Belajar Kategori Saham Peter Lynch Dari Kisah Hidup Mike Tyson & Memilih Cerita Yang Tepat Untuk Kategori Saham

adsense

Seperti yang banyak orang tahu, Peter Lynch membagi saham menjadi enak kategori. Sudah banyak yang membahas tentang ini. Jadi saya mencoba menjelaskan dengan cara yang berbeda dan dari sisi yang sedikit berbeda.

Saya akan mencoba untuk menjelaskan kategori saham Peter Lynch dengan menggunakan kisah hidup dari seorang Mike Tyson.

Mike Tyson Muda – Saham Slow Mover

Mike Tyson kecil adalah korban bully teman-temannya. Sehingga karena bosan untuk menerima bully, dia belajar boxing. Setelah cukup mahir dia membalas dendam untuk menghajar orang-orang yang dulu melakukan bullying kepada dia. Setelah itu, Mike Tyson menjadi liar dan selalu terlibat perkelahian jalanan.

Pada umur 13 tahun, dia sudah ditangkap polisi sebanyak 38 kali. Banyak orang yang pasti berpikir Mike Tyson tidak akan memiliki masa depan yang baik. Banyak orang berpikir orang seperti Mike Tyson muda tidak bisa meningkatkan penghasilannya dengan kinerja yang ditunjukannya saat itu.

Ini sama dengan tipe saham pertama dari Peter Lynch, yaitu saham slow mover. Saham slow mover adalah sebuah saham yang tidak bisa membuat pertumbuhan signifikan dari laba yang dihasilkan oleh perusahaan tersebut. Ada 2 hal yang bisa membuat saham menjadi slow mover:

  • Perusahaan tersebut memang perusahaan slow mover dari awal (perusahaan kurang bagus).
  • Perusahaan bagus yang akhirnya karena tidak bisa bertumbuh lebih besar lagi dan berubah menjadi slow mover. Sama halnya nanti ketika Mike Tyson sudah menjadi tua, dia tidak bisa bertinju dan popularitas mulai menghilang sehingga tidak bisa menghasilkan uang sebanyak ketika dia masih muda.

Saya mungkin tidak akan menyebutkan contoh perusahaan slow mover yang ada dari awal karena terlalu banyak. Tapi saya akan mencoba memberikan contoh perusahaan slow mover di kategori kedua yang tadinya fast mover dan berubah menjadi slow mover.

Sebagai contoh INTP (Indocement), perusahaan ini merupakan perusahaan yang sangat bagus. EPS 2008 di kisaran 474 dan di 2013 bertumbuh hingga menjadi 1.361. EPS bertumbuh 187% dalam waktu 6 tahun, sungguh pertumbuhan yang luar biasa.

Puncaknya pada tahun 2014 perusahaan ini sempat mencapai penjualan hampir 20 triliun rupiah dengan EPS 1.431. Setelah itu tampaknya perusahaan mulai tidak bisa meneruskan pertumbuhan positifnya dan terus mengalami penurunan EPS, hingga akhirnya di 2019 EPS perusahaan ini menjadi di kisaran 498.

- Advertisement -

Ini adalah sebuah contoh perusahaan fast mover yang akhirnya bisa bertransformasi menjadi slow mover.

Mike Tyson Ketika Masuk Tinju Profesional – Saham Fast Mover

Akhirnya Mike Tyson bertemu dengan Bobby Stewart yang akhirnya memperkenalkan Mike muda dengan Cus D’Amato yang kelak melatih Mike Tyson hingga menjadi juara dunia.

Dibawah tangan dingin Cus D’Amato karir tinju Mike Tyson sungguh cemerlang. Tyson muda memenangkan medali emas pada Junior Olympic Championship di tahun 1981, 1982 dan dia menjadi mulai dikenal dunia ketika membuat KO Hector Mercedez pada tahun 1985 pada profesional debut seorang Mike Tyson.

Setelah itu Mike Tyson menjadi mulai dikenal oleh publik dan menjadi petinju yang terkenal dan mulai mengumpulkan pundi – pundi uang yang banyak. Mike Tyson total mendapatkan uang kisaran 400 juta USD (jika dikurs ke rupiah hari ini sekitar 6 triliun rupiah).

Ini sama dengan kategori saham kedua dari Peter Lynch, yaitu saham fast mover. Sebuah kategori saham dimana perusahaan itu dapat meningkatkan laba perusahaan secara cepat.

Contoh perusahaan fast mover saat ini adalah SIDO, sebuah perusahaan yang belum memiliki market cap yang terlalu besar sehingga masih lebih mudah dalam meningkatkan laba bersih perusahaan. Pada tahun 2018 SIDO memiliki EPS 44,26 dan pada 2019 berhasil menghasilkan EPS 53,85 yang berarti pertumbuhan EPS sekitar 21%.

Mike Tyson Ketika Menjadi Juara Dunia – Saham Stalwarts

Kesuksesan demi kesuksesan membawa Mike Tyson menjadi juara dunia. Mike Tyson mencapai puncak karirnya. Bayaran mahal, sponsor mahal, berbagai tawaran untuk muncul di media dan berbagai kesuksesan lainnya berhasil didapatkan.

Mike Tyson berhasil mengumpulkan pundi – pundi uang yang luar biasa. Tapi di satu sisi secara growth dalam persentase sudah tidak bisa meningkat signifikan setiap tahunnya, karena Mike Tyson sudah mencapai batas kemampuan maksimal untuk menghasilkan pendapatan. Mike Tyson tetap hanya memiliki waktu 24 jam sehari dan berbagai keterbatasan lainnya. Dia sudah berada di puncak dan sulit untuk berkembang lebih besar lagi.

Ini sama dengan tipe saham ketiga dari Peter Lynch, yaitu saham stalwarts. Perusahaan yang sudah terlalu besar akan mengalami tekanan untuk menjadi lebih besar lagi agar harga sahamnya bisa bertumbuh. Tapi seringkali perusahaan itu mengalami kesulitan untuk terus bertumbuh.

Perusahaan apa yang memiliki laba bersih terbesar di IHSG saat ini? Jawabannya tentu adalah BBRI dengan laba bersih sekitar 34 triliun rupiah mengalahkan BBCA yang memiliki laba bersih 28 triliun rupiah di tahun 2019.

Kedua perusahaan tersebut pertumbuhan EPS sekarang tinggal di kisaran 6% (BBRI) -10% (BBCA) pertahun.

Apa yang harus dilakukan BBRI yang sudah jadi bank terbesar BUMN dan BBCA yang sudah jadi bank consumer terbesar di Indonesia untuk bisa menumbuhkan laba bersih 20% pertahun dari laba yang sudah sebesar itu? Sesuatu yang sulit untuk saya bayangkan.

Karier Merosot Mike Tyson – Saham Asset Play

Mike Tyson yang sudah sangat kaya raya mulai kehilangan disiplin dan semakin sulit diatur. Sehingga orang mulai tidak simpatik lagi kepada Mike Tyson. Tapi di satu sisi Mike Tyson tetap menjadi salah satu olahragawan terkaya saat itu walaupun terus hidup berfoya-foya.

Di bursa saham juga ada saham-saham yang hilang popularitas walaupun didalamnya ada sebuah kekayaan aset yang besar. Tetapi karena berita jelek tentang perusahaan tersebut maka perusahaan tersebut jarang dilirik. Ini contoh dari perusahaan dengan kategori saham asset play menurut Peter Lynch.

Tampaknya group indika memang terkenal sebagai group perusahaan yang banyak perusahaan mereka termasuk dalam kategori aset play. sebagai contoh:

  • INDY dimana market cap sekitar 5 triliun tapi memiliki uang setara kas sebanyak 9 triliun

NB: Walaupun kelanjutan dari kisah mike tyson ini berikutnya menjadi tragis tapi bukan berarti penulis bermaksud menjelaskan bahwa saham dengan kategori asset play akan berakhir tragis. Banyak perusahaan dengan kategori asset play ini yang memiliki kinerja yang baik.

Mike Tyson Bangkit Dari Kehancuran – Saham Turnarounds

Mike Tyson berakhir bangkrut, petinju yang pernah menghasilkan uang lebih banyak dari market cap INDY ini pada tahun 2003 dinyatakan BANGKRUT.

Bahkan pada tahun 2004, Mike Tyson mau bertanding dengan Danny Williams seorang petinju tidak terkenal dan berakhir kalah. Karir tinju Tyson benar-benar tamat pada tahun 2005 setelah frustasi kalah dari Kevin McBride seorang petinju lain yang tidak terkenal.

Setelah kebangkrutan dan kehancuran karir yang dialaminya, Tyson mulai meniti karir diluar tinju. Memanfaatkan popularitas yang dimilikinya dia meniti karir di dunia entertainment. Pernah membintangi film hangover, bintang tamu WWE, Animasi Mike Tyson Mysteries, Podcast Hotboxin’, IpMan. Sekarang dia juga menjadi pebisnis di bidang rumput-rumputan yang memiliki aroma yang disenangi banyak pecandu.

Walau masih jauh dibawah masa kejayaan dia, Mike Tyson berhasil bangkit dan memiliki ekonomi yang stabil kembali.

- Advertisement -

Di IHSG banyak perusahaan yang sempat mengalami penurunan dari kinerja keuangannya bahkan merugi dan berhasil berbalik menjadi untung kembali. Ini yang disebut dengan kategori saham turnarounds menurut Peter Lynch.

Untuk contoh saham dengan kategori ini saya tidak terlalu berani memberikan contohnya. Karena perusahaan dengan kategori turnaround bisa memberikan profit yang besar tetapi risiko yang besar juga. Sehingga saya coba memberikan contoh perusahaan yang menurut saya ada potensi turnaround tanpa menyebutkan kodenya. Karena perusahaan ini dimiliki oleh management yang ditakuti oleh banyak investor saham. Tapi perusahaan ini bisa mengubah EPS negatif menjadi positif (walau masih kecil).

Contoh saham turnarounds
Contoh saham turnarounds

NB: Sekali lagi penulis mengingatkan investasi di saham turnarounds bisa memberikan profit yang tinggi dan juga risiko yang tinggi. Penulis tidak memberikan rekomendasi apapun untuk membeli saham turnarounds yang datanya ditunjukan. Ini semata untuk tujuan edukasi.

Mike Tyson Menjadi Entertainer – Saham Cyclical

Setelah berhenti menjadi petinju, Mike Tyson mencoba masuk kedalam dunia hiburan memanfaatkan popularitas nama Mike Tyson. Ketika nama tersebut masih bisa dikenal banyak orang maka masih bisa menghasilkan banyak uang tetapi ketika popularitas mulai hilang maka kemampuan menghasilkan uang tersebut juga menghilang.

Di saham juga ada saham yang kemampuan labanya ditentukan dari kondisi harga komoditas ataupun permintaan yang seasonal. Ini adalah contoh perusahaan cyclical.

Baca juga: Belajar Lebih Dalam Tentang Saham Cyclical

Contoh saham cyclical tentu perusahaan tambang seperti ITMG, PTBA, ADRO dan banyak lagi.

Pentingnya Sebuah Cerita Dalam Berinvestasi Pada Suatu Saham

Peter Lynch didalam buku One Up of Wall Street mengingatkan pembacanya untuk mengecek cerita dari saham yang mau diinvestasikan. Jika anda seorang yang melakukan aktifitas penjualan di kerjaan anda tentu mengetahui seberapa pentingnya membuat sebuah story untuk bisa menjual produk kita (terutama untuk B2B).

Dalam investasi saham tentu kita ingin melihat harga saham kita naik setelah kita beli. Untuk harga saham tersebut bisa naik maka harus ada sebuah cerita yang bisa dimakan oleh orang yang mau membeli saham kita lebih mahal dari harga pembelian kita.

Cerita itu contohnya:

  • Walaupun TBLA memiliki hutang besar tapi TBLA memiliki nilai fixed asset lebih besar 2T dibandingkan market cap nya. Cerita ini akan membuat orang tertarik untuk investor yang suka membeli saham kategori asset play
  • SIDO memiliki brand tolak angin yang begitu digemari dan perusahaan itu masih bisa bertumbuh 20% laba bersihnya. Cerita ini akan membuat orang tertarik untuk investor yang suka membeli saham fast grower.
  • BBRI laba bersih lebih besar dari BBCA tapi market cap lebih rendah dari BBCA. BBRI ini perusahaan yang menghasilkan laba bersih paling besar di IHSG. Cerita ini akan membuat orang tertarik untuk investor yang suka membeli saham stalwarts.
  • ITMG rutin bagi dividen dengan dividen yield minimal 10%. Cerita ini membuat orang tertarik untuk investor yang suka membeli saham slow movers (biasanya pengincar dividen besar).
  • MDKA investasi bagus karena dunia lagi resesi, emas akan naik terus. Cerita ini membuat orang tertarik untuk investor yang suka membeli saham cyclical.
  • BUMI presiden direkturnya baru meraih penghargaan, GCG nya berarti membaik kalau dari link https://industri.kontan.co.id/news/presiden-direktur-bumi-resources-bumi-raih-penghargaan . Cerita ini mungkin membuat orang tertarik untuk investor yang menyukai saham turnarounds (risiko tanggung sendiri ya, saya tidak rekomendasi apa-apa).

Untuk Apa Kita mengelompokan Saham Kita Dan Mengetahui Cerita Apa Yang Dijual Dari Saham Tersebut

Baik trader ataupun investor sebenarnya sama saja, mereka berdua mencari saham yang ceritanya bisa dijual walaupun mereka tidak sadar.

Trader memiliki cerita yang menarik dalam bentuk tarikan garis support, resistance, volume dan berbagai pola indicator yang meyakinkan mereka investasi mereka akan untung.

Investor memiliki cerita yang menarik dalam bentuk data-data keuangan yang mereka analisa dan membuat mereka merasa yakin bahwa mereka menemukan harta karun terpendam dari laporan keuangan yang mereka analisa.

Jadi kedua aliran ini sama-sama penjual cerita, tapi bentuk ceritanya saja yang berbeda. Sekarang apa hubungan antara kategori saham dari Peter Lynch ini dengan cerita yang menjual ini?

Beda kategori saham maka akan memiliki cerita yang berbeda. Mari saya berikan beberapa contoh:

  • BBRI merupakan perusahaan yang menghasilkan keuntungan paling besar di IHSG dalam nilai rupiah. Sahamnya naik 30% dalam setahun, maka investor yang bijak akan menjual saham tersebut. Karena perusahaan dengan kategori stalwarts meningkatkan laba 30% setahun tampaknya tidak masuk akal.
  • MDKA perusahaan tambang emas yang lagi digemari, harga sahamnya sudah naik 100% lebih. Dunia masih yakin ekonomi melambat maka harga emas akan naik, maka MDKA masih punya cerita untuk naik tidak peduli sudah naik berapa ratus persen juga nantinya. Tapi jika dunia sudah yakin ekonomi membaik dan harga emas turun maka MDKA sudah tidak memiliki cerita untuk bisa naik lebih tinggi dan harga saham akan jatuh.
  • ITMG atau ADMF perusahaan yang terkenal bagi dividen besar, tiba-tiba mendadak mengumumkan tidak membagi dividen karena mau melakukan ekspansi maka kedua perusahaan tersebut sudah tidak memiliki cerita untuk naik. Karena umumnya investor yang berinvestasi di kedua saham ini karena dividen rutin dan besar dari kedua emiten ini.
  • SIDO dalam beberapa tahun terakhir MISALKAN pertumbuhan laba bersih menurun. Maka para investornya akan merasa bahwa SIDO bukan perusahaan fast mover lagi dan mereka mungkin akan mulai meninggalkan dan mencari perusahaan fast mover lain.
  • Sebuah perusahaan yang punya nilai aset begitu besar, ternyata setelah diselidiki lebih lanjut 75% asetnya terdiri dari stock barang dan piutang sulit tagih. Maka ini menjadi akhir cerita dari penyuka perusahaan asset play.

Kesimpulan

Baik sebagai trader ataupun investor berpengalaman maka tentu mengetahui alasan dibalik pembelian saham tersebut. Alasan tersebut bisa benar dan tentu saja bisa salah. Tapi di setiap saham tentu para investor ini memiliki cerita tersendiri ketika membelinya. Bahkan jika mereka beli karena dapat rekomendasi dari group premium maka itu adalah cerita dibalik pembeliannya walau tidak tahu saham seperti apa yang mereka beli.

Mengetahui apa kategori saham yang kita beli akan membuat kita lebih jernih untuk memilih cerita apa yang cocok untuk kita pilih. Mari kita melihat contoh pemilihan cerita yang tidak relevan dengan kategori saham yang dibeli:

Murah Itu Relatif, Mahal Itu Mutlak

Jangan membeli perusahaan fast movers dengan cerita valuasi murah, karena perusahaan fast movers tidak akan dihargai valuasi murah. Tapi ya kalau beli perusahaan dengan PER terlalu besar juga bukan hal bijak. Ingat satu prinsip cantik itu relatif tapi jelek itu mutlak. Begitu juga dengan saham, murah itu relatif tapi mahal itu mutlak. Untuk lebih jelasnya, kalau anda beli perusahaan dan balik modal 40 tahun kemudian, apakah anda membelinya mahal atau murah? Saya yakin jawaban anda mahal.

Tapi jika anda membeli perusahaan dan balik modal 15 tahun, apakah mahal atau murah? Tergantung besar uang yang didapatkan, jika invest 100 triliun dan balik modal 15 tahun kemudian, dan di tahun ke 16 dan berikutnya bisa kasih laba 15 triliun pertahun maka masih ada yang bilang itu murah.

Berbicara ROE untuk Perusahaan Asset Play

Jangan membeli saham asset play dengan alasan perusahaan ini kinerja keuangannya akan bagus. WIIM ketika market cap 150M dan punya cash 300M dengan total hutang cuma 58M itu contoh perusahaan asset play ketika maret 2020 kemarin. ROE perusahaan ini tetap tidak menjadi 20% seperti perusahaan fast movers. Perusahaan ini masih cuma punya ROE 2% tapi harga sahamnya sudah naik 400% dengan sedikit bantuan peningkatan laba.

Dua contoh diatas adalah bagaimana contoh kita memilih cerita yang tepat untuk saham yang kita pilih. Karena banyak pelaku pasar saham yang menggunakan kacamata kuda untuk hanya melihat dari perspektif dia sendiri dan menganggap perspektif orang lain salah. Padahal cerita yang dia pilih tidak sesuai dengan kategori saham yang dipilih, bahkan mungkin tidak tahu kategori saham apa yang lagi dibicarakan.

Mengetahui kategori saham, juga membantu kita untuk identifikasi sebenarnya saham kita lagi di kategori yang mana. Karena seperti halnya Mike Tyson, suatu saham juga bisa mengalami transformasi kategori saham. Dari yang sebelumnya Fast Mover menjadi Stalwarts lalu menjadi Slow Movers.

Berbicara Asset Play Untuk Perusahaan Cyclical

Salah satu perusahaan asset play yang banyak dibahas adalah HRUM yang merupakan perusahaan dalam kategori cyclical. Sejujurnya saya awal tahun ini sempat tertarik untuk membeli emiten ini tapi endingnya saya ga jadi beli dan tetap membeli ITMG.

Banyak orang menyamakan kisah HRUM saat ini dengan HRUM di tahun 2016 yang saat itu terkenal juga sebagai kesuksesan investasi di perusahaan asset play. Mari kita lihat fakta menarik:

  • HRUM januari 2016 di harga terendah 585 dan harga tertinggi di januari 2018 di harga 3590 (kenaikan 513%)
  • ITMG januari 2016 di harga terendah 4.690 dan harga tertinggi di februari 2018 di harga 32.200 (kenaikan 586%)
  • PTBA januari 2016 di harga terendah 830 dan harga tertinggi di November 2018 di harga 5.025 (kenaikan 505%)
  • Bahkan BUMI januari 2016 di harga terendah 50 dan harga tertinggi di januari 2017 di harga 520 (kenaikan 940%)

Ketika saatnya tiba, saham cyclical akan naik ketika harga komoditasnya melonjak tinggi tidak terlalu peduli dengan asset play seperti apa. Tapi asset play ini memang membuat HRUM merupakan perusahaan yang defensif ketika penurunan harga saham terjadi. Kita bisa lihat di bulan maret 2020 hanya jatuh ke 1.065 dan closing di 1.320. Dimana harga februari 2020 closing pada 1.175. (+12%)

Bandingkan dengan ITMG yang closing di februari 2020 di 11.300, turun ke harga terendah di maret 2020 di harga 5.650 dan closing di maret 2020 di harga 8.100. (-39%)

Bandingkan dengan PTBA yang merupakan perusahaan tambang paling efektif, closing di februari 2020 di 2.240, turun ke harga terendah di maret 2020 di harga 1.385 dan closing di maret 2020 di harga 2.180. (-2%)

Perusahaan dengan kategori asset play seperti HRUM memang lebih tahan banting karena secara kasat mata saja kita bisa melihat begitu besarnya saldo cash dan kecilnya hutang perusahaan ini. Banyak gratisan di perusahaan ini, tetapi ketika nanti harga coal melonjak orang tidak peduli dengan asset play di perusahaan cyclical lagi. Bahkan perusahaan GCG yang kurang baik malah bisa memiliki kenaikan yang luar biasa besar karena bisa jadi orang lupa bahwa perusahaan itu GCG nya kurang baik ketika lonjakan harga komoditas itu terjadi.

 

- Advertisement -

Follow Us:

Support us:

Latest articles

Tips Terbaik Investasi – Baru Beli Sudah Untung

"Tips investasi terbaik tersebut dirangkum dalam satu kalimat sederhana yaitu "Baru beli sudah untung" Sang pembicara mengajarkan bahwa banyak orang yang sulit membedakan antara investasi...

Rangkuman Belajar Value Investing Untuk Investor Saham Pemula

Cukup banyak pertanyaan yang masuk tentang bagaimana cara melakukan analisa laporan keuangan. Sebenarnya ini adalah topik paling awal yang saya tulis. Tetapi karena tanpa...

Tips Belajar Saham Bagi Investor Pemula – Kaitkan Dengan Uang

Pada tulisan kali ini saya ingin menulis secara ringan aja untuk sharing tips bagaimana investor pemula bisa belajar saham dengan lebih cepat. Saya harus bilang...

3 Kesalahan Yang Menyebabkan Terkena Value Trap

Ada satu pertanyaan yang menarik ke saya, yaitu bagaimana menghindari value trap? Melihat pertanyaan value trap artinya orang yang mengajukan pertanyaan ini sudah mengerti...

Related articles

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here