in

LoveLove OMGOMG CuteCute LOLLOL

Peningkatan Inflasioner Pasar Saham

Peningkatan Inflasioner terhadap harga saham
Peningkatan Inflasioner terhadap harga saham

Pada tulisan berjudul tiga faktor yang mempengaruhi harga saham, saya menjelaskan tiga hal yang mempengaruhi naik/turun harga suatu saham:

  • Pertumbuhan riil (kenaikan laba dan dividen perusahaan)
  • Pertumbuhan inflasioner
  • Pertumbuhan/penurunan spekulatif

Pada tulisan – tulisan terkait hidden gem series, anda sudah menyaksikan bagaimana sebuah perusahaan dengan kinerja yang baik dan bertumbuh akan diberikan apresiasi oleh market berupa peningkatan harga sahamnya.

Kinerja perusahaan yang bagus dan valuasi yang masuk akal selalu menjadi alasan yang tepat bagi market untuk memberikan apresiasi peningkatan harga saham.

Tapi pada tulisan kali ini, saya akan membahas faktor kedua, yaitu pertumbuhan inflasioner. Kenapa saya membahas pertumbuhan inflasioner? Karena dari pandangan saya pribadi, ini adalah peluang berikutnya yang dapat kita manfaatkan setelah commodity supercycle yang sudah dibahas sebelum banyak orang yang bahas.

Investor yang bijak adalah investor yang memahami trend apa yang akan terjadi kedepan hari, bukan berdasarkan ramalan tetapi berdasarkan data dan fakta yang ada. Kita menjadi optimis ketika orang lain pesimis. Sehingga dapat mempersiapkan ransum yang cukup ketika harga yang ditawarkan bagus. Lalu berpesta ketika market optimis.

Kenapa Kita Akan Menghadapi Inflasi?

Untuk lebih mudah memahami apa itu inflasi, kalau dulu pas SD bawa uang 10.000 rupiah ke supermarket saya merasa bisa membeli apapun disana. Chitato ukuran kecil dulu hanya seharga 325 rupiah. Ukuran besar hanya sekitar 875 rupiah. Kenapa saya ingat? Karena dengan keterbatasan uang jajan ketika masih kecil, saya harus terbiasa hitung apakah uang saya cukup untuk bayar di kasir. Bayangkan berapa banyak chitato yang saya bisa dapatkan ketika saya masih SD. Sekarang uang 10.000 itu mungkin cuma bisa dapat 1 bungkus chitato ukuran sedang di Indomaret.

Uang kita semakin melemah daya belinya seiring peningkatan harga produk yang kita konsumsi. Itulah inflasi.

Salah satu hal jelek dari supercycle commodities adalah kita akan kembali menghadapi inflasi. Coal dan oil masih menjadi dua sumber energi utama di dunia. Kenaikan harga 2 sumber energi utama ini yang lebih dari 2x lipat di tahun ini tentu mendorong peningkatan biaya listrik dan ongkos angkut. Dua elemen vital dalam biaya produksi ataupun penjualan perusahaan.

Sedangkan pada satu sisi, terjadinya recovery permintaan dari yang sebelumnya buruk karena COVID-19 di tahun 2020 lalu menjadi luar biasa bagus di tahun 2021 membuat semuanya bertambah runyam. Permintaan banyak tapi supply ya cuma segitu – segitu saja.

Permintaan yang banyak membuat dunia kekurangan kontainer sehingga terjadinya peningkatan ongkos angkut yang luar biasa tinggi. Seperti yang sudah dijelaskan di tulisan commodity supercycle itu ketika membahas BDIY index yang naik tinggi di awal tahun ini.

Permintaan tinggi dengan supply terbatas tentu membuat terjadinya peningkatan komoditas sumber energi seperti oil dan coal.

Peningkatan coal sebagai sumber energi listrik utama saat ini, membuat harga listrik melonjak. So far mesin produksi masih pakai listrik, maka kenaikan ongkos listrik akan membebani ongkos produksi.

Belum lagi kenaikan harga oil yang juga menjadi sumber energi dan bahan bakar transportasi. membuat semuanya bertambah mahal.

Ongkos produksi tambah mahal, ongkos angkut tambah mahal dan kita sama-sama tahu produksi bahan baku bukan business model dengan margin besar. Sehingga kenaikan ini mau tidak mau membuat mereka harus menaikan harga jualan bahan baku.

Salah satu komponen biaya terbesar untuk membuat barang jadi yang kita nikmati di market tentu saja adalah bahan baku. Kenaikan harga bahan baku tentu artinya menggerus laba perusahaan yang memproduksi barang jadi.

Pertanyaannya adalah : Apakah perusahaan rela laba tergerus terus? Bagaimana produsen yang tidak punya kekuatan brand dan net profit margin mini, bukankah mereka akan rugi nantinya? Jika bahan baku terus meningkat harganya, sampai kapan mereka akan tetap mempertahankan harganya?

Selamat datang di era inflasi.

Inflasi sudah terjadi tanpa kita sadari

Satu bulan yang lalu ketika nongkrong dengan beberapa teman investor lainnya. Ada seorang teman yang merupakan praktisi di consumer goods. Dia membawa sebuah biskuit dengan merek terkenal.

Dia bertanya, apakah kami melihat adanya perbedaan di biskuit itu? Kita menjawab tidak ada yang berbeda. Lalu dia suru hitung ada berapa biskuit dalam satu kemasan itu. Kita hitung ternyata ada 13 biskuit didalamnya.

Dia menjelaskan sebelumnya, 1 kemasan biskuit itu berisikan 14 biskuit didalamnya. Saking stressnya perusahaan consumer goods terkait kenaikan harga bahan baku tapi tidak bisa menaikan harga jual, maka mereka membuat ilusi yang tidak terlihat mata. Jumlah pieces dikurangi dan ukuran produk dikecilkan tanpa customer mungkin sadar.

Situasi covid-19 memang membuat pusing banyak orang. Duit berputar kencang tapi hanya bisa dinikmati kaum menengah keatas. Pertanyaan simpelnya, berapa banyak dari anda pembaca tulisan ini yang bisa memperbesar alokasi dana anda untuk ditabung/diinvestasikan?

Tapi jika anda ojek online, penjual kaki lima mungkin akan mengalami perbedaan nasib ketika situasi PPKM yang benar-benar membuat mereka kesulitan. Kaum menengah keatas justru uang bertambah banyak tapi kaum yang lebih bawah mengalami pengurangan pendapatan. Daya beli mereka melemah. Sedangkan kaum yang lebih bawah ini justru mencerminkan mayoritas jumlah penduduk kita. Ketika kalian memiliki tambah banyak uang bukan artinya jumlah beras atau ayam goreng yang kalian makan bertambah bukan. Melemahnya daya beli kaum bawah membuat penurunan daya beli masyarakat. Penurunan daya beli masyarakat membuat perusahaan tidak berani menaikkan harga barang.

Menunggu siapa yang menembak duluan

Point kedua kenapa perusahaan sulit menaikan harga jual karena saling menunggu aksi para kompetitor di market. Gambarannya seperti ini (ini cuma sekedar ilustrasi dan tidak mencerminkan data sebenarnya) misal harga indomie goreng satu bungkus 2.800 dan harga mie sedap satu bungkus 2.400. Maka mie sedap yang sasar market lebih ekonomis dari Indomie akan mengalami kesulitan untuk menaikan harga jual jika Indomie tidak meningkatkan harga jualnya. Misalkan saja indomie tetap jual di harga 2.800 dan Mie sedap meningkatkan harga jadi 2.800 maka pelanggan mie sedap akan berpindah membeli Indomie.

Hal ini menjadi dilematis bagi mie sedap, jika tidak menaikan harga laba akan terus tergerus. Tapi jika ningkatin harga tapi kompetitor tidak meningkatkan harga maka market share yang akan tergerus.

Tetapi jika Indomie sebagai market leader sudah meningkatkan harga, maka yang lain akan meningkatkan harga juga.

Beberapa minggu lalu, ketika saya mau membeli kecap manis di sebuah supermarket. Saya cukup kaget. Saya cukup yakin sebulan lalu ketika saya membeli kecap manis brand itu dengan ukuran yang sama, harganya tidak sampai 20.000. Tiba – tiba harga melejit menjadi 24.000. Kenaikan dalam persentase harga yang cukup tinggi. Memang kecap manis yang saya beli itu merupakan market leader dengan harga yang paling premium dibandingkan kompetitornya.

Saya berani bertaruh, tidak lama lagi para kompetitornya akan mengalami kenaikan harga jual juga mengikuti sang market leader. Yap, tidak lama lagi anda harus menaikan uang belanja istri dan uang jajan anak anda. Para market leader sudah mulai menaikkan harga jual, tinggal masalah waktu semua perusahaan menaikan harga jual.

Melihat efek kenaikan harga bahan baku di laporan keuangan

Kode PerusahaanCOGS Q3 2020COGS Q3 2021
UNVR46.9%50.8%
HMSP80.5%84.3%
PBID77.2%83.2%
KLBF54.1%57.2%
JPFA83.5%93.1%
MYOR70.6%77.8%
Perbandingan COGS Q3 2020 dan Q3 2020 beberapa emiten IHSG

Jika anda lihat tabel diatas maka anda akan melihat adanya trend peningkatan COGS di beberapa perusahaan. Saya cukup salut dengan wonderful company seperti SIDO dan ULTJ yang bisa mempertahankan COGS tetap di situasi seperti ini.

Mari kita ambil sample HMSP, yang mungkin kalian akan protes kalau saya bilang kenaikan COGS karena kenaikan harga baku. Kenaikan HMSP ini bukankah karena kenaikan cukai? Tentu saja cukai sangat berpengaruh terhadap kenaikan cogs HMSP. Tapi didalamnya juga ada kenaikan elemen biaya lain.

https://market.bisnis.com/read/20211027/192/1458941/hmsp-diperkirakan-raup-pendapatan-rp245-triliun-pada-kuartal-iii2021

Jika mengacu pada tulisan dari bisnis.com. Q3 2021 HMSP berhasil menjual 20.8 miliar batang rokok, ini berarti kenaikan sebesar 5% volume penjualan dibandingkan volume penjualan HMSP di Q3 2020 sebesar 19.9 miliar batang.

Beban penjualan HMSP Q3 2021

Mari kita bandingkan peningkatan beberapa biaya yang cukup menonjol di tahun ini

Perbandingan kenaikan biaya HMSP

Tentu saja kenaikan pita cukai memang berefek terhadap kenaikan COGS HMSP. Tapi jika kita lihat kenaikan terbesar secara persentase ada di kenaikan overhead.

Overhead adalah biaya tidak langsung, didalamnya ada biaya gaji tidak langsung (bukan operator produksi), biaya listrik, dll. Kenaikan 5% volume penjualan membuat kenaikan overhead lebih dari 3x.

Perbandingan penjualan HMSP

Walaupun HMSP bukan perusahaan komoditas, jadi memang kurang bijak untuk menghitung ASP 1 batang rokok. Tapi dengan segala keterbatasan data. Mari kita lihat perbandingan harga jual HMSP tahun 2021 dengan 2020.

Perbandingan data penjualan HMSP Q3 2021 vs Q3 2020

Peningkatan volume penjualan HMSP sebesar 5% hanya berimpact terhadap peningkatan harga jual HMSP 7%. Artinya HMSP belum melakukan peningkatan harga yang signifikan. Peningkatan elemen biaya yang lumayan tinggi tetapi belum meningkatnya harga jual maka akan menggerus gross profit perusahaan.

Tidak ada pesta yang tidak akan berakhir

By the way, saya tidak lagi mengkritik atau bilang HMSP jelek ya. Saya menggunakan contoh HMSP lebih karena kalian pasti kritis bahwa HMSP kenaikan COGS lebih karena cukai yang naiknya sesuka hati itu.

Saya rasa semua perusahaan apapun, akan mengalami peningkatan COGS cepat atau lambat. Kenaikan harga komoditas yang walaupun coal turun 50% dibanding ATH, tetaplah lebih dari 2x lipat harga tahun lalu. Coba lihat betapa indahnya pendapatan SMDR atau perusahaan shipping lainnya yang luar biasa sekali. Siapa yang bayar ongkos angkut mahal itu? Perusahaan-perusahaan yang COGS meningkat ini tentu saja.

Kenaikan komoditas tidak bisa berlangsung selamanya, saat ini memang krisis energi benar-benar terjadi. Permainan cantik Rusia layaknya grandmaster catur didalam permainan pasokan gas membuat hal ini bertambah parah. Tetapi jika semua masalah mendesak kebutuhan komoditas ini terselesaikan, ketika musim dingin sudah berakhir dan kebutuhan pasokan berkurang tentu dunia global akan mengambil sikap tidak mau hal ini terulang terjadi lagi. Mereka akan menyadari pelajaran mahal dari terlalu percaya diri dengan EBT yang buat mereka malah jadi BT.

Perkapalan tidak bisa selalu pesta. Manusia dari jaman kapanpun selalu sama, ada rasa fear dan greed. Peluang bisnis yang bagus ini membuat perusahaan kapal pesan kapal lebih banyak untuk bisa ambil market yang lagi begitu besar saat ini. Akhirnya bangun kapal bareng-bareng dan nanti kapalnya jadi bareng-bareng. Tiba-tiba mendadak supply lebih banyak dari demand.

Hanya akan menjadi masalah waktu saja, biaya besar ini akan turun nantinya. Tidak ada siklus yang tidak berakhir. Itu kenapa perusahaan komoditas dan kapal disebut sebagai perusahaan cyclical. Pesta ini tidak bisa tidak berakhir. Saya tidak tahu kapan akhir pesta ini, tapi saya cukup pesimis jika bisa berlangsung hingga awal tahun 2023 terutama untuk perkapalan yang jadwal kapal baru akan bermunculan di kisaran periode itu. Untuk perusahaan coal dan oil akan jauh lebih kompleks karena melibatkan politik international. Saat ini tentu saja kita masih menikmati pesta dan akan masuk ke tarian utama dari pesta itu untuk kedua sektor yang saya sebutkan. Tapi ingat, tidak ada pesta yang tidak akan berakhir.

Tidak ada badai yang tidak akan berakhir

Tekanan peningkatan cogs ini hanya bisa dijawab dengan satu cara, yaitu peningkatan harga jual. Itu yang akan menyebabkan kenapa saya yakin sekali kita akan masuk ke era inflasi tidak lama lagi.

Hal yang menarik dari inflasi ini ada 2 hal:

  • Orang ingin menghabiskan saldo uang di bank yang akan tergerus inflasi
  • Sudah naik lupa turun

Mari kita bahas lebih lanjut tentang dua hal ini

Orang ingin menghabiskan saldo uang di bank yang akan tergerus inflasi

Hal yang paling menakutkan dari inflasi adalah melemahnya daya beli uang kita. Ketika inflasi terjadi umumnya mata uang kita justru akan melemah. Maka saat ini banyak orang yang sudah mulai berpikir sebaiknya uangnya dikemanain. Itu kenapa sektor properti rumah tapak kembali menggeliat. Kaum menengah atas yang saldo rekening lagi menggemuk mulai berpikir uangnya diinvestasikan kemana ketika inflasi itu terjadi. Apalagi dengan kondisi suku bunga kredit bank yang lagi rendah. Membuat sektor properti rumah tapak lagi laku.

Salah satu instrumen investasi lainnya yang tentu nanti akan diincar adalah saham. Kenapa saham? mari kita masuk kepada pembahasan berikutnya.

Sudah naik lupa turun

Sekarang mari anda bayangkan anda adalah pengusaha. Kenaikan harga bahan baku tentu wajar membuat anda menaikkan harga jual. Permasalahannya tinggal apakah market akan menerima kenaikan harga jual anda atau tidak.

Market akan maklum ketika melihat harga bahan baku semua naik plus nanti beberapa bulan lagi akan dibumbui berbagai data inflasi. Walau saya bukan peramal, saya cukup yakin inflasi akan sering menjadi headline berita tahun depan. Maka market akan maklum terhadap kenaikan harga jual.

Sekarang pertanyaannya, ketika harga sudah naik dan sudah diterima oleh market. Lalu harga komoditas normal dan ongkos angkut normal logikanya dua biaya itu akan berkurang dan cost perusahaan sebenarnya akan berkurang. Apakah perusahaan nantinya akan berbaik hati menurunkan harga jualnya kembali? Saya cukup yakin jawabannya TIDAK. Mereka mungkin hanya akan tambah rajin memberikan promosi yang dapat meningkatkan volume penjualan mereka lagi. Ini yang saya sebut sudah naik lupa turun. Hal ini tidak hanya terjadi dalam kancah politik tapi juga dalam dunia bisnis.

Harga jual naik dan ongkos malah turun bukankah hal ini akan terdengar indah di kuping para investor?

Investasi itu mudah, anda sendiri yang buat menjadi sulit

Tapi bukankah market tidak suka berita model inflasi begini. Ketika nanti benar tahun depan berita inflasi keluar maka market akan koreksi donk? Saya 100% setuju dengan hal tersebut. Pertanyaan saya berikutnya SO WHAT?

Jika ada sebuah perusahaan bagus dihukum harga sahamnya karena peningkatan COGS ini yang memang relevan dengan penurunan kinerja perusahaannya maka itu wajar SELAMA semua kompetitornya mengalami hal yang sama. Kalau cuma dia sendiri yang cost naik tapi kompetitor tetap saja or malah turun maka itu baru tidak wajar.

Saya suka sekali dengan quote dari Tan Chong Koay seorang Fund Manager Malaysia.

Many investors do not want to buy during a declining market because they do not like to buy and temporarily underperform even though the market is grossly undervalued.

Tan Chong Koay

Banyak investor takut membeli saham yang harganya turun karena mereka takut untuk sementara waktu underperform. Banyak investor yang ingin ketika beli sebuah saham tiap hari harganya naik tanpa pernah turun. Akan lebih indah ketika turun mereka jual, dan ketika mau naik mereka beli lagi. Hal yang terlihat simpel seperti halnya sesimpel pengen lihat David Beckham cetak goal dari tengah lapangan pada setiap pertandingan.

Investor yang logis tentu paham tidak ada seorang pun di market yang benar-benar bisa mengetahui apa yang akan terjadi esok hari. Market terlalu besar. Selalu ada yang lebih besar dari pemain yang besar. Sebagai gambaran saja, BBCA yang kita anggap bluechip mungkin bagi fund manager luar ini dianggap sebagai small caps.

BBCA hanyalah sebuah perusahaan dengan market cap tidak sampai 1.000 T yang artinya tidak sampai 3% dari market cap AAPL yang diatas 35.000 T. Bayangkan betapa banyak monster dengan dana luar biasa diluar dana yang bisa masuk kedalam market mana saja. Berapa banyak market maker yang mau guyur turunin malah barangnya dicolong oleh ritel dana jumbo. Berapa banyak market maker yang mau naikin malah tau – tau diguyur konsorsium dengan banyak nominee yang tidak terdeteksi yang guyur terus menerus tanpa henti.

Ketika anda merasa bahwa anda bisa menebak cara kerja market maker sungguhlah konyol. Bahkan belum lama ini kita menyaksikan sendiri banyak orang jenius memprediksi sebuah saham dibuang market maker hanya berdasarkan data insiders. Bukannya turun harga sahamnya malah naik. Loh kok bisa? Bahkan sang jenius pun tidak paham bagaimana cara berjualan saham ratusan miliar tapi merasa cukup pintar untuk mengetahui isi kepala market maker.

Ketika anda terlalu banyak berpikir atau menguasai terlalu banyak ilmu tapi isinya cetek semua hal ini membuat anda justru tidak memiliki pendirian dan framework yang kuat dalam berinvestasi. Bukannya jadi investor tapi malah jadi tukang judi berkedok investor. Menjadi investor yang naik dikit jual, turun dikit galau.

Investor yang tidak memiliki framework investasi yang benar dan kokoh akan seringkali membuat keputusan konyol karena mereka berpikir terlalu jenius mengetahui kapan titik tertinggi dan terendah sebuah saham. Membuat mereka menjual di “titik tertinggi” dan ditinggal terbang. Membuat kalap mata untuk menebar fear agar berharap harga saham jatuh dan bisa serok murah lagi.

Sungguh konyol jika ada yang beranggapan sebuah harga saham bisa digerakan oleh sebuah tulisan ataupun komentar dari kaum biasa. Berbeda halnya jika anda golongan net worth (orang super tajir). Kalau anda adalah Jeff Besoz dan mengeluarkan pernyataan, besok anda mau akuisisi saham X maka market akan memberikan reaksi. Tapi jika anda hanyalah orang biasa, komentar anda tidak akan berimpact apapun.

Satu nasihat terbaik yang pernah saya dapatkan dari seorang teman ketika saya minta diajarkan bagaimana cara market maker berkerja. Nasihatnya cuma satu, kembali berikan pertanyaan itu ketika dana kamu sudah bisa untuk menggerakkan market. Jika belum maka lupakan semua hal itu. Karena hal itu akan merusak framework kamu sebagai investor yang kamu rasa sudah cukup padahal masih mentah.

Tetapi namanya orang penasaran, tidak diajarkan ya jadi tambah ingin mencari tahu sendiri donk. Dengan segala kejeniusan yang saya miliki untuk belajar hal tersebut membuat saya meraih prestasi kehilangan uang karena hasil riset jenius saya.

Investasi itu sebenarnya mudah. Beli perusahaan bagus pada harga yang bagus lalu berikan waktu yang cukup maka kamu akan kalahkan market. Siapapun tokoh influencer mau yang dia bilang dana kelolaan dia 3T ataupun yang volume transaksi 1 minggu benaran diatas 3T akan jawab hal yang sama. Jika mau mengalahkan market dengan mudah itu simple, beli perusahaan bagus di harga yang bagus dan simpan jangka panjang. Anda tidak perlu terjebak dalam drama harus lepas saham bagus di harga bawah ketika market koreksi dan nasabah minta tarik uang.

Performance YTD Value Investing

Warna biru adalah kinerja IHSG, warna merah adalah kinerja portofolio value investor. Ini perbandingan return selama YTD 2021 hingga tulisan ini dibuat. Ini kinerja portofolio secara keseuluruhan dan bukan perbandingan kinerja dari satu saham saja. Bahkan saya cukup yakin, mayoritas pembaca tulisan ini tau saham-saham apa saja yang dimaksud.

Tidak ada sihir apapun, beli perusahaan bagus dan murah lalu berikan waktu yang cukup selalu terbukti dapat mengalahkan market dalam jangka panjang.

Investasi itu tidak sulit, keinginan anda yang selalu berharap harga saham selalu bergerak sesuai keinginan anda dalam jangka pendek yang menjadikan itu semua sulit

THOWILZ

Kita akan memasuki era kenaikan inflasioner yang akan membuat bursa saham akan mengalami rally jangka panjang. Tentu dalam perjalanan akan ada pergejolakan dengan berbagai berita kenaikan suku bunga, kenaikan inflasi dan berita jelek lainnya akan membuat market terkoreksi. Tetapi tidak ada market yang bisa naik terus menerus tanpa adanya koreksi.

Menemukan perusahaan bagus yang terhukum hingga harga saham terdepresi akan menjadi peluang yang menarik. Selain sektor komoditas yang masih berpesta, sektor otomotif, property dan sektor yang didukung subsidi harga gas seperti kaca-kacaan memang menarik.

Tapi saya pribadi lebih menyukai saham growth stock dibandingkan cyclical untuk momen kenaikan inflasioner ini. Mungkin ini akan jadi momen saham LQ45 selain tambang batu bara akan masuk kedalam portofolio saya. Sahamnya apa? saya juga masih lirik – lirik beberapa saham yang mau dilamar jadi penghuni baru porto saya. Tetapi perusahaan yang masih konsisten bisa meningkatkan volume penjualan, brand yang bagus untuk menaikkan harga jual, balance sheet yang sehat dan dijual pada valuasi yang cakep adalah kriteria pencarian saham saya berikutnya. Saya tidak masalah dengan peningkatan COGS besar yang nantinya akan teratasi dengan sendirinya oleh sang waktu.

Happy hunting.

Follow me on:

What do you think?

Written by Thowilz

Saya adalah seorang value investor yang memiliki passion untuk mengajarkan teknik value investing kepada investor lainnya. Anda dapat membaca tulisan saya di stockbit (@thowilz), instagram, dan social media investorsaham.id lainnya.

Comments

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

0