in

LoveLove

Apa itu supercycle Commodities

Apa itu supercycle commodities (oil n coal)
Apa itu supercycle commodities (oil n coal)

Situasi covid-19 kemarin membuat banyak efek yang terjadi pada perekonomian global. Salah satu yang terdampak adalah permintaan yang menurun drastis karena situasi lockdown. Hal itu membuat kita menyaksikan betapa pesimisnya market hingga harga oil sempat diatas -20 USD saat itu. Anda tidak salah membaca, harga oil tahun lalu sempat minus. Hal itu terjadi, karena begitu tidak adanya orang yang mau membeli oil sehingga membuat beban biaya penyimpanan yang tinggi. Anda beli maka membuat mereka bebas dari biaya penyimpanan, sehingga mereka “rela” membayar anda untuk membeli oil tersebut.

Seiring waktu, situasi membaik dengan rajinnya pemerintah seluruh dunia memberikan berbagai stimulus untuk menggerakan roda perekonomian. Hingga kita mencapai titik ini, market berbalik arah, bursa mengalami koreksi kencang, semua orang merasa menjadi expert didalam dunia saham.

Salah satu hal yang menarik, pada tahun 2021 ini mulai muncul keyword supercycle di sektor komoditas sejak JP Morgan memiliki tulisan yang membahas akan adanya potensi tersebut.

Jadi pada tulisan kali ini, kita akan membahas apa itu supercycle di sektor komoditas.

Apa Itu Supercycle Commodities?

Supercycle adalah sebuah fenomena terjadinya kenaikan harga komoditas dalam jangka panjang.

Historical Supercycle Commodities
Historical Supercycle Commodities

Sejarah mencatat kita sudah mengalami 4x supercycle, yaitu:

  • supercycle pertama pada tahun 1899 hingga 1932 (33 tahun)
    • Fase kenaikan pertama pada tahun 1904 hingga tahun 1907.
    • Setelah itu mengalami trend penurunan hingga pada tahun 1914, komoditas kembali mencapai puncak pada sekitar tahun 1916. Setelah itu harga komoditas mengalami penurunan hingga tahun 1932.
  • supercycle kedua pada tahun 1933 hingga 1961 (29 tahun). Komoditas mulai membaik sejak 1933 hingga mengalami puncak harga pada tahun 1947. Setelah itu harga komoditas terus mengalami penurunan hingga tahun 1961.
  • supercycle ketiga pada tahun 1962 hingga 1995 (29 tahun). Komoditas mulai membaik sejak 1962 hingga mengalami puncak harga pada tahun 1978. Setelah itu harga komoditas terus mengalami penurunan hingga tahun 1995.
  • Supercycle keempat pada tahun 1996 hingga saat ini (diatas 20 tahun). Komoditas mulai membaik sejak tahun 1996 dan mencapai puncak pada tahun 2011 hingga terus menurun hingga tahun 2020.

Trend peningkatan harga komoditas yang terus menguat signifikan membuat banyak diskusi apakah ini adalah akhir dari supercycle keempat dan memasuki tahap supercycle commodities kelima?

Faktor Penyebab Supercyle Commodities?

Karena topiknya adalah supercycle untuk commodities maka tentu saja faktor yang mempengaruhi terjadinya adalah yang berkaitan dengan pergerakan harga komoditas. Yaitu:

  • Harga komoditas yang sudah terlalu murah.
  • Permintaan / kebutuhan komoditas yang terlalu tinggi.
  • Faktor external yang mempengaruhi sentimen harga komoditas.

Mari kita bahas faktor-faktor tersebut secara lebih mendalam dan melihat apakah saat ini memang ada relevansi kearah sana atau tidak.

Harga Komoditas Yang Terlalu Murah

Jika melihat penjelasan saya tentang supercycle diatas selalu dimulai pada penurunan harga komoditas yang terlalu dalam hingga harga komoditas dianggap terlalu murah. Jadi apakah harga komoditas sudah pernah dianggap terlalu murah?

Tahun 2020 lalu kita melihat bagaimana harga oil sempat dijual -37usd dan harga coal sempat dijual 49 usd. Jadi mungkin saja memang benar 2020 kemarin ketika wabah covid-19 melanda membuat harga komoditas dihargai terlalu murah.

Kalau sampai anda membeli sesuatu dan anda malah dibayar, saya rasa itu sudah terlalu murah bukan. Saya cukup beruntung menyaksikan bagaimana kegilaan market bahwa harga oil pernah dijual minus. Hal yang pasti akan dikenang sejarah.

Permintaan Komoditas Yang Terlalu Tinggi

Salah satu indikator yang saya rasa menarik untuk melihat apakah kebutuhan komoditas sedang tinggi atau tidak adalah BDIY Index (Baltic Exchange Dry Index).

Untuk lebih mudah mengerti apa itu BDIY index, ini adalah sebuah indeks yang menggambarkan naik/turun ongkos transport untuk pengiriman raw material terutama komoditas.

Sehingga ketika BDIY index naik, artinya ongkos angkut kapal transport bertambah mahal dan juga sebaliknya.

BDIY Index Mar 2020
BDIY Index Mar 2020

Banyak investor berfokus melihat seberapa seksinya kenaikan komoditas seperti coal, oil, nikel ataupun CPO. Tetapi sebenarnya tidak ada yang mengalahkan hebatnya kenaikan BDIY.

Coba kita lihat pergerakan harga coal

  • Weekly changes : -3.34%
  • Monthly changes : -2.43%
  • Yearly changes : +23.18%

 

 

Coba kita lihat pergerakan harga oil

  • Weekly changes : +9.04%
  • Monthly changes : +11.03%
  • Yearly changes : +87.33%

Coba kita lihat pergerakan harga nikel

  • Weekly changes : -12.56%
  • Monthly changes : -11.06%
  • Yearly chanes : +29.13%

Coba kita lihat  pergerakan harga CPO

  • Weekly changes : +7.8%
  • Monthly changes : +8.19%
  • Yearly changes : +67.64%

Sekarang mari kita lihat pergerakan BDIY

  • Weekly changes : +12.24%
  • Monthly changes : +41.89%
  • Yearly changes : +200.82%

Luar biasa sekali kenaikan dari BDIY indeks ini. Tampaknya dari hal ini kita bisa melihat bagaimana tingginya permintaan untuk pengiriman melalui angkutan laut ini. Mari kita kesampingkan bahwa China berusaha menahan import dilakukan oleh negerinya melalui stimulus ajaib yang mereka berikan kepada perusahaan kapal-kapalan mereka. China memberikan stimulus untuk perusahaan freight yang tidak membawa angkutan masuk ke China dari negara lain.

Energi Baru Terbarukan Tidak Datang Dengan Sendirinya

Saat ini kita market dipenuhi euforia EV (Electric Vehicle), bagaimana kita melihat tingginya nickel naik sebelum bulan ini. Bagaimana orang begitu mengidolakan apa saja perusahaan yang ada produk nickel. Hingga pada akhirnya Elon Musk lebih menyukai aroma kari india dibandingkan kari Indonesia. Hingga Elon Musk mencoba berpikir apakah bisa menggunakan bahan baku selain nikel untuk battery listriknya.

Tetapi satu sisi, impian mobil listrik seperti yang kita lihat di film doraemon ketika mereka berjelajah ke masa depan memang akan terjadi. Dunia akan bergerak kepada energi terbarukan.

Untuk membangun alat bantu energi terbarukan baik itu mobil listrik, battery mobil listrik atau apapun membutuhkan proses produksi. Sayangnya proses produksi barang – barang listrik tersebut setahu saya belum menggunakan energi terbarukan. Mereka masih menggunakan mesin yang digerakan oleh listrik ataupun bahan bakar. Listrik dihasilkan dari beberapa sumber energi, tentu saja paling banyak prosesnya membutuhkan bahan bakar seperti batu bara dan minyak.

Sebuah trend untuk membangun energi terbarukan yang serba baru ini. Sebuah mimpi yang akan membangun produk energi terbarukan ini tentu saja membutuhkan energi lama untuk digunakan. Artinya semakin tinggi kapasitas produk terbarukan ini dibuat maka semakin tinggi juga kebutuhan untuk penggunaan bahan bakar tidak ramah lingkugan ini.

Saya pribadi yakin dunia akan menggunakan energi terbarukan ini, tetapi saya tidak mau lebih optimis dibandingkan orang – orang pintar dari consulting kelas dunia yang memprediksi energi terbarukan baru mulai bisa berjalan stabil mulai di tahun 2030. Artinya masih ada waktu 9 tahun untuk mencapai kestabilan tersebut. Sebelum itu, tentu saja kita masih akan menggunakan sumber energi ramah yang kurang ramah lingkungan itu.

Baca juga : Gold Coal Ratio

Faktor External Yang Mempengaruhi Sentimen Harga Komoditas

Faktor external lain yang mempengaruhi pergerakan harga komoditas ada dua:

  • Pelemahan mata uang USD
  • Faktor politik

Apakah USD Melemah?

Mayorita harga komoditas menggunakan acuan mata uang USD untuk melakukan transaksi. Jika harga USD melemah maka akan semakin banyak orang membeli komoditas yang artinya meningkatnya permintaan. Begitu juga sebaliknya, jika USD menguat maka harga komoditas menjadi mahal sehingga akan menekan permintaan.

Semakin meningkatnya permintaan dengan kapasitas yang terbatas maka akan membuat lonjakan untuk harga komoditas dan begitu juga sebaliknya.

Pada tahun 2020 menjadi tahun yang luar biasa, hampir kebanyakan investor mendengar topik lama yang sudah jarang dibahas, yaitu QE (Quantitative Easing). Suatu kebijakan mencetak uang berapapun yang dibutuhkan. Uang tersebut dibelikan sebagai obligasi ataupun mendukung likuiditas pasar modal.

Uang dari obligasi digunakan untuk pemerintah bisa memberikan kredit ke masyarakat, insentif bantuan sosial ataupun membangun proyek yang bisa membangun lapangan pekerjaan.

Kebijaksanaan “berhati mulia” yang membantu agar roda perekonomian bisa terus berputar ini memiliki satu dampak yaitu melemahnya mata uang negara tersebut. Sekarang kita sudah tidak berbicara tentang cetak uang puluhan atau ratusan miliar usd. Saat ini kita sedang berbicara cetak uang triliunan usd. Sebuah angka yang bombastis. Sebuah angka yang harus dibayar dengan pelemahan mata uang USD.

Kondisi Politik Global

Saya mungkin tidak mau membahas topik ini terlalu dalam, karena takutnya malah jadi pembicaraan teori konspirasi. Saya pribadi juga bukan ahli politik apalagi ahli militer yang pantas membahas hal ini sebenarnya.

Pada siklus kenaikan terakhir, tahun 2006 ada uji coba misil oleh Korea Utara, Konflik Israel dengan Lebanon, ketakutan dunia akan rencana nuklir negara Iran.

Berita-berita tersebut “membuat” harga komoditas meningkat sangat tinggi hingga pada 2008 membuat terjadinya krisis global yang juga “bertepatan” dengan subprime mortgage.

Pada tahun 2007, harga oil meningkat 3x lipat dari 50 dollar menjadi 147 dollar di tahun 2008.

Pada januari 2008, harga oil pertama kali menembus 100USD, hingga pada July 2008 oil mencapai puncak di 147USD.

Saat ini, kita juga melihat berbagai berita politik yang “erat” kaitan dengan harga minyak dunia. Seperti:

Kesimpulan Supercycle Commodities

Ketika siklus supercycle commodities terakhir yang mulai dari tahun 1996:

  • Harga oil dari 33USD turun menjadi 17USD di tahun 1998. Setelah itu menyentuh angka 60USD pada tahun 2004.
  • Dari tahun 2004, harga oil meningkat secara meyakinkan hingga pada tahun 2008 mencapai puncak harga tertingginya di 137.86USD.
  • 2004 bisa jadi sesuatu yang mirip dengan situasi tahun ini dan memakan waktu hingga 4 tahun hingga harga oil mencapai puncak.
  • Mengacu pada sejarah 4 supercycle commodities yang pernah terjadi, mereka membutuhkan waktu hingga 15 tahun untuk mencapai puncak ke harga tertinggi dan satu siklus supercycle mencapai diatas 25 tahun. Apakah tahun 2020 menjadi titik awal era supercycle ke 5?
  • Jika mengacu pengertian supercycle membutuhkan waktu kenaikan jangka panjang hingga puluhan tahun saya agak ragu. Tapi kalau mengacu pada trend kenaikan untuk 3-4 tahun mendatang saya pribadi berpandangan ya itu akan terjadi. Jadi saya tidak tahu apakah ini era supercycle atau hanya era momentum kenaikan jangka menengah saja.
  • Tetapi apapun sebutan istilahnya, saya berpandangan bahwa sektor komoditas adalah sektor yang seksi saat ini, mungkin hingga 3-4 tahun mendatang. Sebuah siklus yang sayang untuk dilewatkan. Hingga detik ini, saya berusaha mencari sesuatu logika bahwa analisa saya bahwa ini memang adalah momen uptrend untuk harga komoditas adalah salah. Tetapi saya masih belum ketemu sebuah alasan logis yang bisa membuat logika saya berubah pikiran bahwa ini memang era uptrend untuk harga komoditas.
  • Kalau begitu harga komoditas akan terus naik donk? Namanya trend naik bukan artinya harga komoditas tidak bisa turun. Tetap bisa turun untuk jangka pendek, tetapi saya yakin harga komoditas masih bisa membaik dibandingkan harga hari ini. Itulah yang saya maksud dengan uptrend. Seperti yang kita tahu saya buat tulisan untuk investor bukan untuk trader yang berorientasi jangka pendek.

Sekian tulisan saya untuk menjawab pertanyaan beberapa teman yang bertanya tanggapan saya tentang supercycle di sektor komoditas. Tentu saja disclaimer on, karena saya tentu saja bisa salah. Walaupun saya pribadi cukup yakin ini benar.

Follow me on:

What do you think?

Written by Thowilz

Saya adalah seorang value investor yang memiliki passion untuk mengajarkan teknik value investing kepada investor lainnya. Anda dapat membaca tulisan saya di stockbit (@thowilz), instagram, dan social media investorsaham.id lainnya.

Comments

Leave a Reply

32 Pings & Trackbacks

  1. Pingback:

  2. Pingback:

  3. Pingback:

  4. Pingback:

  5. Pingback:

  6. Pingback:

  7. Pingback:

  8. Pingback:

  9. Pingback:

  10. Pingback:

  11. Pingback:

  12. Pingback:

  13. Pingback:

  14. Pingback:

  15. Pingback:

  16. Pingback:

  17. Pingback:

  18. Pingback:

  19. Pingback:

  20. Pingback:

  21. Pingback:

  22. Pingback:

  23. Pingback:

  24. Pingback:

  25. Pingback:

  26. Pingback:

  27. Pingback:

  28. Pingback:

  29. Pingback:

  30. Pingback:

  31. Pingback:

  32. Pingback:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

0