Teknik Dividend Hunter dalam Investasi Saham – Part 1

Apa itu Dividend Hunter?

Dividend hunter adalah istilah yang identik untuk investor yang suka mencari saham karena tertarik atas dividen yang dihasilkan oleh emiten tersebut.

Perusahaan yang tidak rutin membagikan dividend belum tentu menjadikan perusahaan itu sebagai perusahaan dengan kualitas yang baik. Tetapi perusahaan yang memiliki kualitas yang baik umumnya selalu berusaha membagikan dividend walaupun kondisi ekonomi sedang sulit.

Dividend hunter pada umumnya adalah seorang aliran growth investor. Landasan utama mereka dalam mencari perusahaan adalah konsistensi perusahaan tersebut dalam menghasilkan peningkatan sales dan laba yang konsisten. Ini menjadi hal yang berbeda dengan value investor yang mencari perusahaan yang salah harga.

Bukankah keuntungan dividend itu kecil? Perusahaan yang membagi dividend besar saja umumnya cuma bagi dividen kisaran 10%, apa menariknya berinvestasi karena alasan dividend?

Jika pertanyaan diatas ada terbesit di kepala anda maka saya memberikan sebuah fakta yang menarik untuk hal ini. Jika anda membaca tulisan saya tentang belajar investasi saham dari game clash of clans maka anda akan mendapatkan data BBRI pada januari 2008 memiliki harga saham 625 dan bahkan sempat turun ke 336 rupiah.

Baca juga : Tips Menghasilkan Return Saham Lebih Besar dan Lebih Cepat Dari Game Cash of Clans

Dividend BBRI tahun 2008 cuma bernilai 16.92 rupiah. Jika anda membeli di harga 625 maka itu merupakan dividend yield senilai 2.7%. jika anda mendapatkan BBRI ketika itu di harga 336 itu merupakan dividend yield 5%. Tidak terlihat terlalu menarik bukan?

Pada tahun 2020 ini BBRI menghasilkan dividend 168 rupiah perlembar saham. Jika anda membeli di harga 625 maka itu merupakan dividend yield senilai 26.8%. Jika anda membeli di harga 336 ini senilai 50%. Apakah mulai terdengar menarik?

- Advertisement -

Dividend yield seniilai 50% pertahun dari investment awal dengan peningkatan  harga saham >1000% dalam waktu 12  tahun investasi sungguh bukan hal yang buruk. Itulah indahnya kesuksesan seorang growth investor.

Beda Alasan Beli Beda Alasan Jual

Jadi harus dimengerti terlebih dahulu apakah alasan kita dalam membeli saham. Jika alasannya karena saham ini salah harga maka jual saham tersebut jika perusahaan ini sudah dirasa terlalu mahal. Jika sebagai growth investor membeli karena alasan growth perusahaan yang baik maka juallah perusahaan ini jika growthnya sudah menghadapi penurunan. Jika anda membeli perusahaan tersebut karena dividend yield perusahaan tersebut besar, maka jual jika anda melihat ada risiko penurunan dividend yield di masa depan.

Mana yang lebih baik apakah aliran value investor atau growth investor? Kembali kepada karakter masing – masing. Tidak semua orang cocok menjadi value investor yang cukup nekat untuk membeli perusahaan ketika orang lain pesimis. Tidak semua orang cocok menjadi growth investor yang harus memiliki kesabaran dan rasa percaya diri yang tinggi bahwa investasinya akan berbuah bagus di jangka panjang.

Jadi menurut saya dua gaya investasi ini adalah baik selama yang menjalankan teknik tersebut konsisten. Jangan menjadi value investor yang membeli perusahaan salah harga dengan asumsi yakin perusahaan ini akan menjadi the next BCA. Karena seperti curhatan Peter Lynch yang biasanya dianggap market akan menjadi “the next” biasanya adalah investasi yang gagal. Jangan menjadi growth investor yang terpancing menjual ketika sudah untung mendapatkan puluhan persen dengan alasan harganya sudah “kemahalan”. Beda alasan beli maka beda alasan dalam menjual saham kita.

Langkah Memilih Saham Untuk Dividend Hunter

Agar lebih mudah untuk dipahami dan diikuti maka saya akan merangkum langkah untuk memilih saham bagi dividen hunter dalam 4 langkah saja.

Langkah 1 – Pilihlah Saham Yang Memiliki Dividend Growth Konsisten dan Baik

Jika dividend perusahaan pada tahun 2018 adalah 100 dan pada tahun 2019 adalah 110 maka dividend growth perusahaan tersebut adalah 10%.

Saya akan ambil studi kasus SIDO yang sudah banyak orang tahu bahwa ini adalah salah satu saham favorit para growth investor.

Analisa Dividen SIDO - Sido Muncul
Analisa Dividen SIDO – Sido Muncul

Jika melihat gambar terlampir, maka kita bisa melihat beberapa hal menarik terkait dividend dari SIDO (Sido Muncul) ini, yaitu:

  • SIDO selalu melakukan pembagian dividend dalam 6 tahun terakhir tanpa terputus sama sekali. Jika anda adalah seorang dividend hunter maka tentu anda haruslah mencari perusahaan yang konsisten membagi dividend walaupun di saat sulit sekalipun.
  • Average dividend growth SIDO 18% pertahun, tentu merupakan hal yang sangat baik. Umumnya para dividend hunter sudah bahagia jika mendapatkan perusahaan dengan dividend growth 10%.
  • Average Dividend Growth 3 tahun terakhir SIDO ada di 37% sedangkan average dividend growth 6 tahun terakhir SIDO ada di 18%. Jika kita melakukan pembagian average dividend growth 3 tahun (periode lebih singkat) dengan average dividend growth 6 tahun (periode lebih panjang) maka kita menemukan perbandingan 2.06X. Jika perbandingan average dividend growth periode lebih singkat dengan periode lebih panjang diatas 1 maka ini berarti dividend growth perusahaan tersebut sedang mengalami trend peningkatan. Itu merupakan hal yang baik untuk para dividend hunter, tetapi jika dibawah 1 maka itu merupakan warning yang harus diperhatikan.

Jadi sebagai rangkuman untuk step pertama, jika anda mau menjadi dividend hunter maka pilihlah saham dengan kriteria awal sebagai berikut:

  • Selalu konsisten membagi dividend tanpa terputus, lebih baik jika minimal 10 tahun terakhir.
  • Average dividend growth minimal 10% dalam 10 tahun terakhir.
  • Perbandingan average dividend growth antara periode lebih singkat dengan periode lebih panjang diatas 1
  • Lebih baik lagi jika dividend yield saat ini diatas 4%, tapi jika tidak sampai 4% selama memenuhi kriteria berikutnya maka tidak menjadi masalah.

Langkah 2 – PERHATIKAN Dividend Payout Ratio!

Saya sampai menuliskan dalam huruf kapital untuk kata PERHATIKAn dan saya menambahkan tanda seru di subjudul langkah kedua ini. Ini menandakan betapa pentingnya langkah kedua ini.

Langkah kedua ini justru banyak orang salah kaprah dan ini akan menjadi sesuatu yang berbahaya bagi para dividend hunter. Untuk lebih mengerti langkah ini mari saya jelaskan logika perusahaan dalam membagi dividend kepada para investornya.

Umumnya perusahaan menghasilkan laba dan membagikan dividend kepada para investornya. Anggap perusahaan XYZ memiliki data sebagai berikut:

  • Laba bersih = 100 miliar rupiah.
  • Total dividend yang dibagikan = 60 miliar rupiah.
  • Ini berarti dividend payout ratio sebesar 60%.
  • Jika perusahaan tersebut memiliki 1 miliar lembar saham, ini berarti tiap lembar saham akan mendapatkan dividen 60 rupiah
  • Jika harga saham tersebut adalah 1000 rupiah ini berarti dividend yield saham tersebut adalah 6%.

Yang saya jadikan bahan diskusi di langkah ini adalah dividend payout ratio dan bukan dividend yield.

Dividend Payout Ratio Terlalu Tinggi = Risiko Lebih Tinggi

Jika perusahaan XYZ tadi memiliki laba bersih 100 M dengan dividend payout ratio 60%. Maka ketika perusahaan tersebut mengalami penurunan laba 10% maka dia masih memiliki cadangan laba untuk mempertahankan besaran dividend yang diberikan kepada investor.

Tetapi jika perusahaan XYZ tadi memiliki laba bersih 100 M dengan dividend payout ratio 100%. Maka ketika perusahaan tersebut mengalami penurunan laba 10% maka sebenarnya dia kesulitan untuk mempertahankan besaran dividend yang diberikan kepada investor. Cara paling sehat adalah menurunkan besaran dividend yang diberikan kepada investor. Tetapi tidak jarang, emiten rela memberikan dividend dengan dividend payout ratio diatas 100% yang sebenarnya dirasa kurang bijak. Hal ini semata untuk “menyenangkan” para investornya. Tetapi apa yang terjadi jika laba bersih perusahaan tersebut menurun atau tidak berkembang? Apakah perusahaan tersebut mau mengurangi asetnya terus menerus? sampai kapan dia bisa bertahan mempertahankan angka yang diberikan dividend tersebut?

Inilah sebaiknya perhatikan angka dividend payout ratio dari perusahaan. Sebaiknya maksimal 75% sehingga emiten tersebut masih bisa punya cadangan untuk mempertahankan besaran dividend yang diberikan walaupun kinerja bisnisnya mengalami penurunan di tahun kedepannya. Percaya saya tida ada yang namanya kinerja perusahaan pasti naik. Perusahaan sama halnya dengan manusia, ada satu titik mereka akan mencapai kondisi dewasa. Ketika sudah menjadi dewasa maka pertumbuhannya tidak bisa secepat sebelumnya.

Dividend Payout Ratio Yang Mana?

Pembaca yang fasih dalam membaca laporan keuangan mungkin akan memandang aneh sub-judul tulisan ini. Ini yang nulis tulisan ini pasti lagi mabuk karena sebentar lagi ga boleh minum minuman alkohol di Indonesia. Pantas penulisnya hilang dari peredaran beberapa minggu ini.

Saya tidak salah tulis dan tidak lagi mabuk ketika menulis sub-judul ini. kalau hilang dari peredaran karena memang load pekerjaan lagi sangat luar biasa, sehingga harus prioritaskan pekerjaan terlebih dahulu saat ini dibandingkan menyalurkan hobi menulis ini.

Seperti yang sudah dijelaskan diatas, Dividend Payout Ratio adalah total nilai dividend dibagi dengan total laba bersih perusahaan. Tetapi rumus dividend payout ratio konvensional ini sebenarnya sering telat dalam memberikan situasi sebenarnya perusahaan tersebut.

Apakah perusahaan yang mengalami kerugian tidak bisa memberikan dividend? jawabannya adalah BISA. Sebagai contoh PALM pada tahun 2018 mengalami kerugian -115M. Tetapi pada tahun 2019 tetap bisa membagikan dividen sebesar 17.6M. Hal ini bisa dilakukan karena walaupun PALM mengalami kerugian di tahun 2018 masih memiliki operating cashflow sebesar 116M dan free cashflow sebesar 36M. Inilah kenapa PALM masih bisa membagikan dividend walaupun mengalami kerugian di tahun tersebut.

- Advertisement -

Sehingga saya  pribadi lebih suka menyarankan untuk membuat perhitungan dividend payout ratio dibandingkan dengan Free Cashflow atau setidaknya operating cashflow dibandingkan dengan net income. Nanti saya akan jelaskan lebih lanjut tentang hal ini.

Jika laba bersih 100M dan total dividend yang dibagikan adalah 10M maka dividen payout ratio berdasarkan net income adalah 10%. Tetapi jika perusahaan itu memiliki free cashflow sebesar 200M maka dividen payout ratio berdasarkan free cashflow adlaah 5%.

Dividend Payout Ratio Berdasarkan Free Cashflow / Operating Cashflow memberikan Peringatan Lebih Cepat

Mari saya berikan anda dua contoh yang sangat menarik untuk melihat perbedaan antara dividend payout ratio berbasiskan laba bersih dengan cashflow.

Contoh 1 – Analisa Dividend Payout Ratio ADHI

Analisa Dividen Payout Ratio - ADHI
Analisa Dividen Payout Ratio – ADHI

Jika kita melihat gambar terlampir, ADHI mengalami trend penurunan dividend. Pada tahun 2014 dividend 67.61 dan sekarang dividend di 18.64 perlembar. Wah ngaco nih mank yang nulis, jelas aja dividen ADHI turun kan 2014 ke 2015 jumlah saham beredar ADHI nambah hampir 2x lipat. Jadi wajar donk kalau dividen ADHI turun. Hal itu memang sangat benar. Tetapi setelah tahun 2015 tampaknya ADHI masih mengalami trend penurunan untuk dividend yang diberikan. Padahal dari tahun 2015 ke 2020 belum ada penambahan jumlah saham beredar untuk ADHI. Jadi boleh donk saya berasumsi ADHI mengalami trend penurunan setelah tahun 2015? Kalau boleh silahkan baca lebih lanjut.

Analisa Dividen Payout Ratio - ADHI
Analisa Dividen Payout Ratio – ADHI

Jika kita melihat berdasarkan dividend payout ratio berdasarkan net income kita tidak akan melihat ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Dividend Payout Ratio ADHI berdasarkan laba bersih dari tahun 2014 hingga 2020 ada di kisaran 10% hingga 30%. Angka ini bahkan jauh dari batas 75% yang kita berikan. Artinya ADHI masih dengan mudah menambahkan besaran dividend jika mau. Tetapi seperti yang kita lihat kenyataannya tidaklah seperti itu.

Jika kita lihat Dividend Payout Ratio berdasarkan Free Cashflow (FCF) maka kita akan mendapatkan pada tahun 2015 kita akan mendapatkan ratio itu bernilai negatif. Karena dividen tentu tidak bernilai negatif maka tentu Free Cashflow ADHI yang mengalami nilai negatif. Jika anda lihat Dividen Payout Ratio berdasarkan Operating Cashflow (CFO) anda juga mendapatkan hasil yang serupa. Jika posisi cashflow from operation ataupun free cashflow bernilai negatif tentu wajar jika besaran dividend yang diberikan juga berkurang bukan?

NB: Saya hanya membahas ADHI dari sisi dividen dan tidak ada pembahasan lebih lanjut apakah perusahaan ini menarik atau tidak menarik untuk investasi.

Contoh 2 – Analisa Dividen Payout Ratio SIDO

Saya akan memberikan contoh yang kebalikan dengan ADHI. Silahkan lihat data SIDO yang sudah saya olah. Datanya sebagai berikut:

Analisa Dividen SIDO - Sido Muncul
Analisa Dividen SIDO – Sido Muncul

Kita bisa melihat bahwa SIDO cukup sukses untuk menumbuhkan nilai dividen yang diberikan kepada investornya.

Analisa DIvidend Payout Ratio - SIDO
Analisa DIvidend Payout Ratio – SIDO

Jika kita melihat gambar diatas, maka kita akan melihat hal yang mengerikan dari ratio dividend payout ratio jika dibandingkan dengan net income (laba bersih) dari SIDO. Dimana dari tahun 2014 hingga sekarang, dividend payout rationya paling kecil adalah 83% dan bahkan diatas 100%. Apakah ini artinya indikasi berbahaya bagi perkembangan dividen SIDO?

Jika melihat dari ratio dividend payout ratio berdasarkan CFO tampaknya tidak menunjukkan hal yang menggembirakan juga.

Tetapi yang menarik adalah jika kita melihat dividend payout ratio berdasarkan FCF maka perusahaan ini sungguh luar biasa. Dengan angka dividen yield tahun ini yang terbilang memuaskan tetapi perusahaan ini hanya menggunakan 9% dari free cashflownya.

Sehingga jika kembali menjawab pertanyaan diatas, apakah ada indikasi berbahaya bagi perkembangan dividend SIDO? saya rasa saya belum melihat hal tersebut.

Hal ini juga yang membuat saya lebih menyukai melihat analisa dividend payout ratio berdasarkan FCF (Free Cash Flow).

Kesimpulan Langkah 2 – Perhatikan Dividend Payout Ratio

Saya ada lakukan pengecekan cukup banyak data untuk data dividend payout ratio. Mencoba membandingkan dividend payout ratio berdasarkan laba bersih, Free Cashflow ataupun Cashflow from Operations. Dari situ saya paling melihat informasi yang paling tepat untuk melihat kesanggupan perusahaan dalam mengembangkan growth untuk dividend yang diberikan kepada kita adalah berdasarkan dividend payout ratio dengan free cashflow.

Sebaiknya pilih perusahaan yang memiliki dividend payout ratio berdasarkan free cashflow maksimal 75% agar kita bisa memiliki keyakinan perusahaan ini masih bisa mengambangkan dividendnya untuk masa mendatang.

Sayangnya dividend payout ratio berdasarkan free cashflow tampaknya bukan rumus resmi, sehingga anda harus melakukan perhitungan secara manual untuk mendapatkan angka tersebut. Tapi jika anda menggunakan aplikasi yang menyediakan data keuangan dengan detail seperti stockbit, saya rasa anda akan dapat menghitung ratio ini dengan sangat mudah.

Ada dua langkah lagi yang ingin saya berikan, tapi tampaknya tanpa sadar sudah terlalu panjang tulisan kali ini. Jadi saya lanjutkan besok sore untuk langkah berikutnya.

Baca juga : Teknik Dividend Hunter dalam Investasi Saham – Part 2

adsense
- Advertisement -

Follow Us:

Support us:

Latest articles

Rekomendasi 7 Buku Saham Wajib Dibaca

Kenapa saya menuliskan rekomendasi buku saham pada postingan kali ini. Pada umumnya sebuah buku dibuat pertama kali oleh pengarangnya ketika sudah berumur rata -...

Hubungan antar aliran ilmu didalam investasi saham

Pasar saham dihuni oleh banyak investor yang menggunakan berbagai aliran ilmu yang berbeda - beda. Ada yang suka dengan value investing, growth investing, analisa...

Bagaimana Menghindari Investasi Bodong (Yield Pigs)?

Dua tahun belakangan ini tampaknya kita sudah bosan mendengar banyaknya kasus investasi bodong yang terkuak di publik satu demi satu. Salah satu pembaca tulisan saya,...

Risk Rate Free of Return & Menentukan Target Return Saham

Risk free rate of return secara teori adalah return investasi yang dihasilkan dari instrumen investasi yang tidak memiliki risiko. Saya pribadi tidak setuju dengan...

Related articles

1 Comment

  1. Mantap sekali penjelasannya Om, ada beberapa poin yang masih belum saya mengerti, hasil presentase dari dividend ratio/FCF dan dividend/CFO kurang jelas pemaparannya, selanjutnya mungkin bisa dijelaskan, Terimakasih 🙂

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here