gunakan teknik 1-2-3-5 sebagai solusi permasalahan ini. Dan tidak pernah ada yang salah jika anda memutuskan mau menggunakan trailing stop.
  2. Average return tahunan tidak besar. Saya tidak memasang target tinggi untuk investasi saham saya. Target capital gain saya hanya 100% untuk holding period maksimal 5 tahun. Yang berarti average return 20% / tahun. Bandingkan dengan trader yang bercita – cita mendapatkan return 5% dalam seminggu atau 30-50% dalam 1 tahun. Tidak perlu merasa iri dengan hal itu. Sebagai value investor mendapatkan return 20% untuk modal 10 juta dengan modal 10 miliar menggunakan cara yang sama. Tapi kalau anda seorang trader, anda akan mengetahui bagaimana berbeda jauh memainkan modal kecil dengan modal besar. Average return tidak besar dari modal besar jauh lebih baik daripada average return besar dari modal kecil.

Kesimpulan

Sebagai seorang value investor yang menggunakan teknik value investing kita hanya membeli saham perusahaan bagus dan dijual murah.

Saat ini kita para value investor sudah dimanjakan oleh berbagai software yang memudahkan kita untuk melakukan screening saham sesuai dengan kriteria yang kita terapkan.

Kita perlu mengetahui bagaimana cara menghitung harga wajar / nilai intrinsik suatu saham. Selalu gunakan margin of safety untuk mengurangi resiko dan meningkatn profit investasi kita.

Penting bagi seorang value investor untuk mengetahui timing yang tepat untuk masuk dan keluar dari investasi saham kita. Dan selalu ingat jangan terburu – buru menghabiskan dry powder kita sebagai investor.

Jika anda tidak ingin membuang banyak waktu dalam monitor pasar saham tapi mendapatkan return yang lumayan besar secara konsisten dari modal investasi besar maka value investing adalah teknik yang tepat untuk anda.

 

- Advertisement -

Follow Us:

Support us:

Latest articles

Rekomendasi 7 Buku Saham Wajib Dibaca

Kenapa saya menuliskan rekomendasi buku saham pada postingan kali ini. Pada umumnya sebuah buku dibuat pertama kali oleh pengarangnya ketika sudah berumur rata -...

Hubungan antar aliran ilmu didalam investasi saham

Pasar saham dihuni oleh banyak investor yang menggunakan berbagai aliran ilmu yang berbeda - beda. Ada yang suka dengan value investing, growth investing, analisa...

Bagaimana Menghindari Investasi Bodong (Yield Pigs)?

Dua tahun belakangan ini tampaknya kita sudah bosan mendengar banyaknya kasus investasi bodong yang terkuak di publik satu demi satu. Salah satu pembaca tulisan saya,...

Risk Rate Free of Return & Menentukan Target Return Saham

Risk free rate of return secara teori adalah return investasi yang dihasilkan dari instrumen investasi yang tidak memiliki risiko. Saya pribadi tidak setuju dengan...

Related articles

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here