in

Price to Earning Ratio (PER) Master Class

Pembaca tulisan saya harusnya sudah hafal diluar kepala apa itu Price to Earning Ratio (PER).

Jika anda belum paham apa itu PER silahkan baca tulisan awal saya yang membahas hal tersebut.

Baca juga: Screening Saham ala Value Investor

Seperti konsep awal dari PER dimana PER semakin kecil (asal tidak negatif) artinya perusahaan memiliki valuasi yang murah. Tentu saja karena karena semakin kecil PER artinya semakin cepat kita mendapatkan total laba perusahaan sesuai harga pembelian perusahaan yang kita investasikan.

Tidak ada yang salah dengan hal tersebut tetapi banyak value investor yang terjebak pada konsep PER tersebut. Jadi mari kita belajar tentang Price to Earning Ratio lebih dalam lagi dengan data di market.

1. PER Murah bisa berarti perusahaan murah atau murahan

Banyak value investor pemula selalu beranggapan PER <10 adalah undervalue. Berinvestasi pada perusahaan dengan PER rendah pasti memberikan keuntungan yang bagus.

Positifnya selamat karena setidaknya anda mulai mengerti perihal valuasi perusahaan. Negatifnya hati – hati dengan pemikiran tersebut.

Contoh Fundachart Price to Earning Ratio 5 Tahun
Contoh Fundachart Price to Earning Ratio 5 Tahun

Karena sub judul agak kasar bahasanya, jadi saya sensor nama perusahaannya. Perusahaan ini memiliki PER saat ini senilai 2.41. Sebuah valuasi yang sangat murah bukan? Tetapi mungkin ini hampir PER tertinggi dalam 5 tahun terakhir dari perusahaan ini. Dari 5 tahun terakhir PER tertinggi dari perusahaan ini adalah 2.81.

Jika anda melakukan investasi jangka panjang pada perusahaan ini karena berpikir valuasi perusahaan anda luar biasa murah tampaknya anda akanย  kecewa berat pada akhirnya.

PER murah tidak selalu berarti perusahaan tersebut murah. Dengan PER 2.41 sebenarnya perusahaan ini malah terbilang mahal jika mengacu pada bagaimana market memberikan “harga wajar” pada perusahaan tersebut.

PER rendah bisa membawa anda pada perusahaan murah tetapi bisa juga membawa anda pada perusahaan murahan yang berbahaya untuk investasi anda.

Saran saya, sebelum anda melakukan pembelian saham dan jika alasan pembelian anda karena PER ataupun PBV yang murah maka pastikan apakah itu memang jauh dibawah penilaian “harga wajar” yang biasanya diberikan oleh market selama ini atau tidak.

Itulah kenapa David Dreman sang diva contrarian investing hanya mau membeli perusahaan yang mendapatkan diskon 50% dari PER tertinggi 1 tahun terakhir. Lalu bagaimana cara mendapatkan data historis PER dengan mudah? Silahkan gunakan fitur fundachart di stockbit.

2. Perusahaan Bagus Wajar Memiliki PER Tinggi

Mari kita buka lagi rumus PER yaitu market capitalization dibagi dengan laba bersih perusahaan.

Sebuah perusahaan yang bagus dapat meningkatkan laba perusahaannya dengan luar biasa. Mari kita lihat ULTJ tahun 2009 memiliki laba bersih 61 Miliar dan PER hampir 28X. Itu berarti pada tahun 2009 market capitalization ULTJ sekitar 1.7 Triliun rupiah.

Secara valuasi PER 28X adalah sesuatu yang membuat value investor pemula merinding.

Pada tahun 2019 ULTJ mampu menghasilkan laba menjadi 1 Triliun. Tentu tidak mungkin ULTJ dihargai dengan nilai 1.7 Triliun rupiah lagi atu PER 1.7X dari laba perusahaan tahun 2019. ULTJ memiliki PER 18.8x pada tahun 2019 atau market capitalization senilai 18.8 Triliun rupiah.

Jika kita melewatkan pembelian ULTJ pada tahun 2009 karena PER yang tinggi maka kita akan kelewatan melewatkan multibagger yang luar biasa untuk perusahaan sehat ini.

PER boleh turun tapi harga saham naik luar biasa. Apa yang menjadi alasan market mau membeli ULTJ dengan PER sedemikian tinggi? Alasannya tentu adalah karena ULTJ mampu menghasilkan growth yang sangat baik untuk laba yang dihasilkan perusahaan.

Pada tahun 2019 kemarin ULTJ masih mampu meningkatkan angka penjualan 15% dan meningkatkan laba bersih 46%. Tidak heran banyak investor yang mau membayar dengan PER yang “mahal” itu.

3. Growth Bagus Mengalahkan PER Murah

Ini adalah prinsip dari seorang value investor dan ini rahasia dari pemilihan saham mereka. Mari simak data excel dibawah ini. Anggaplah kita membandingkan dua perusahaan dimana perusahaan A memiliki PER 20x yang berarti laba bersih setahun 5% dari market capitalization perusahaan tersebut. Perusahaan B memiliki PER 5x yang berarti laba bersih setahun 20% dari market capitalization. Jika kita melihat berdasarkan PER, maka tentu perusahaan B jauh lebih menarik dari perusahaan A.

Perusahaan A memiliki growth laba bersih 20% setahun dan perusahaan B memiliki growth laba bersih 5%. Maka kita akan melihat hasil perbandingan kedua perusahaan tersebut di file excel dibawah ini.

PER rendah vs Growth Tinggi
PER rendah vs Growth Tinggi

Jika kita lihat perusahaan yang bisa konsisten menghasilkan growth 20% sudah mengalahkan perusahaan dengan growth 5% walaupun perusahaan B memiliki PER 4x lebih murah dibandingkan perusahaan A. Itulah kehebatan sebuah perusahaan growth.

Itu juga kenapa berinvestasi pada perusahaan growth investing membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menikmati hasilnya. Tetapi jika sudah waktunya, maka mereka merasakan kenikmatan yang luar biasa.

Itu juga kenapa value investor tidak hold sahamnya seumur hidup karena mereka tidak segan membeli perusahaan dengan growth rendah asalkan murah luar biasa. Ketika sudah mendekati nilai wajar dan putar lagi ke perusahaan undervalue lainnya.

[Tweet “Beda Alasan Beli Beda Alasan Jual – Thowilz (Investorsaham.id)”]

4. Perusahaan Bagus + PER Mahal + Growth Rendah = Pertimbangkan Lagi

Fundachart PER HMSP
Fundachart PER HMSP

Tanpa mengurangi rasa hormat pada sang market leader industri rokok. Saya akan selalu bilang HMSP adalah perusahaan yang baik. Perusahaan yang sudah tumbuh dengan luar biasa besar ini dapat terus menumbuhkan angka sales dan laba perusahaan. Buat saya itu adalah hal yang luar biasa. Perusahaan ini juga konsisten menghasilkan ROE yang luar biasa tinggi diatas 35%. Kurang luar biasa apa lagi perusahaan ini.

Perhitungan Growth HMSP menggunakan PER 2018
Perhitungan Growth HMSP menggunakan PER 2018

Tetapi jika anda invest uang anda pada tahun 2018 anda bisa saja membeli perusahaan ini di harga 5.100 dimana saat itu PER di sekitar 45X. PER 45X berarti kita bisa berasumsi mendapatkan laba 2.2% dari harga pembelian perusahaan kita. Perusahaan ini memiliki growth sales 2017 ke 2018 sebesar 7.7% dan growth laba perusahaan sebesar 6.8%.

Memiliki proyeksi growth uang anda akan tumbuh 6% dalam 5 tahun kedepan tentu jauh dari kata menarik. Jauh lebih baik menyimpan uang anda didalam deposito. Tentu wajar jika banyak orang tidak mau membeli HMSP di harga 5.100 saat itu. Sebuah perhitungan yang sangat tidak menarik karena angka growth tidak bisa mengimbangi besarnya PER yang diberikan oleh market.

Sampai sini saja pembahasan saya untuk sang primadona industri rokok, selanjutnya silahkan anda olah data sendiri apakah saat ini HMSP dengan penurunan besar harga sahamnya sudah menjadi menarik atau belum.

Tetapi untuk point edukasi ketika perusahaan bagus sudah dihargai terlalu mahal dan tidak diimbangi growth yang luar biasa lagi maka itu akan menjadi hal yang perlu anda serius pertimbangkan. Perusahaan growth investing anda bisa jadi sudah tidak memiliki karakter saham growth investing lagi karena sudah terlalu besar.

[Tweet “Beda Alasan Beli Beda Alasan Jual – Thowilz (Investorsaham.id)”]

5. Beda Alasan Beli Beda Alasan Jual

Saya menuliskan statement “beda alasan beli beda alasan jual” beberapa kali dalam tulisan ini. Karena ini adalah esensi didalam investasi saham. Perusahaan berbeda memiliki alasan yang berbeda untuk dibeli.

PER hanyalah membantu anda untuk melakukan screening saham. Jangan pernah lakukan keputusan pembelian saham karena semata PER rendah. Anda bisa kecewa karena harus melihat saham anda di harga 50 dan sulit anda lepas di kemudian hari.

Jika anda membeli perusahaan karena PER murah dan menganggap perusahaan itu murah maka pastikan bahwa anda tahu alasan kenapa bisa bilang perusahaan itu murah.

Anda bisa saja membeli MERK di tahun 2018 dengan PER 1.66X tanpa mengetahui laba bersih yang begitu besar karena perusahaan melakukan divestasi usaha. Itu hanyalah laba bersih yang besar sesaat. Anda mungkin menikmati besarnya dividen yang sangat enak tetapi meratapi penurunan harga saham anda di kemudian hari.

Saya selalu suka perusahaan PER rendah yang memiliki aset real yang kaya seperti cash, asset investasi, asset tetap berbentuk property dan berbagai aset nyata lainnya yang mudah liquid dan sulit dimanipulasi didalam laporan keuangan. Jika saya menemukan perusahaan asset play seperti ini bahkan saya rela membayar PER yang sedikit mahal walaupun perusahaan ini memiliki kemampuan menghasilkan laba yang kurang bagus. Karena alasan beli saya adalah saya membeli perusahaan harga X memiliki cash seharga X dan masih mendapatkan bonus fixed asset seharga 5X plus perusahaan masih untung 0.2X. Enak atau enak banget kalau dapat perusahaan seperti itu?

Perusahaan memiliki laba yang sebenarnya bagus tetapi dihukum market karena berita negatif yang tidak berhubungan dengan kinerja perusahaan sehingga dihargai PER rendah maka saya akan ambil karena market tidak rasional menghukum perusahaan tersebut berlandaskan berita yang tidak berkaitan dengan kinerja usahanya.

Saya membeli perusahaan dengan PER (Price to Earning Ratio) termasuk tinggi karena perusahaan tersebut mampu menghasilkan growth luar biasa dengan konsisten.

Sungguh beruntung jika bisa mendapatkan saham growth investing yang juga memiliki valuasi murah ala value investing. Syukurnya kesempatan itu selalu ada didalam market.

Kesimpulan

Jika anda adalah investor yang baru mulai belajar value investing mungkin tulisan ini berbeda dengan buku value investing kebanyakan. Penulis buku hanya bisa menuliskan semuanya didalam satu buah buku tanpa mengetahui siapa pembaca bukunya.

Saya berasumsi anda yang membaca tulisan panjang ini adalah pembaca yang mengikuti tulisan tulisan saya sebelumnya. Setelah satu tahun menulis tentang value investing saya meyakini anda sudah memiliki basic yang lebih baik tentang value investing.

Jadi kali ini saya ingin mencoba meningkatkan pemahaman anda akan realita implementasi value investing di dunia nyatanya. Anda mungkin bingung katanya si A adalah value investor kenapa dia beli saham perusahaan tidak jelas dengan PER 17X. Kenapa si B ngakunya value investor beli saham denganย  PER 22X. Banyak kebingungan yang mungkin anda rasakan ketika melihat beberapa saham pilihan value investor yang sudah berpengalaman.

Ketika harga saham naik serba tinggi karena euforia sektor mining, bank syariah dan sektor farmasi. Market luput melihat perusahaan yang memiliki growth bagus dan masih memiliki valuasi murah.

Selalu ingat alasan pembelian anda. Jangan sampai anda membeli perusahaan PER murah dan berharap laba akan bertumbuh layaknya ULTJ. Anda akan kecewa dengan hal tersebut.

Jangan sampai anda membeli perusahaan growth investing jika PER murah bisa jadi anda akan menyesal karena anda tidak berhenti menunggu sambil melihat perusahaan tersebut dapat terus meningkatkan laba dan harga sahamnya.

Jangan sampai anda membeli perusahaan bluechip yang harganya sudah terdiskon sambil berharap perusahaan ini labanya akan bertumbuh luar biasa dan bisa kembali menjadi growth investing padahal data diatas kertas sudah menunjukan perusahaan ini sudah bukan perusahaan untuk growth investing lagi.

Tulisan ini saya akan tutup dengan statement yang saya ucapkan berulang – ulang pada tulisan kali ini.

[Tweet “Beda Alasan Beli Beda Alasan Jual – Thowilz (Investorsaham.id)”]

 

 

Follow me on:

What do you think?

Written by Thowilz

Saya adalah seorang value investor yang memiliki passion untuk mengajarkan teknik value investing kepada investor lainnya. Anda dapat membaca tulisan saya di stockbit (@thowilz), instagram, dan social media investorsaham.id lainnya.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

0