https://invol.co/aff_m?offer_id=579&aff_id=120964&url=http%3A%2F%2Fwww.dentaldepartures.com&source=campaign

Belajar Investasi Dari John Neff – The Low P/E Investor

Mungkin tidak banyak orang yang mengenal investor bernama John Neff. Padahal dia adalah salah satu investor yang sangat dihormati di Amerika. John Neff melalui perusahaannya Windsor Fund berhasil mengembangkan investasinya dengan average return 13.7% per tahun dari tahun 1964 – 1995.

Kebanyakan orang tidak merasa sesuatu yang memuaskan dengan average return 13.7% pertahun. Tapi jika di periode tahun yang sama, S&P 500 menghasilkan average return hanya sebesar 3.1% pertahun. Maka itu selisih yang sangat besar.

Latar Belakang John Neff

John Neff lahir pada tahun 1931, kedua orang tuanya bercerai ketika dia baru berusia 4 tahun. Dan seperti yang kita tahu 1931 adalah masih dalam suasana the great depression.

Kakek dari pihak ibunya adalah pekerja keras, kerja keras sang kakek yang akhirnya membiayai keluarga John Neff. Banyak entrepreneur dari sisi keluarga ibunya tersebut, termasuk bibi dan pamannya yang membuka toko groceries. Paman dan bibinya adalah sosok yang sangat bijak, mereka selalu menawar murah dan sangat bijaksana dalam menggunakan uangnya. Suatu ketika paman dan bibinya ingin membeli unit usaha lain, sehingga meminjam uang dari nenek John. Hasil usaha dari pembelian unit usaha ini gagal total. John kecil belajar membeli unit usaha karena harganya terlalu murah tidak selalu menjadi keputusan bijaksana.

Di umur 18 tahun, ayah John mencoba membangun kembali hubungan dengannya.  Sang ayah menawarkan John untuk bekerja di perusahaannya yaitu Neff Equipment, sebuah perusahaan distribusi peralatan lubrikasi untuk otomatif dan mesin lainnya.

Perusahaan itu tidak terlihat mewah tapi bisa menghasilkan keuntungan yang begitu bagus. Disini dia belajar bahwa perusahaan yang tidak terlihat sexy ternyata bisa menghasilkan keuntungan yang begitu bagus. Dia melihat bagaimana ayahnya dalam menjalankan bisnis, selalu meminta discount untuk semua barang yang dibelinya.

Strategi Investasi John Neff

Pengalaman masa kecil diatas ini yang akhirnya membentuk cara berinvestasi dari seorang John Neff yang suka membeli saham yang sudah jatuh begitu dalam. Sehingga banyak yang menyebut gaya investasi dia mirip dengan seorang David Dreman yang terkenal dengan gaya contrarian investing. John Neff menolak jika dia disebut sebagai seorang contrarian, dia lebih suka menyebut dirinya Low PE Investor.

Cara dia screening saham awal cukup unik, dia akan ambil koran lalu lihat mana saja saham yang harga saat ini mendekati harga terendah satu tahun terakhir. Lalu dilihat berapa PER perusahaan tersebut, jika masuk kriteria PER rendah dari John Neff maka dia akan proses lebih lanjut. Bagi saya, pendekatan dia memang mirip sekali dengan David Dreman tapi parameter yang digunakan lebih rumit dari David Dreman. Mari kita belajar bagaimana strategi investasi John Neff.

Step 1 – Price to Earning Ratio (PER) Rendah 

- Advertisement -

PER 5 jika market memiliki average price to earning ratio (PER) 5 maka PER 5 tidaklah murah. John Neff selalu membandingkan murah atau tidak dengan harga yang saat ini berlaku di market. Jika PER 20 tapi rata-rata PER market 100 maka itu tetap terhitung murah. Kurang lebih begitu pola pikirnya.

Tapi yang unik adalah dia tidak mau memilih perusahaan yang PER terlalu rendah, karena yang terlalu rendah bisa jadi bukan terlalu murah tapi memang terlalu jelek.

Saya akan berikan contoh dengan simulasi, agar lebih mudah anda mengerti.

Jika anda lihat saat ini IHSG memiliki PER di angka 17.63 jika kita lihat dari fundachart stockbit.

Stockbit Fundachart - IHSG PER
Stockbit Fundachart – IHSG PER

John Neff menerapkan aturan hanya membeli saham yang PER dibawah minimal 40% tapi  maksimal dibawah 60% dari PER market.

Sehingga jika PER IHSG adalah 17,63 maka John Neff akan memilih saham untuk dilirik jika PER 7.05X – 10.58X.

PE Ratio Penurunan >=40% dari average PER market dan <=60% PASS

PE Ratio Penurunan <=40% FAIL

PE Ratio Penurunan >=60% PASS

NB: Bagi penulis membandingkan PER murah atau tidak dengan market PER memang konsep yang menarik dan logis, tapi penulis sendiri tidak merasa kriteria batas penurunan maksimal 60% diperlukan.

Step 2 – EPS Growth Rate Tinggi

Perusahaan yang baik tentu perusahaan yang laba bersih terus meningkat. Sehingga ini kenapa hampir semua investor menyukai parameter EPS Growth untuk memilih saham. Yang menarik, kembali John Neff menerapkan aturan maksimal EPS Growth yang boleh dipilih adalah 20%. Jika lebih dari 20%, dia ragu perusahaan bisa konsisten mempertahankan kinerjanya. John Neff tidak suka perusahaan yang tidak bisa diprediksi konsistensinya.

EPS Growth >=7 & EPS Growth <=20% PASS

EPS Growth <7% FAIL

EPS Growth >20% FAIL

NB: Penulis merasa sedikit tidak setuju dengan EPS growth diatas 20% tidak dipilih, tapi di satu sisi merasa logis juga penjelasannya. Mungkin ini akan jadi data riset berikutnya, apa dampak penurunan EPS growth terhadap pergerakan harga saham. John Neff terkenal orang yang suka lakukan riset, jadi mungkin ada sesuatu data yang dia ketahui untuk hal ini.

Step 3 – Future EPS Growth

EPS growth melihat konsistensi pertumbuhan EPS (earning per share / laba bersih per lembar saham), kita bisa melihat bagaimana kehebatan manajemen perusahaan ini dalam konsistensi menumbuhkan laba perusahaan.

Tapi seberapa baguskah perkiraan bisnis ini untuk kedepannya? Inilah future EPS Growth. John Neff ingin melihat apakah para analis memprediksikan perusahaan ini tetap akan memiliki  pertumbuhan yang baik untuk tahun-tahun mendatang atau tidak. Inilah kenapa John Neff juga memperhatikan pendapat consensus.

Anayst Growth EPS Consensus Estimate

>6% untuk tahun ini & >6% untuk long term PASS

<6% untuk tahun ini & <6% untuk long term FAIL

Step 4 – Sales Growth

- Advertisement -

John Neff berpendapat, syarat perusahaan bisa memiliki laba yang bertumbuh secara konsisten dalam jangka panjang harus diikuti sales yang bertambah. Untuk itu dia mencari perusahaan yang selalu konsisten angka sales juga bertambah.

Pendekatan sales growth ini juga sedikit unik, dimana dia membandingkan dengan EPS growth (step nomor 2). Untuk lebih jelas saya akan berikan ilustrasi:

  • Misalkan perusahaan ABC memiliki EPS Growth 8%.
  • Jika sales growth >=70% dari PES Growth atau sales growth >=7% PASS
    • Artinya jika sales growth 5.6% (70% dari EPS growth 8%) maka PASS
  • Jika perusahaan itu memiliki EPS growth 15%
    • Artinya jika sales growth 8% (dibawah 70% dari 15% –> 10.5%) maka tetap PASS

Step 5 – Total Return / Price to Earning Ratio

Bukan sebuah istilah resmi, ini tampaknya racikan pribadi dari pemikiran John Neff sendiri.

Total Return yang dimaksud adalah penjumlahan dari EPS growth dengan dividen yield. Sehingga jika EPS growth 15% dan total dividen yield tahun ini 5% maka total return adalah 20%.

Total return yang kita dapatkan akan kita bagi dengan PER dari perusahaan tersebut. Anggap PER perusahaan tersebut adalah 5X. Maka 20% kita bagi dengan 5X, akan didapatkan hasil 4.

Angka yang kita dapatkan lalu kita kali 2 maka menjadi 8. Dari angka yang didapatkan maka kita bandingkan dengan PER Market. Jika PER Market <= (total return/PER)x2 maka PASS

Jika PER Market > (total Return/PER)x2 maka FAIL.

Ini indikator yang sangat ketat. Artinya untuk IHSG yang PER 17.63X, maka kita harus menemukan perusahaan yang (total return/PER)x2 minimal 8.82.

Kalau kita mengikuti aturan EPS growth maksimal 20% dan berasumsi kita mendapatkan saham dengan PER 7X artinya saya harus bisa mencari perusahaan yang bisa menghasilkan dividen yield 1%.

Sehingga hasil dari total return/PER x 2 menjadi

total return = 20% + 11% = 31%

PER = 7

Total Return / PER = 4.42, sehingga jika kita kali 2 maka menjadi 8.84. Baru perusahaan ini layak dibeli.

Perusahaan yang memiliki EPS growth 20%, dividen yield 11% dengan PER dibawah 10 bukan sesuatu yang mudah dicari walaupun bisa dicari.

Step 6 – Free Cash Flow

Free cash flow adalah berapa nilai sisa dari cashflow operation (CFO) setelah dikurangi penambahan working capital dan capital expenditure (penambahan fixed asset).

Jika tidak mau terlalu ribet, di bagian financial atau key stats stockbit anda bisa melihatnya.

Free cashflow ini poinnya adalah sisa uang kas operasional yang masih belum tau akan digunakan untuk apa. Kurang lebih gampangnya untuk dimengerti seperti itu.

Free cashflow positif PASS

Free cashflow negatif FAIL

Step 7 – Earning per Share Stabil

Kondisi ideal adalah EPS perusahaan selalu naik jika dibandingkan kinerja tahun lalu.

Q1 tahun ini > Q1 tahun lalu & Q2 tahun ini > Q2 tahun lalu & Q3 tahun ini > Q3 tahun lalu & Q4 tahun ini > Q4 tahun lalu  = PASS

Q1 tahun ini < Q1 tahun lalu & Q2 tahun ini < Q2 tahun lalu & Q3 tahun ini < Q3 tahun lalu & Q4 tahun ini < Q4 tahun lalu  = FAIL

NB: Ini kondisi ideal, tapi selalu ada tahun atau situasi khusus seperti sekarang yang bisa dijadikan pengecualian

Tambahan Dari Penulis

Tidak dimasukan sebagai step by step didalam buku tersebut. Akan tetapi dicatat di bagian terpisah.

  • Beli perusahaan yang mendekati harga terendah satu tahun terakhir, ini juga merupakan salah satu indikator yang saya gunakan jika saya membeli saham perusahaan market cap kecil. Seperti baru-baru ini penulis ada membeli satu saham yang penulis cukup yakin bisa dapat profit singkat, alasannya simpel karena perusahaan biasa-biasa itu ketika penulis beli sangat mendekati harga terendah satu tahun terakhir.
  • Walaupun salah satu komponen paling jadi kunci adalah ratio khusus dia yaitu total return/PER. Dimana seperti yang penulis sampaikan diatas, ini berarti butuh dua komponen penting yaitu perusahaan yang menghasilkan EPS Growth tinggi dan Dividen Yield tinggi. Tapi di satu bagian lain di buku tersebut John Neff bilang bahwa dia juga membeli saham yang tidak membagikan dividen jika dia melihat harga terlalu murah. Bayangkan jika PER IHSG di 10X, artinya kita bisa membeli saham dengan PER 4X kalau di aturan beliau. Sehingga jika EPS growth kita 20% maka kita akan mendapatkan hasil:
    • Total Return = 20%
    • PER = 4X
    • Total Return/PER = 5
    • Total Return/PER X 2 = 10
    • Sehingga memenuhi syarat total return/PER x 2 >= PER market walaupun perusahaan tersebut tidak memiliki dividen.
  • Penulis merasa cara John Neff memilih saham memang sangat konservatif, cocok untuk investor yang memiliki tingkat risiko yang rendah. Asal sabar – sabar nyari saham yang memenuhi syarat diatas.

Baca Juga : Screening Saham Ala Value Investing

 

 

 



- Advertisement -

Follow Us:

Support us:

Latest articles

Perbedaan Normal Order, Automatic Order, GTC dan Order Booking Untuk Rebutan Saham

Kita memiliki berbagai pilihan cara membeil saham, yaitu normal order, automatic order, GTC (good till cancel) dan order booking untuk membeli saham. Banyak investor tahap...

Skill Memilih Transaksi Saham Investor Profesional

Skill memilih transaksi saham adalah sebuah skill yang harus dimiliki oleh setiap investor ataupun trader saham. Didalam investasi saham kita dihadapkan dua kemungkinan yaitu untung...

Belajar Investasi Saham dari Peter Lynch

Jika kamu mempercayakan 10.000 usd kepada Peter Lynch, maka 13 tahun kemudian uang tersebut menjadi 280.000 usd. Gambaran singkat ini mungkin sudah cukup menggambarkan...

Belajar Investasi Dari Warren Buffet

Warren Buffet seorang investor luar biasa hingga dijuluki penyihir dari Omaha. Bahkan dia sempat menjadi orang terkaya di dunia berkat keahliannya dalam berinvestasi. Tampaknya...

Related articles

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here